-->
close
harga batu koral

PHK Massal Bakal Susul Kenaikan Cukai Rokok?

Pekerja linting rokok tradisional
Pekerja linting rokok tradisional

Suarajatim.com - Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi mengatakan ada 3 alasan yang mendasari Pemerintah menaikkan Cukai Rokok cukai rokok sebesar 23 persen pada tahun 2020.

Heru menjelaskan, kebijakan ini bertujuan sebagai pengendalian konsumsi. Pengendalian konsumsi ini menurutnya erat kaitannya dengan kesehatan. Kemudian alasan kedua ialah bertujuan terhadap keberlangsungan industri rokok itu sendiri.

Alasan soal keberlangsung industry rokok tersebut mendapatkan sanggahan banyak pengamat. Sebab, Kenaikan cukai rokok hingga 23% menyebabkan harga jual ecerannya pun naik hingga 35%. Kenaikan harga yang drastis dapat menyebabkan turunnya konsumsi rokok yang berimbas pada kemungkinan penurunan penjualan. Akibatnya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah risiko yang nyata.

Baca juga: Mulai Kondusif Pasca Rusuh, Pertamina Kembali Salurkan BBM di Jayapura 

Harga rokok yang naik drastis dapat menurunkan daya beli masyarakat yang ujung-ujungnya konsumsi rokok jadi turun. Mau tidak mau produsen rokok harus cari jalan untuk memangkas ongkos produksi rokok yang bisa mencapai 80% dari total penjualan. Salah satu skenario yang mungkin adalah pemutusan hubungan kerja karyawan terutama untuk segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang padat karya.

Pasalnya selama periode 2009-2018, pangsa pasar rokok SKT terus menurun. Menurut studi yang dilakukan Nielsen, pangsa pasar segmen rokok SKT pada 2009 mencapai 30,6%, tetapi turun drastis hingga 23,9%

Pada 2013, studi lain yang dilakukan oleh Mirae Aset Sekuritas menyebutkan bahwa pangsa pasar rokok SKT terus menurun. Hingga kuartal III-2018, pangsa pasar SKT tinggal 17,3%.

Hal tersebut salah satunya diakibatkan oleh perusahaan-perusahaan rokok yang mulai bergeser ke segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM). Produk SKM lebih menguntungkan karena biaya produksinya yang lebih efisien.

Satu mesin rokok memiliki kapasitas seperti 4.500 karyawan. Dengan adanya mesin tersebut tentu dapat memangkas ongkos tenaga kerja secara signifikan.

Baca juga: Jokowi Didesak Bersihkan Pejabat Pemerintahan dari Pelanggar HAM 

Akibat pergeseran tren tersebut, jumlah PHK pada industri hasil rokok meningkat. Menurut Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Sudarto, selama lima tahun terakhir ini sudah ada lebih dari 32.000 karyawan industri hasil tembakau yang dirumahkan.

Itu jumlah yang tercatat dalam organisasi, yang tidak tercatat jumlahnya kemungkinan besar lebih banyak. Kebanyakan dari karyawan yang dirumahkan adalah mereka yang bekerja sebagai pelinting SKT yang notabene adalah perempuan dengan tingkat pendidikan rendah.

Oleh karena itu, ketika harga rokok naik maka ancaman PHK untuk pekerja di segmen SKT semakin berada di depan mata. Sebagai contoh, pada 2014 ketika pangsa pasar rokok SKT turun drastis hampir 3 basis poin banyak perusahaan rokok yang PHK karyawannya.

PT Gudang garam Tbk melakukan program pensiun dini untuk 1.200 karyawannya, PT Bentoel International Investama Tbk juga melakukan langkah serupa dengan menawarkan pengunduran diri sukarela untuk 1.000 karyawannya pada September 2014. Hal yang berbeda ditempuh oleh PT HM Sampoerna Tbk yang memilih untuk menghentikan kegiatan produksi SKT di Jember dan Lumajang yang berdampak pada PHK 4.900 karyawan.//cw
LihatTutupKomentar