Bertemu Gus Ipul, Rizki Sadig Bahas Potensi Wisata Edukasi Sejarah di Jawa Timur

Dari kiri ke kanan: Hanif Thalib, pemilik dan pengelola Rumah Gula Daroessalam, Walikota Pasuruan Gus Ipul dan Ketua DPW PAN Jawa Timur, Rizki Sadig

Suarajatim.com - Dalam rangakaian lawatan silatruahmi, Ketua DPW PAN Jawa Timur, Rizki Sadig, bertemu dengan Walikota Pasuruan H.Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul di rumah cagar budaya, Rumah Gula Daroessalam. 

“Ini sangat unik, saya kira banyak sekali peninggalan seperti ini di Jawa Timur yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan wisata edukasi sejarah,” kata Rizki Sadig.

Bagi kota-kota yang tidak memiliki potensi alam sebagai tempat wisata, menurut Rizki Sadig, bisa memaksimalkan rumah-rumah peninggalan masa lalu. “Hanya saja dibutuhkan sinergitas yang baik, setidaknya dibuat aturan yang dapat membantu pemilik rumah kuno untuk menjaga keberadaan dan kondisi rumah kuno milik mereka,” tandas Rizki. 

Rumah Gula Daroessalam didirikan Kwee Sik Poo (1847-1930), pengusaha gula pada awal abad ke-20 dan pernah jadi Mayor Tionghoa Pasuruan. Dia hidup sezaman dengan sang raja gula Asia Tenggara, Oei Tiong Ham (1866-1924).


Di tengah jayanya, keluarga Kwee membangun banyak rumah megah di Pasuruan, dan beberapa masih berdiri hingga kini.

Gaya arsitektur rumah ini menggabungkan elemen-elemen Indische dan Tionghoa. Ada langit-langit tinggi, teras luas disangga pilar, pergola ditutup tanaman rambat, koridor sepanjang rusuk rumah, pintu dan jendela besar, marmer dan ubin yang indah, langit-langit dari metal embos, serta ruang dalam yang luas dan saling terhubung.

Sejak 1938, rumah indah ini dibeli oleh Muhammad bin Thalib. “Generasi ke-tiga Kweek Si Bo-lah yang menjual rumah tersebut ke Muhammad bin Thalib,” terang Habif Thalib, pemilik dan pengelola rumah gula yang merupakan cucu Muhammad bin Thalib.


Oleh Hanif, rumah gula dikembangkan sebagai boutique hotel berkonsep syariah. Nama Daroessalam, menurut Hanif, digunakan sebuah upaya mengenang sang kakek yang dulu membuka rumah ini selama 24 jam.

“Kakek saya dulu menerima tamu siapa saja, dari mana saja. Paviliun kiri itu dulu tempat tamu menginap. Tiap hari, kakek menyembelih satu ekor kambing untuk menjamu tamu,” ujar Hanif saat mendampingi Rizki Sadig melihat sekeliling rumah gula.

“Dari sini kita bisa belajar bagaimana menghargai peninggalan masa lalu dan misi suci menjaga amanat leluhur,” pungkas Rizki Sadig.//

LihatTutupKomentar
close
cicilan yamaha dp 0