Tiban, Tradisi Berdarah-darah untuk Undang Hujan di Kediri & Blitar

Suarajatim.com - Tradisi Tiban adalah sebuah kesenian yang berkembang di sejumlah wilayah di Jawa Timur, seperti Blitar, Kediri dan Trenggalek.

Tradisi Tiban adalah aksi saling cambuk antara dua laki-laki dewasa dalam sebuah arena. Uniknya, kesenian ini digelar sebagai bagian dari ikhtiar untuk meminta hujan dalam sebuah kemarau yang panjang.

Tradisi ini hanya dikhususkan untuk kaum lelaki yang akan saling cambuk dengan dipandu oleh seorang wasit yang disebut peladang.

Dengan iringan musik gamelan Jawa, masing-masing petarung akan saling melecutkan cambuk dari lidi atau rotan ke arah tubuh lawannya.

Setiap pemain Tiban akan mendapatkan kesempatan untuk memukul lawan sebanyak tiga kali, dengan menggunakan cambuk. Cambuk atau pecut terbuat dari seikat lidi aren yang terdiri atas ±15 batang lidi yang terpilin menjadi satu. Pada beberapa bagian diberikan suli, yaitu pengikat terbuat dari anyaman kulit pelepah aren itu sendiri,atau dari kulit bambu yang teranyam halus.

Karena sifatnya yang komunal dan Tiban pada dasarnya bukan suatu tontonan, maka batas antara penonton dan pemain sebenarnya tidak ada. Arena dibuat sendiri oleh penonton yang berdiri atau berjongkok paling depan yang membentuk sebuah lingkaran.

Sementara untuk pakaian, peserta Tiban hanya mengenakan celana dan tidak diijinkan mengenakan baju. Untuk menghindari hal yang membahayakan, para pemain tidak boleh mencambuk kepala dan kemaluan.

Selain membutuhkan nyali yang besar, para peserta tradisi Tiban juga harus memiliki keahlian dalam bertarung.

Menariknya, meskipun tubuh memar dan bahkan berdarah, para petarung mengaku tidak merasakan sakit. Mereka percaya bahwa semakin banyak darah yang mengucur, maka akan semakin deras hujan yang akan turun. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, kapan tradisi ini mulai ada. Namun diperkirakan, Tiban sudah ada sejak ribuan tahun silam.

Syahdan di masa kerajaan Kediri, berkuasa seorang raja yang sangat otoriter. Raja yang dimaksud bernama Prabu Kertajaya.

Karena otoriter, rakyat menurut perintahnya bukan karena patuh melainkan karena takut. Wilayah Kerajan Kediri termasuk kademangan Ngimbang (Sekarang Ngadiluwih) mempunyai 4 kademangan yaitu: 1. Kademangan Ngimbang; 3. Megalamat; 2. Jimbun; 4. Ceker.

Seiring dengan otoritarian sikap raja, perubahanpun berlangsung di Kediri, yang semula dalam keadaan makmur, lumbung-lumbung desa penuh padi berangsur-angsur menipis cenderung habis. Hal ini terjadi karana kemarau berlangsungnya sangat panjang. Para petani menganggur karena sawahnya tak dapat diolah, sungai-sungai mengering. Musim kemarau seakan-akan tidak ada selesainya. Segala upaya sudah diusahakan untuk mendapatkan air, namun belum dapat memenuhi kebutuhan pengairan. Yang didapat hanya sebatas kebutuhan minum dan kebutuhan dapur.

Para bijak mendapatkan kesimpulan, kemarau yang berlangsung panjang tersebut merupakan kutukan kepada manusia atas ketidakpercayaan dan ketidaktakwaan terhadap kekuatan yang lebih tinggi.

Untuk itu para demang bermusyawarah dengan para Pinisepuh, beberapa usul, saran dan pendapat, untuk menebus kutukan tersebut. Rakyat Ngimbang dengan sisa hartanya sedikit diberikan untuk digunakan sebagai syarat pelaksanaan Upacara Adat, bagi yang masih mempunyai padi dimohon memberikan seikat, dan bagi yang memiliki lembu membawa pecutnya sebagai lambang kekayaanya.
Setelah semua siap kemudian rakyat berkomunikasi dengan kekuatan supernatural. Memohon pengampun kepada kekuatan yang lebih tinggi, supra natural tersebut.

Selanjutnya sebagai ritualnya masyarakat  menyiksa diri dan berjemur dipanas terik. Sarana ini dirasa belum dapat berkomunikasi dengan kekuatan supernatural, maka penyiksaan diri tersebut lebih dipertajam dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren (lidi dari tumbuhan berbuah kolang-kaling/pohonnya menghasilkan ijuk).

Prosesi ritualnya diantara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa.

Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada musimnya. Hujan yang semacam inilah yang disebut Hujan Tiban. kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Demikian kejadian itu yang kemudian upacara tersebut dinamakan TIBAN, dan diteruskan  oleh masyarakat setempat secara turun temurun.//christantow
Share on Google Plus

About suara jatim

Suarajatim.com adalah portal berita yang memfokuskan sentra informasi tentang Jawa Timur dengan tidak menghilangkan topik-topik terhangat di lintasan nasional.

0 comments:

Posting Komentar

close
Iklan Sticky