Rebutan Berkah Kepala Kerbau di Dam Bagong Trenggalek

Suarajatim.com - Setiap Jumat Kliwon pada masa bulan Selo pada kalender Jawa, masyarakat Trenggalek menggelar tradisi larung kepala kerbau di Dam Bagong.

Acara ini selalu memantik perhatian ribuan orang untuk turut menyaksikan prosesi yang digelar di pinggir sungai tersebut.

Dam Bagong memang menjadi sentral pelaksanaan acara ini. Dam peninggalan Adipati Menak Sopal sejak ribuan tahun silam ini memang menjadi pusat pembagian pengairan di wilayah Trenggalek.
“Karena jasa Adipati Menak Sopal yang telah membangun sebuah sistem pengairan yang membuat persawahan di Trenggalek bisa mendapatkan air dengan merata inilah tradisi ini digelar. Tak lain karena sebagai wujud rasa syukur,” tandas Naim, juru kunci Makam Menak Sopal.

Ritual diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat.

Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tari jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual ini adalah pelemparan kepala kerbau ke arah Dam Bagong.

Sebagai luapan rasa syukur, masyarakat memang memotong seekor kerbau yang dagingnya kemudian dimasak untuk dinikmati bersama, sedangkan kepala, kulit dan tulang belulangnya akan dilempar ke Dam Bagong.

Uniknya, di bawah sungai tempat pelemparan kepala dan kulit sudah menunggu puluhan orang yang terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka berenang sambil sesekali menyelam menembus derasnya arus sungai.

Saat kepala kerbau dilempar, dengan sigap mereka bergantian masuk menyelam menuju dasar sungai untuk memperebutkan kepala kerbau tersebut.  Sorak sorai pun pecah mengiringi gerakan lincah puluhan laki-laki yang berada di dalam sungai yang tengah mengejar dan saling berebut mendapatkan kepala kerbau.

“Ini adalah simbol sedekah dan pengorbanan sebagai tolak bala agar kita dihindarkan dari marabahaya, agar sawah-sawad di Trenggalek tetap bisa dialiri air dan subur,” kata Naim.

Sorak sorai makin pecah, saat salah seorang di antara puluhan laki-laki tadi berhasil mengangkat kepala kerbau yang didapatkannya dari dasar sungai.

“Ada kepercayaan, mereka yang berhasil mendapatkan kepala kerbau akan dinaungi keberuntungan hidupnya di depan,” kata Naim.

Pada malam harinya, di lokasi yang sama digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, sebagai salah satu dari rangkaian prosesi ritual.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru.

Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya.

Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka.

Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong.

Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.//christantow
Share on Google Plus

About Unknown

Suarajatim.com adalah portal berita yang memfokuskan sentra informasi tentang Jawa Timur dengan tidak menghilangkan topik-topik terhangat di lintasan nasional.

0 comments:

Posting Komentar