Gentong Batik Tanjungbumi Bertahan di Tengah Sepinya Pasar, Perempuan Pesisir Bangkalan Jadi Penjaga Tradisi

SUARAJATIM – Di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, waktu berjalan lebih lambat di dalam gentong tanah liat tempat kain batik direndam selama berbulan-bulan. Proses tradisional itu menjadi bagian penting dari lahirnya Batik Gentongan, karya bernilai tinggi yang diwariskan lintas generasi.
Batik Tanjungbumi
Perempuan perajin membuat Batik Tulis Tanjungbumi di Bangkalan, Madura
Di balik proses panjang tersebut, ada perempuan-perempuan pesisir yang menggantungkan penghasilan keluarga dari goresan canting. Ketika hasil tangkapan nelayan tidak menentu akibat cuaca, kegiatan membatik menjadi salah satu sumber ekonomi bagi warga setempat.

Bagi masyarakat Tanjungbumi, membatik bukan sekadar pekerjaan. Kegiatan ini juga menjadi cara menjaga identitas budaya sekaligus meneruskan keterampilan yang telah diwariskan orang tua kepada anak-anak mereka.

Gentong Tanah Liat dan Proses Berbulan-bulan
Keistimewaan Batik Gentongan terletak pada proses pewarnaannya. Kain yang telah melalui tahapan pewarnaan direndam dalam gentong tanah liat selama sekitar tiga hingga enam bulan. Lamanya proses tersebut menjadi salah satu ciri khas batik dari Tanjung Bumi.

Muhtarib, pemilik usaha Batik Tanjungbumi sekaligus suami Rusmidah, menjelaskan bahwa proses tersebut membutuhkan ketelatenan. Menurut kepercayaan yang diwariskan masyarakat setempat, kondisi perajin dan ketulusan saat mengerjakan kain turut berkaitan dengan hasil akhir warna batik.

Tradisi setempat juga mengatur penempatan gentong agar terlindung dari aktivitas sehari-hari. Keluarga Muhtarib menempatkannya di sudut rumah yang aman dan relatif tersembunyi.

Panjang proses pengerjaan berbanding lurus dengan nilai jualnya. Satu lembar Batik Gentongan dapat dihargai mulai Rp3 juta hingga puluhan juta rupiah, bergantung pada kerumitan motif dan proses pewarnaan.

Perempuan Pesisir Menopang Ekonomi Keluarga
Suryaningsih telah mengenal canting sejak duduk di kelas V sekolah dasar. Keterampilan yang dipelajarinya sejak kecil kini menjadi bagian dari perjalanan hidup sekaligus sumber penghasilan.

Setiap hari, ia mengerjakan pola kasar pada dua lembar kain dengan upah Rp25.000. Penghasilannya berasal dari pekerjaan yang dapat dilakukan di lingkungan rumah, sehingga kegiatan membatik bisa berjalan beriringan dengan kehidupan keluarga.

Keterampilan itu juga diteruskan kepada anak-anaknya.

"Sekarang anak-anak saya juga membatik, sebab sejak SD sudah saya ajarkan. Karena ini warisan kami turun temurun," tutur Suryaningsih.

Ia merupakan satu dari lebih dari 70 perajin yang berkegiatan di lingkungan kelompok batik setempat. Keberadaan mereka menunjukkan bagaimana industri rumahan dapat membuka ruang produktivitas bagi perempuan di kawasan pesisir.

Pendampingan PHE WMO Sejak 2004
Pengembangan Batik Tulis Tanjungbumi mendapat pendampingan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) sejak 2004. Melalui konsep One Belt One Road (OBOR), program tersebut mendampingi Kelompok UMKM Batik Tulis Tanjungbumi di Desa Macajah.
Batik Gentongan
Proses perendaman kain Batik Gentongan menggunakan gentong tanah liat
Rusmidah, Ketua UMKM Batik Tulis Tanjungbumi, menjadi salah satu penggerak dalam mengajak perempuan di lingkungan sekitar untuk belajar membatik dan mengembangkan kegiatan produktif dari rumah.

"Berkat pendampingan PHE WMO, saya semakin yakin untuk terus melestarikan Batik Tulis Tanjungbumi agar warisan budaya ini tidak berhenti di generasi saya. Karena itu, saya mengajak ibu-ibu dan perempuan di sekitar saya untuk ikut belajar dan menekuni batik. Alhamdulillah, dari membatik mereka bisa memiliki kegiatan yang produktif dan mendapatkan tambahan penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga, tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah," kata Rusmidah.

Kelompok ini memiliki lebih dari 130 motif batik warisan, termasuk 10 motif khas Tanjungbumi. Pada periode ketika permintaan berada di tingkat tinggi, kapasitas produksinya mencapai 300–500 lembar kain per siklus.

Omzet kelompok saat kondisi pasar mendukung dapat mencapai Rp150 juta hingga Rp250 juta per bulan. Pendapatan perajin individu pada periode tersebut berkisar Rp3,5 juta sampai Rp5 juta per bulan.

Namun, dinamika ekonomi turut memengaruhi penjualan. Muhtarib mengakui bahwa pasar batik sempat mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat akses pemasaran menjadi semakin penting bagi keberlangsungan usaha.

"Beruntung PHE WMO masih sering mengajak kami ikut pameran bisnis, sehingga produk kami terus dikenal di tanah air bahkan hingga ke mancanegara," ungkap Muhtarib.

Batik Tanjungbumi Menembus Pasar Internasional
Pendampingan PHE WMO mencakup perluasan pemasaran melalui platform digital Bakaoo.id, media sosial, marketplace, serta keikutsertaan dalam pameran. Salah satunya adalah INACRAFT 2025, yang menjadi kesempatan bagi produk perajin untuk menjangkau calon pembeli lebih luas.

Produk Batik Tanjungbumi juga telah menjangkau Malaysia melalui jejaring masyarakat perantau. Jalur pemasaran tersebut membuka peluang bagi karya perajin Madura untuk dikenal di luar negeri.

Program pemberdayaan ini memperoleh pengakuan melalui penghargaan CSR Excellence Awards 2026 di London. Program tersebut tercatat melibatkan 40 penerima manfaat langsung dan 153 warga dalam rantai nilai pendukung.

Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, mengatakan pendampingan Batik Tulis Tanjungbumi merupakan bagian dari pelaksanaan program sosial perusahaan dalam kerangka Environmental, Social & Governance (ESG).

"Regional Indonesia Timur berkomitmen menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dalam kerangka Environmental, Social & Governance (ESG). Pengembangan Batik Tulis Tanjungbumi merupakan implementasi dari komitmen tersebut, khususnya pada aspek sosial melalui pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian warisan budaya. Kami berharap pendampingan yang dilakukan tidak menciptakan ketergantungan, tetapi mampu membangun kapasitas dan kemandirian kelompok sehingga Batik Tanjungbumi dapat terus berkembang, memiliki akses pasar yang semakin luas, serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Sigit.

Program tersebut berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya kesetaraan gender dan pertumbuhan ekonomi yang layak. Bagi perajin, keberhasilan pendampingan pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan kelompok mempertahankan produksi, memperluas pasar, dan meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya.

Di Desa Macajah, gentong-gentong tanah liat masih menyimpan kain yang menunggu warna meresap sempurna. Sementara itu, para perempuan terus menggerakkan canting dari rumah masing-masing. Di antara tradisi yang dijaga dan pasar yang terus berubah, Batik Tanjungbumi bertahan sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan keluarga pesisir Madura.
LihatTutupKomentar