iklan jual beli mobil

Harga BBM Naik Meski Minyak Dunia Turun, Archandra Tahar: BBM Ibarat Rendang

  • Kenaikan harga BBM di Indonesia menimbulkan banyak polemik. Satu pertanyaan yang kerap diajukan oleh masyarakat adalah: mengapa BBM naik meski harga minyak dunia turun? Untuk itu, Archandra Tahar membagikan analogi sederhananya tentang fenomena ini.

Suarajatim.com - Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2016-2019, Archandra Tahar membagikan analisisnya seputar kenaikan harga BBM melalui analogi sederhana lewat akun Instagramnya. 


Dalam postingan yang ia beri judul "Kenaikan Refinery Margin dan Pengaruhnya Terhadap Harga BBM" itu, Archandra mengupas faktor kenaikan BBM mulai dari dasar perhitungan harganya.


"Dalam beberapa tulisan terdahulu, kami pernah membahas tentang refinery margin dan cracking spread yang menjadi dasar perhitungan harga BBM," tulisnya sebagai pembuka.


Refinery margin sendiri, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai ongkos untuk mengubah minyak mentah menjadi BBM (Pertalite, Pertamax, diesel dll). Cara perhitungan refinery margin adalah dengan mengambil selisih antara harga BBM yang dihasilkan kilang dengan harga minyak mentah.


"Menurut data yang kami peroleh, dalam 5 tahun terakhir refinery margin berada dalam kisaran di bawah $10/bbl. Namun, pada bulan Mei, Juni dan Juli tahun 2022 ini, refinery margin di Singapura bisa mencapai $30/bbl. Sementara refinery margin di Eropa dan Amerika Serikat jauh lebih tinggi lagi," kata Archandra.


Dalam hitungan sederhana, jika harga minyak mentah $70/bbl maka harga BBM yang dihasilkan dengan refinery margin $30/bbl menjadi $100/bbl. Jika menggunakan asumsi refinery margin dalam 5 tahun terakhir, maka harga BBM hanya $80/bbl. Artinya di tahun 2022 ini harga BBM menjadi semakin mahal karena naiknya refinery margin di berbagai kilang di dunia.


Lalu mengapa lonjakan refinery margin sebanyak 300% bisa terjadi? Padahal biaya untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM seharusnya sama? Archandra kembali memberikan penjelasan mudah soal bagaimana harga minyak mentah dan BBM terbentuk.


Harga minyak mentah mengikuti harga acuan (index) seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Harga index tersebut dipengaruhi lagi oleh faktor-faktor lain seperti: supply, demand, perang, dan sebagainya. 


Harga BBM juga ditentukan oleh seberapa banyak BBM dibutuhkan pada waktu tertentu. Contoh, di musim liburan, banyak orang yang traveling menggunakan mobil yang berbahan bakar Ron 92, dimana harga pada saat itu bisa lebih mahal dibandingkan diesel. Maka saat itu, pergerakan harga Ron 92 tidak lagi mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.


Lebih lanjut Archandra menganalogikan BBM seperti rendang. "Untuk memproduksi BBM tak ubahnya seperti restoran padang yang membuat rendang. Bahan baku utama rendang adalah daging sapi atau kerbau. Harga sapi misalnya ditentukan oleh supply demand pada waktu tertentu. Pada saat hari raya Idul Adha, kebutuhan sapi akan meningkat sehingga harganya akan naik. Tapi apakah ongkos untuk membuat rendang akan naik pada saat itu? Belum tentu."


Dalam mengolah daging menjadi rendang dibutuhkan proses memasak dan penambahan bumbu-bumbu yang tentunya menambah biaya. Selisih antara harga jual rendang dengan harga daging sapi disebut dapur margin (seperti refinery margin). Nilai dapur margin tersebut juga bisa berubah tergantung dari banyaknya permintaan rendang pada saat tertentu. 


Misalnya pada acara wisuda dibutuhkan 10 ton rendang. Daging sapinya ada, namun rendangnya tidak cukup. Maka biaya pembuatan rendang menjadi naik untuk memenuhi kebutuhan wisuda tersebut.


Jika dalam 5 tahun terakhir dapur margin pembuatan rendang hanya Rp 100 ribu/kg, dan sekarang naik jadi Rp 300 ribu/kg, ditambah lagi pada saat bersamaan harga daging sapi juga ikut naik, maka terbayang seberapa besar harga rendang yang harus ditanggung konsumen.


Kalau kita tahu bahwa acara yang kita gelar anggarannya terbatas tapi tetap harus menyediakan menu rendang setiap saat, maka membeli rendang terus menerus akan menjadi ide yang buruk.


Salah satu solusi yang tepat adalah membuat dapur sendiri yang dapat membuat rendang serta menu masakan Padang lainnya. Dengan begitu menu rendang tetap bisa dihadirkan dengan harga yang lebih minimal. Pastinya dibutuhkan investasi serta kesabaran agar dapur tersebut menghasilkan margin yang baik.


Dalam konteks BBM, refinery margin yang sangat tinggi pada tahun ini dan bisa jadi di tahun-tahun yang akan datang, negara mbutuhkan strategi yang teliti, cermat dan cerdas menuju masa transisi ke net-zero emisi tahun 2050 atau 2060 mendatang.


Membuat “restoran padang” sendiri yang membuat produksi “rendang” jadi lebih efisien perlu untuk dipikirkan, direncanakan, dan segera diwujudkan.


"Realitasnya dunia masih memerlukan energi fosil paling tidak hingga 30 tahun lagi. Namun demikian, pengembangan energi terbarukan juga jangan sampai terabaikan," tutup Archandra.


Unggahan Archandra ini mengundang komentar netizen. "Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat "restoran padang" tersebut pak?" tanya salah seorang warganet. "Tergantung besar dan kompleksitasnya. Rata-rata 3-4 tahun," jawab Archandra.


Indonesia sendiri masih ketergantungan terhadap impor BBM dari kilang-kilang minyak di Singapura. Hal ini tak lain disebabkan kebutuhan BBM dalam negeri yang lebih tinggi dibanding kemampuan produksinya. Berbanding terbalik dengan Singapura.


Menurut Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Djoko Priyono, kebutuhan BBM dalam negeri adalah 1,4 juta barel per hari, padahal kilang minyak yang ada hanya mampu memproduksi sekitar 729 ribu barel per harinya.


Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatatkan selama periode Januari-Juni 2022, impor hasil minyak (minyak olahan) mencapai $12,01 miliar. Angka tersebut melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2021 yakni $6,18 miliar.


Sebenarnya wacana mengenai upaya pengurangan ketergantungan terhadap impor BBM ini sudah sering terdengar. Pemerintah melalui Pertamina sudah lama berencana akan meningkatkan produksi kilang-kilangnya. Seperti produksi kilang di Cilacap (Jawa Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Balongan (Jawa Tengah), Dumai (Riau) serta Plaju (Sumatera Selatan). Namun realisasinya hingga kini belum juga sampai garis finish.

LihatTutupKomentar