SUARAJATIM - Selama tiga dekade, aliran listrik di rumah Ahmadi (35) bergantung pada seutas kabel yang terhubung ke rumah tetangganya. Bagi buruh tani di Desa Randuboto, Kabupaten Gresik ini, memiliki meteran listrik sendiri terasa seperti sebuah kemewahan yang jauh dari jangkauan. Keterbatasan ekonomi membuatnya harus rela berbagi daya dan menumpang demi secercah cahaya di malam hari.
![]() |
Ahmadi (35) akhirnya dapat menikmati listrik secara mandiri di kediamannya di Desa Randuboto, Gresik, setelah 30 tahun bergantung pada sambungan listrik tetangga, melalui program Light Up The Dream dari PLN. |
Kegembiraan tak dapat disembunyikan dari wajahnya saat petugas selesai memasang instalasi dan menyalakan saklar untuk pertama kali. Kini, ia dan keluarganya tidak lagi perlu merasa sungkan atau khawatir membebani tetangga.
"Terima kasih PLN atas bantuan penyambungan listrik gratis ini. Alhamdulillah dengan bantuan ini, kami sekeluarga bisa memanfaatkan listrik secara mandiri," ucap Ahmadi penuh syukur.
Penyambungan listrik di rumah Ahmadi merupakan bagian dari inisiatif skala nasional bertajuk Light Up The Dream (LUTD). Program ini digulirkan serentak di seluruh wilayah operasional PLN sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Tujuannya sederhana namun bermakna besar, yakni memberikan akses listrik kepada keluarga prasejahtera yang selama ini belum mampu mendapatkannya.
Pada momen tersebut, Ahmadi menjadi satu dari 2.821 keluarga di seluruh Indonesia yang merasakan manfaat langsung dari program LUTD. Yang membuat inisiatif ini berbeda adalah sumber pendanaannya. Seluruh biaya penyambungan baru ini tidak berasal dari anggaran perusahaan, melainkan dari donasi sukarela yang dikumpulkan dari para pegawai PLN sendiri.
Program yang digerakkan dari kepedulian internal ini telah berjalan sejak tahun 2020. Hingga kini, uluran tangan para pegawai PLN telah berhasil menerangi total 37.088 rumah di berbagai penjuru nusantara.
General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM), Ika Sudarmaja, menjelaskan bahwa kegiatan LUTD memiliki makna lebih dari sekadar instalasi teknis. Ini adalah upaya untuk menghadirkan keadilan energi dan membuka pintu harapan.
"Listrik sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Melalui program ini, PLN menyalakan bukan hanya lampu, tetapi juga semangat persatuan dan harapan menuju Indonesia Maju," ungkap Ika Sudarmaja.
Ia menambahkan bahwa akses terhadap listrik merupakan fondasi untuk peningkatan taraf hidup masyarakat. Dengan adanya aliran listrik yang andal di rumah, berbagai peluang baru terbuka.
"Kami percaya bahwa akses terhadap listrik adalah pintu pembuka menuju kemajuan. Dengan hadirnya listrik, anak-anak bisa belajar, keluarga bisa lebih produktif, dan perekonomian serta kualitas hidup masyarakat juga meningkat," lanjutnya.
Bagi Ahmadi dan ribuan keluarga lainnya, terangnya bohlam di rumah mereka bukan sekadar cahaya fisik. Ia menjadi simbol harapan baru untuk masa depan yang lebih baik, di mana anak-anak bisa belajar dengan nyaman di malam hari dan aktivitas ekonomi keluarga dapat berjalan tanpa hambatan kegelapan.