SUARAJATIM - Industri asuransi bergerak di medan yang semakin tak ramah bagi organisasi yang lamban membaca perubahan. Teknologi melaju cepat, regulasi berganti ritme, ekspektasi publik naik kelas. Di tengah tekanan itu, sumber daya manusia tak lagi cukup kuat hanya bermodal sistem dan digitalisasi. Faktor yang menentukan bertahan atau tumbang justru ada pada fondasi paling mendasar: integritas.
![]() |
| Direktur SDM, Umum & TI Jasa Raharja Rubi Handojo memaparkan pandangan tentang penguatan SDM di forum HR Networking 2026 AAUI. |
Rubi menilai, kegagalan organisasi beradaptasi dengan perubahan global bukan sekadar risiko teknis. Dampaknya bisa langsung menggerus daya saing dan relevansi perusahaan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa adaptasi tak cukup jika hanya berhenti pada adopsi teknologi atau peningkatan kompetensi semata.
“Pengalaman di industri menunjukkan bahwa teknologi dan kapabilitas saja tidak cukup. Faktor penentu keberlanjutan organisasi adalah integritas. Tanpa integritas, strategi bisnis, sistem, dan inovasi tidak akan memberikan makna jangka panjang,” ujar Rubi.
Menurutnya, penguatan SDM harus berjalan menyeluruh. Kompetensi teknis dan digital tetap penting, tetapi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, adaptabilitas, pembelajaran berkelanjutan, serta keberanian mengambil keputusan secara etis. Tanpa kombinasi tersebut, organisasi akan kesulitan membangun kepercayaan publik, terutama di sektor asuransi yang masih menghadapi tantangan literasi.
Bagi Jasa Raharja, pengembangan SDM juga terkait langsung dengan mandat pelayanan publik. Sebagai penyelenggara asuransi kecelakaan dasar, kualitas manusia di dalam organisasi menentukan kualitas layanan yang dirasakan masyarakat. Nilai profesionalisme, empati, dan akuntabilitas menjadi standar yang tak bisa ditawar.
“Transformasi SDM harus berdampak nyata pada pengalaman pegawai, mitra, dan masyarakat. Ketika budaya organisasi dibangun atas dasar integritas dan kepercayaan, maka petugas Jasa Raharja di lapangan akan mampu memberikan pelayanan prima sebagai wujud negara hadir,” tambah Rubi.
Forum HR Networking 2026 sendiri diarahkan sebagai ruang konsolidasi gagasan lintas perusahaan. Kesamaan perspektif antar pimpinan HR menjadi penting agar industri asuransi nasional memiliki kesiapan talenta yang sejalan dengan dinamika bisnis. Diskusi juga menyentuh kepemimpinan, budaya organisasi, serta kesiapan SDM menghadapi perubahan yang semakin kompleks.
Kegiatan ini turut menghadirkan tokoh lintas sektor seperti Chairman AAUI Budi Herawan, Head of OJK Office DIY Eko Yunianto, HR Director Vale Indonesia Heriyanto Agung, serta Chief Digital Officer Maybank Charles Budiman. Kehadiran mereka memperkaya diskusi mengenai masa depan pengelolaan SDM industri asuransi nasional.

