Lukisan Kura-kura Yohan Jadi Pemenang Faber-Castell Colour4Life 2025 di Panggung Global

SUARAJATIM - Menjadi pemenang di ajang Faber-Castell Colour4Life 2025 bukan soal mengalahkan  peserta dari negara lain. Lebih dari itu, kemenangan Yohan Purnomo menempatkan identitas Indonesia sebagai narasi utama di panggung seni global. Dari Malang, karya berjudul Shell of the Cosmos melaju hingga level tertinggi kompetisi seni internasional.
Karya Shell of the Cosmos oleh Yohan Purnomo juara utama Colour4Life Faber-Castell 2025
Shell of the Cosmos, karya Yohan Purnomo asal Malang (kanan), mengantarkannya menjadi juara utama Colour4Life Faber-Castell 2025 - Hilarius Haryadi Sales Manager PT Faber-Castell International Indonesia kantor Cabang Surabaya (kiri).
Di antara ribuan karya yang masuk dari berbagai penjuru, visual kura-kura ciptaan Yohan tampil sebagai pembawa cerita. Ia tidak hadir sebagai simbol hiasan, melainkan sebagai representasi perjalanan pulang, ingatan budaya, dan tanggung jawab terhadap asal-usul. Inilah yang membuat karyanya menonjol di hadapan juri Colour4Life 2025.

Sebelum menyandang status pemenang, Shell of the Cosmos lebih dulu melewati seleksi nasional yang melibatkan lebih dari 2.000 karya dari Indonesia. Proses daring dan tatap muka itu menjadi gerbang awal sebelum Yohan bersaing di tingkat Asia Pasifik, menghadapi finalis dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Cina, India, hingga Australia.

Kemenangan ini mengantarkan Yohan pada hadiah utama berupa perjalanan ke kantor pusat Faber-Castell di Stein, Jerman, bersama satu orang pendamping. Namun nilai pentingnya bukan hanya soal destinasi. Ada pengakuan global terhadap narasi visual Indonesia yang dibawa lewat medium gambar.

Product Manager Faber-Castell International Indonesia, Vincentia Novianty, menyebut pencapaian ini sebagai bukti kuat kapasitas seniman Tanah Air.
“Yohan Purnomo telah membuktikan bahwa kreativitas para seniman Indonesia tidak perlu diragukan. Kreativitas bisa lahir dari mana saja, dan tentu masyarakat Indonesia patut bangga atas pencapaian ini.”

Ia menambahkan bahwa kompetisi ini memberi ruang bagi seniman Indonesia untuk menembus panggung internasional.
“Kami berharap ajang ini memberi peluang agar para seniman Indonesia terus berkreasi dan berimajinasi, tidak hanya di level nasional, tetapi juga internasional.”

Di balik visual kura-kura yang tenang, Yohan menyisipkan pesan mendalam. Ia memaknai kura-kura sebagai makhluk yang selalu kembali ke tempat asal untuk bertelur, sejauh apa pun perjalanannya. Bagi Yohan, itu cerminan manusia.
“Sebagai manusia, kita tidak boleh meninggalkan atau melupakan warisan budaya yang diturunkan dari leluhur kita. Tanggung jawab kita adalah melindungi dan melestarikan budaya negara ini.”

Motif batik Jawa, ornamen Kalimantan, sentuhan Bali, hingga pola cangkang kura-kura dipadukan sebagai simbol Indonesia yang majemuk. Ragam etnis, agama, dan ribuan pulau disatukan dalam satu bidang gambar. Pesannya tegas, identitas tidak boleh tercerabut, meski dunia terus bergerak.

Colour4Life Faber-Castell 2025 sendiri mengusung tema Colour Your World. Kompetisi ini terbuka untuk berbagai kalangan, baik melalui format offline maupun online. Untuk kategori offline, ajang ini menyasar pelajar SMP dan SMA di sembilan kota besar Indonesia. Sementara jalur online membuka ruang bagi seluruh usia.

Dari Malang menuju Stein, Jerman, perjalanan Yohan Purnomo menjadi pengingat bahwa seni tak selalu berteriak. Kadang ia berjalan pelan, seperti kura-kura, tetapi membawa beban makna yang jauh lebih besar dari ukurannya.
LihatTutupKomentar