Polytron Beri Pelatihan UMKM Kuliner dan Tawarkan Jalan Biar Usaha Nggak Stuck

SUARAJATIM - Langkah Polytron di Surabaya langsung tancap gas. Lewat pelatihan UMKM, perusahaan elektronik ini membedah habis realitas bisnis kuliner dari data lapangan, sekaligus membawa solusi yang langsung bisa dipakai pelaku usaha.
Polytron gelar pelatihan UMKM kuliner di Surabaya bersama Populix
Polytron menghadirkan pelatihan berbasis riset untuk membantu UMKM kuliner memperbaiki sistem dan operasional usaha
"Produk bisa ditiru, tapi rasa percaya (brand) tidak bisa digantikan," tegas Jessica Hartono, Founder Nichi Nichi by Farine.

Bersama Populix, Polytron meluncurkan “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level”. Isinya bukan teori kosong. Data yang dikumpulkan menunjukkan kondisi riil pelaku usaha, lengkap dengan jebakan yang sering bikin bisnis jalan di tempat.

Polytron melihat mayoritas UMKM berada di fase perintis. Angkanya mencapai 80 persen. Mereka didominasi generasi muda, dengan semangat mandiri dan berburu peluang pasar. Namun, kondisi ini juga menyimpan risiko besar karena fondasi usaha belum kuat.

Salah satu temuan yang disorot adalah lemahnya sistem operasional. Hampir separuh pelaku usaha masih mencatat transaksi secara manual. Situasi ini membuat pengambilan keputusan tidak berbasis data. Dampaknya terasa saat bisnis ingin berkembang, karena tidak ada pijakan yang jelas.

Polytron juga menyoroti masalah literasi keuangan. Banyak pelaku UMKM merasa sulit mendapatkan pinjaman. Faktanya, kendala utama ada pada pemahaman. Sebagian belum mengerti cara mengajukan kredit, sementara yang lain tidak memiliki akses ke lembaga keuangan.

Di sisi operasional, tekanan terbesar datang dari keterbatasan SDM. Sebanyak 67 persen usaha mikro hanya dijalankan oleh 1 sampai 2 orang. Kondisi ini memicu masalah saat jam sibuk. Pelayanan melambat, kualitas bisa turun, dan pelanggan berpotensi kabur.

Polytron menilai menaikkan harga bukan jawaban utama. Konsumen sensitif harga masih mendominasi. Jalan keluar yang lebih realistis ada pada efisiensi kerja dan penggunaan alat yang tepat.

Di sinilah Polytron masuk membawa solusi. Perusahaan ini tidak berhenti di data. Mereka menawarkan ekosistem yang langsung menyasar titik lemah UMKM.

Polytron menghadirkan perangkat usaha yang dirancang untuk kebutuhan kuliner. Mulai dari chest freezer berkapasitas 100 hingga 300 liter untuk menjaga bahan baku tetap awet, hingga showcase berkapasitas besar untuk tampilan produk yang lebih menarik. Produk lain seperti dispenser, oven, dan rice cooker juga disiapkan untuk mendukung operasional harian.

Fokusnya bukan sekadar alat. Polytron ingin menekan risiko biaya tersembunyi. Dalam riset, banyak usaha mengalami kerugian karena alat cepat rusak akibat penggunaan yang tidak tepat. Efeknya bukan hanya biaya servis, tetapi juga kerusakan bahan baku dan terhentinya operasional.

Selain perangkat, Polytron membuka kelas edukasi gratis. Materinya menyasar penguatan sistem kerja dan pengelolaan SDM. Pelaku usaha juga diberi peluang promosi lewat video dan kunjungan food vlogger nasional bagi yang berkembang pesat.

Langkah ini diperluas lewat peluang masuk ke event besar. UMKM binaan mendapat akses untuk membuka booth dan memperluas pasar. Polytron ingin pelaku usaha punya jalur berkembang yang lebih terarah.

Dari hasil riset, Polytron merumuskan empat pilar agar UMKM bisa naik level. Pertama, konsep usaha harus jelas, termasuk identitas dan pengalaman pelanggan. Kedua, sistem kerja harus rapi dan mulai beralih ke digital. Ketiga, pemilihan aset harus berpikir jangka panjang. Keempat, ekspansi dilakukan tanpa mengganggu operasional yang sudah berjalan.

Radityo Suryo Hartanto juga mengingatkan pentingnya identitas visual. Ia menilai kemasan punya peran besar dalam membangun persepsi pelanggan. Tanpa pembeda yang kuat, produk akan tenggelam di pasar yang padat.

Pengalaman Jessica jadi contoh nyata. Ia membangun bisnis dari dapur rumah hingga dikenal luas. Kuncinya ada pada konsistensi nilai brand, tampilan visual, dan menjaga kepercayaan pelanggan.

Langkah Polytron di Surabaya memperlihatkan arah yang jelas. Data dijadikan dasar, lalu diikuti solusi yang langsung bisa dijalankan. Bagi pelaku UMKM kuliner, pendekatan ini membuka peluang baru untuk memperbaiki cara kerja dan memperkuat bisnis dari dalam.
LihatTutupKomentar