![]() |
| Jejak asimilasi bangsa asing di Nusantara dari abad ke-4 hingga abad ke-16, berdasarkan temuan prasasti dan catatan sejarah di berbagai wilayah. |
Di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, prasasti dari masa Kutai Martadipura (abad ke-4 M) ditemukan kembali pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1879–1880-an, oleh para peneliti Belanda yang melakukan eksplorasi di wilayah Kutai. Temuan ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh epigraf seperti Hendrik Kern yang membantu membaca isi tulisannya.
Salah satu bagian prasasti berbunyi:
“svasti śrī mūlavarmmaṇaḥ rājñaḥ…”
“Selamat, (ini adalah) milik Raja Mulawarman yang mulia…”
Nama Mulawarman tercatat sebagai raja yang menggelar sedekah besar. Dari batu ini terlihat bahwa bahasa Sanskerta dan konsep kekuasaan India sudah digunakan secara aktif di Nusantara.
Di Jawa Barat, daerah Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, sebuah batu besar di tepi sungai menarik perhatian peneliti kolonial pada abad ke-19. Prasasti di Ciaruteun diperkirakan ditemukan kembali sekitar tahun 1863 oleh seorang perkebun Eropa, lalu dilaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda dan diteliti oleh ahli seperti N.J. Krom.
Isi tulisannya:
“vikrāntasya avanipateḥ śrīmataḥ pūrṇavarmaṇaḥ…”
“(Ini adalah tanda) Raja Purnawarman yang gagah perkasa…”
Nama Purnawarman muncul sebagai penguasa yang meninggalkan jejak kekuasaannya di alam, termasuk melalui pengaturan sungai.
Lanjut ke Sumatra Selatan. Di sekitar Palembang, wilayah yang dahulu menjadi pusat Sriwijaya, ditemukan sejumlah prasasti seperti Kedukan Bukit. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1920 oleh seorang Belanda bernama Louis Constant Westenenk di tepi Sungai Tatang.
Sementara itu, gambaran kehidupan Sriwijaya juga datang dari catatan luar. Biksu Tiongkok I-Tsing menulis pengalamannya setelah singgah di Nusantara pada tahun 671 M:
“室利佛逝國,多有僧眾,學習佛法。”
“Di negeri Sriwijaya banyak terdapat para biksu yang mempelajari ajaran Buddha.”
Catatan ini tidak ditemukan di Nusantara, melainkan tersimpan dalam manuskrip Tiongkok kuno yang kemudian dipelajari para sejarawan modern.
Memasuki Aceh Utara, di kawasan Gampong Beuringin, ditemukan makam Sultan Malik al-Saleh dari Samudera Pasai. Makam ini sudah dikenal oleh masyarakat setempat sejak lama, tetapi mulai didokumentasikan oleh peneliti Eropa pada abad ke-19.
Tulisan Arab pada nisan tersebut menjadi bukti awal masuknya Islam. Sementara itu, catatan tertulis datang dari perjalanan Ibnu Battuta yang singgah di kawasan ini sekitar tahun 1345 M:
“السلطان مسلم شافعي يحب الفقهاء”
“Sang sultan adalah seorang Muslim bermazhab Syafi’i yang mencintai para ulama.”
Catatan ini kemudian disusun dalam karya perjalanannya yang dikenal luas di dunia Islam.
Jejak dari jalur Gujarat tidak selalu berupa prasasti dengan tanggal pasti. Banyak ditemukan melalui kajian arkeologi modern pada abad ke-19 dan 20, terutama dari bentuk batu nisan di Sumatra dan Jawa yang memiliki kemiripan dengan gaya India Barat.
Memasuki abad ke-16, kehadiran Eropa meninggalkan arsip yang jauh lebih lengkap. Dokumen dari VOC tersimpan rapi di arsip Belanda dan mulai dipelajari secara sistematis sejak abad ke-19. Catatan ini mencakup aktivitas perdagangan, politik, hingga kehidupan sosial di Batavia.
Dari Muara Kaman yang mulai diteliti pada akhir abad ke-19, Ciaruteun yang dilaporkan pada 1860-an, Palembang dengan temuan tahun 1920, hingga manuskrip Tiongkok dan catatan perjalanan Arab, semua potongan ini saling melengkapi.
Sejarah Nusantara tidak hanya tersimpan di masa lalu, tetapi juga dalam proses penemuan kembali oleh para peneliti, penjelajah, dan masyarakat lokal. Setiap temuan membuka lapisan baru dari cerita panjang yang sebelumnya tersembunyi.
Tags:
prasasti kutai ditemukan kapan, prasasti ciaruteun ditemukan siapa, sriwijaya prasasti kedukan bukit 1920, samudera pasai bukti sejarah
Artikel dibuat dengan bantuan AI

