SUARAJATIM – Membuat adegan film di tengah festival musik yang dipadati puluhan ribu penonton menjadi tantangan tersendiri bagi tim Operasi Pesta Copet. Kru film harus mengejar momen sekaligus memastikan proses syuting tidak mengganggu jalannya Pestapora 2025.
“Window-nya hanya satu lagu, berarti durasi sekitar tiga menit. Jadi memang ada tantangan dan rasa tanggung jawab. Wah, ini nggak boleh salah karena kami cuma punya waktu sekitar tiga menit,” ujar sutradara sekaligus penulis Operasi Pesta Copet, Edy Khemod, saat media gathering di Surabaya, Sabtu (23/8/2026).
Adegan tersebut dijalani Kawai Labiba yang memerankan Melodi. Ia harus berakting dengan latar pertunjukan musik yang benar-benar sedang berlangsung. Begitu lagu selesai, kesempatan mengambil gambar dengan latar tersebut ikut berakhir.
Edy mengatakan kondisi itu membuat proses produksi berbeda dari syuting film pada umumnya. Kru masih bisa mengulang akting pemain, tetapi situasi di belakang mereka tidak mungkin dikendalikan.
“Kalau adegannya retake, acting-nya bisa kita ulang. Tapi latarnya nggak bisa kita apa-apakan karena festival terus berjalan. Jadi kami harus memanfaatkan momen yang ada,” katanya.
Konsep tersebut menjadi bagian dari cara tim Operasi Pesta Copet menggabungkan dunia fiksi dengan suasana Pestapora yang sebenarnya. Penonton festival pada 2025 melihat pertunjukan musik seperti biasa, sementara kamera film merekam kejadian yang nantinya menjadi bagian dari cerita.
“Yang kami coba lakukan adalah menggabungkan pertunjukan yang memang asli dengan kejadian di dalam film. Jadi nanti orang bisa berpikir, ‘Loh, kok ada kejadian ini? Saya nonton tahun 2025, kok ada kejadian seperti ini?’ Magic-nya ada di situ,” ujar Edy.
Namun, tim produksi tidak sepenuhnya bergantung pada festival yang berlangsung secara nyata. Mereka membuat pula adegan dengan latar festival melalui pengambilan gambar sebelum hari-H.
Edy menjelaskan, cara tersebut diperlukan agar tim tetap memiliki kendali atas adegan yang membutuhkan pengaturan khusus. Sekitar 500 extras dikerahkan untuk menciptakan suasana festival yang kemudian dapat dipadukan dengan footage Pestapora sebenarnya.
“Jadi ada konser betulannya, tapi ada juga konser yang kami buat. Nanti secara editing shot-nya digabung-gabung. Kami juga harus memasukkan 500 extras, ratusan kru, genset dan semua kebutuhan produksi. Itu memang pengalaman yang sangat menantang,” katanya.
Pengaturan ratusan orang di lokasi juga bukan perkara mudah. Terlebih, sebagian proses pengambilan gambar dilakukan pada malam hari.
“Kami pernah harus mengatur 500 orang di tengah malam. Menggeser 500 orang jam satu malam itu luar biasa susah. Itu yang kami lakukan selama dua sampai tiga hari ketika shooting di sana,” ujar Edy.
Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal sekaligus menjadi salah satu produser film merasakan langsung skala produksi tersebut. Menurut dia, pengalaman syuting di Pestapora menjadi salah satu hal paling berbeda sepanjang kariernya.
“Festival musik Pestapora setiap harinya itu kurang lebih dihadiri 30 sampai 35 ribu orang di JIExpo Kemayoran. Kalau dikali tiga hari, jumlahnya menyentuh lebih dari 100 ribu orang. Kami harus shooting dengan kamera film, genset, lighting dan puluhan bahkan ratusan kru di tengah situasi tersebut,” kata Iqbaal.
Kondisi itu membuat pemain harus membagi konsentrasi. Mereka tetap harus menjaga karakter, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mengganggu penonton yang datang untuk menikmati konser.
“Fokus kami terbagi. Kami harus tetap fokus bermain peran, tidak mengganggu penonton yang sudah membayar tiket, sekaligus menjalankan proses shooting. Mindset-nya benar-benar berbeda dengan syuting film biasa,” ujar Iqbaal.
Dalam produksi film biasa, sebuah adegan dapat dihentikan ketika terjadi kesalahan lalu diulang dari awal. Di Pestapora, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku karena festival terus berjalan.
“Kalau syuting film biasa, kami terbiasa menciptakan momen. Kalau ada pengadeganan yang salah, kami bisa cut lalu ulang lagi. Sedangkan di Pestapora, kami lebih banyak merespons momen yang ada. Apa yang terjadi di situ, itulah yang kami capture,” katanya.
Bagi Iqbaal, pengalaman tersebut terasa sangat spesial karena situasinya sulit untuk diulang.
“Saya tidak pernah membayangkan dalam karier saya harus melakukan proses syuting yang semasif itu. Tantangannya bukan hanya bagaimana melaksanakan shooting tanpa mengganggu festival, tetapi juga bagaimana pemain tetap fokus di dalam karakter ketika di kanan, kiri, depan dan belakang kami adalah penonton konser,” ujar Iqbaal.
Di balik tantangan produksi tersebut, Operasi Pesta Copet juga memiliki cerita mengenai asal mula gagasannya. Ide film berawal dari pengalaman Edy Khemod selama 24 tahun menjadi drummer band Seringai.
Ia mengaku cukup sering melihat pencopetan di konser, terutama ketika penonton berada di area mosh pit. Pengalaman itu semakin membekas ketika ia manggung di Solo dan melihat empat orang yang diduga copet tertangkap. Mereka ternyata datang dari Jakarta.
“Waktu itu saya berpikir, mereka dari Jakarta ke Solo, naik apa, uangnya dari mana, lalu sebenarnya mereka ke sana untuk apa? Berarti mereka memang sudah berpikir bagaimana caranya balik modal. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian menggelitik saya,” kata Edy.
Dari pengalaman tersebut, Edy mulai membayangkan sebuah film yang memadukan fenomena pencopetan dengan musik dan persoalan sosial ekonomi.
“Saya merasa bisa menggabungkan beberapa hal yang saya kenal, mulai dari Imajinari sampai Boss Creator dan Pestapora. Saya ingin membuat film yang membahas fenomena sosial yang sangat lokal, tetapi tetap punya musik dan bisa merekam seperti apa penanda zaman anak muda sekarang,” ujarnya.
Menurut Edy, pencopetan dalam film tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan yang lebih luas. Empat karakter utama datang dengan masalah masing-masing, lalu bertemu karena memiliki kebutuhan yang sama.
“Dari empat karakter ini masalahnya berbeda-beda. Ada yang punya masalah keluarga, masalah pribadi, ada juga yang punya persoalan dengan adiknya. Kemudian mereka bertemu dan punya kepentingan yang sama, yaitu butuh uang cepat. Dari situ mereka memutuskan, ya sudah, let's do it,” kata Iqbaal.
Konsep itulah yang kemudian diramu menjadi film komedi dengan latar kehidupan anak muda, musik dan persoalan ekonomi.
“Cita-citanya memang begitu. Jadi film anak muda, tapi ada kritik sosial dan ada penanda zamannya juga,” ujar Edy.
Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator tersebut menjadi bagian dari roadshow di 11 kota pada 22–31 Agustus 2026, termasuk Surabaya.
![]() |
| Narasumber media gathering Film Operasi Pesta Copet: Ernest Prakasa - Produser, Edy Khemod - Sutradara & Penulis, Iqbaal Ramadhan - Pemeran Ijal, Kristo Immanuel - Pemeran Adut, Kawai Labiba - Pemeran Melodi. |
Adegan tersebut dijalani Kawai Labiba yang memerankan Melodi. Ia harus berakting dengan latar pertunjukan musik yang benar-benar sedang berlangsung. Begitu lagu selesai, kesempatan mengambil gambar dengan latar tersebut ikut berakhir.
Edy mengatakan kondisi itu membuat proses produksi berbeda dari syuting film pada umumnya. Kru masih bisa mengulang akting pemain, tetapi situasi di belakang mereka tidak mungkin dikendalikan.
“Kalau adegannya retake, acting-nya bisa kita ulang. Tapi latarnya nggak bisa kita apa-apakan karena festival terus berjalan. Jadi kami harus memanfaatkan momen yang ada,” katanya.
Konsep tersebut menjadi bagian dari cara tim Operasi Pesta Copet menggabungkan dunia fiksi dengan suasana Pestapora yang sebenarnya. Penonton festival pada 2025 melihat pertunjukan musik seperti biasa, sementara kamera film merekam kejadian yang nantinya menjadi bagian dari cerita.
“Yang kami coba lakukan adalah menggabungkan pertunjukan yang memang asli dengan kejadian di dalam film. Jadi nanti orang bisa berpikir, ‘Loh, kok ada kejadian ini? Saya nonton tahun 2025, kok ada kejadian seperti ini?’ Magic-nya ada di situ,” ujar Edy.
Namun, tim produksi tidak sepenuhnya bergantung pada festival yang berlangsung secara nyata. Mereka membuat pula adegan dengan latar festival melalui pengambilan gambar sebelum hari-H.
Edy menjelaskan, cara tersebut diperlukan agar tim tetap memiliki kendali atas adegan yang membutuhkan pengaturan khusus. Sekitar 500 extras dikerahkan untuk menciptakan suasana festival yang kemudian dapat dipadukan dengan footage Pestapora sebenarnya.
“Jadi ada konser betulannya, tapi ada juga konser yang kami buat. Nanti secara editing shot-nya digabung-gabung. Kami juga harus memasukkan 500 extras, ratusan kru, genset dan semua kebutuhan produksi. Itu memang pengalaman yang sangat menantang,” katanya.
Pengaturan ratusan orang di lokasi juga bukan perkara mudah. Terlebih, sebagian proses pengambilan gambar dilakukan pada malam hari.
“Kami pernah harus mengatur 500 orang di tengah malam. Menggeser 500 orang jam satu malam itu luar biasa susah. Itu yang kami lakukan selama dua sampai tiga hari ketika shooting di sana,” ujar Edy.
Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal sekaligus menjadi salah satu produser film merasakan langsung skala produksi tersebut. Menurut dia, pengalaman syuting di Pestapora menjadi salah satu hal paling berbeda sepanjang kariernya.
“Festival musik Pestapora setiap harinya itu kurang lebih dihadiri 30 sampai 35 ribu orang di JIExpo Kemayoran. Kalau dikali tiga hari, jumlahnya menyentuh lebih dari 100 ribu orang. Kami harus shooting dengan kamera film, genset, lighting dan puluhan bahkan ratusan kru di tengah situasi tersebut,” kata Iqbaal.
Kondisi itu membuat pemain harus membagi konsentrasi. Mereka tetap harus menjaga karakter, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mengganggu penonton yang datang untuk menikmati konser.
![]() |
| Iqbaal Ramadhan dan Edy Khemod menceritakan tantangan syuting Operasi Pesta Copet |
Dalam produksi film biasa, sebuah adegan dapat dihentikan ketika terjadi kesalahan lalu diulang dari awal. Di Pestapora, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku karena festival terus berjalan.
“Kalau syuting film biasa, kami terbiasa menciptakan momen. Kalau ada pengadeganan yang salah, kami bisa cut lalu ulang lagi. Sedangkan di Pestapora, kami lebih banyak merespons momen yang ada. Apa yang terjadi di situ, itulah yang kami capture,” katanya.
Bagi Iqbaal, pengalaman tersebut terasa sangat spesial karena situasinya sulit untuk diulang.
“Saya tidak pernah membayangkan dalam karier saya harus melakukan proses syuting yang semasif itu. Tantangannya bukan hanya bagaimana melaksanakan shooting tanpa mengganggu festival, tetapi juga bagaimana pemain tetap fokus di dalam karakter ketika di kanan, kiri, depan dan belakang kami adalah penonton konser,” ujar Iqbaal.
Di balik tantangan produksi tersebut, Operasi Pesta Copet juga memiliki cerita mengenai asal mula gagasannya. Ide film berawal dari pengalaman Edy Khemod selama 24 tahun menjadi drummer band Seringai.
Ia mengaku cukup sering melihat pencopetan di konser, terutama ketika penonton berada di area mosh pit. Pengalaman itu semakin membekas ketika ia manggung di Solo dan melihat empat orang yang diduga copet tertangkap. Mereka ternyata datang dari Jakarta.
“Waktu itu saya berpikir, mereka dari Jakarta ke Solo, naik apa, uangnya dari mana, lalu sebenarnya mereka ke sana untuk apa? Berarti mereka memang sudah berpikir bagaimana caranya balik modal. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian menggelitik saya,” kata Edy.
Dari pengalaman tersebut, Edy mulai membayangkan sebuah film yang memadukan fenomena pencopetan dengan musik dan persoalan sosial ekonomi.
“Saya merasa bisa menggabungkan beberapa hal yang saya kenal, mulai dari Imajinari sampai Boss Creator dan Pestapora. Saya ingin membuat film yang membahas fenomena sosial yang sangat lokal, tetapi tetap punya musik dan bisa merekam seperti apa penanda zaman anak muda sekarang,” ujarnya.
Menurut Edy, pencopetan dalam film tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan yang lebih luas. Empat karakter utama datang dengan masalah masing-masing, lalu bertemu karena memiliki kebutuhan yang sama.
“Dari empat karakter ini masalahnya berbeda-beda. Ada yang punya masalah keluarga, masalah pribadi, ada juga yang punya persoalan dengan adiknya. Kemudian mereka bertemu dan punya kepentingan yang sama, yaitu butuh uang cepat. Dari situ mereka memutuskan, ya sudah, let's do it,” kata Iqbaal.
Konsep itulah yang kemudian diramu menjadi film komedi dengan latar kehidupan anak muda, musik dan persoalan ekonomi.
“Cita-citanya memang begitu. Jadi film anak muda, tapi ada kritik sosial dan ada penanda zamannya juga,” ujar Edy.
Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator tersebut menjadi bagian dari roadshow di 11 kota pada 22–31 Agustus 2026, termasuk Surabaya.


