SUARAJATIM – Judul Seni Merayu Tuhan mungkin langsung membuat orang menebak film ini sebagai tontonan religi. Namun Habib Jafar justru punya penjelasan berbeda. Film yang diadaptasi dari buku karyanya tersebut membawa cerita tentang proses panjang seseorang ketika belajar menjadi dewasa.
“Film Seni Merayu Tuhan ini bukan film religi, walaupun ada sentuhan spiritualitasnya. Secara umum adalah coming of age, mengajarkan anak muda untuk menemukan dirinya agar bisa menentukan visinya,” ujar Habib Jafar.
Menurutnya, menjadi dewasa bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada persoalan cinta, hubungan dengan orang tua, persahabatan, pekerjaan hingga pencarian jati diri yang ikut membentuk seseorang.
“Karena menjadi dewasa itu tidak mudah, menjadi dewasa itu melelahkan, sehingga kita butuh kehadiran sesuatu yang kuat untuk menemani kita,” katanya.
Film Seni Merayu Tuhan membawa kisah Hikmah yang diperankan Ari Irham. Ia merupakan pemuda yang kehilangan ibunya dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan agar bisa mendoakan mendiang sang ibu.
Perjalanan tersebut justru membawa Hikmah menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya ikut terseret dalam proses pencarian tersebut.
Bagi Habib Jafar, cerita itu kemudian berkembang menjadi perjalanan spiritual seseorang dalam proses pendewasaan. Ada kisah cinta, persahabatan serta hubungan anak dan ibu yang menjadi bagian penting dalam film.
“Sebagai seorang muslim, saya punya Allah. Sebagai seorang orang beragama, agama itu punya Tuhan. Dan siapapun pasti ingin memiliki sandaran dalam perjalanan kedewasaannya. Entah ibu, entah sahabat, entah Tuhan, atau yang lainnya,” ucap Habib Jafar.
Pengalaman menonton film tersebut juga terasa berbeda bagi Habib Jafar. Ia mengaku sudah tiga kali menyaksikan film itu, mulai dari proses editing, gala premiere hingga menontonnya bersama keluarga.
Pada saat melihat film dalam proses editing, muncul perasaan tentang hubungan dengan orang tua. Ia mengingat keinginannya dahulu untuk sukses agar memiliki lebih banyak waktu bersama orang tua.
Namun, kehidupan justru membawa situasi berbeda. Kesibukan yang datang ketika seseorang semakin sukses bisa membuat waktu bersama orang tua semakin sedikit.
Habib Jafar juga menyinggung hubungan jarak jauh antara anak dan orang tua. Menurutnya, jarak tersebut tidak selalu berkaitan dengan pasangan. Hubungan anak dan ibu yang terpisah jarak juga bisa terasa berat.
“LDR itu kan gak mesti dengan kekasih ya, LDR dengan orang tua itu menurut saya juga sangat berat atau bahkan lebih berat dari LDR dengan kekasih,” ujarnya.
Di titik itu, Seni Merayu Tuhan mencoba menyentuh pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Anak yang harus pergi jauh dari ibunya bisa merasakan beratnya jarak. Begitu pula seorang ibu yang harus menjalani hari-hari jauh dari anaknya.
Film ini juga membawa premis tentang mimpi seorang anak yang ibunya telah meninggal. Bagi Habib Jafar, mimpi tidak selalu hadir ketika seseorang sedang tidur. Mimpi juga bisa berarti harapan tentang masa depan maupun ketakutan terhadap masa lalu.
“Setiap orang itu punya mimpi. Mimpi tidak mesti saat tidur, bisa saat terbangun kita mimpi. Mimpi tentang masa depan yang lebih baik, mimpi tentang ketakutan akan masa lalu dan lain sebagainya,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap penonton bisa mengambil hikmah dari perjalanan para karakter di film tersebut. Perjalanan itu diarahkan pada usaha seseorang untuk menghadapi masa depan sekaligus berdamai dengan pengalaman yang telah dilalui.
Habib Jafar juga mengatakan dirinya merasa pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut sudah tersampaikan. Baginya, film menjadi salah satu medium dakwah yang bisa membawa pesan tentang toleransi, spiritualitas dan kehidupan anak muda.
“Saya pribadi sudah puas dan saya merasa saya sudah selesai karena saya seorang pendakwah saya bikin film untuk dakwah,” kata Habib Jafar.
Seni Merayu Tuhan diproduksi Wahana Kreator bersama PK Films, Emtek Media, Starvision, Magma Entertainment, Virtuelines Entertainment dan Suraya Filem. Film ini menjadi debut penyutradaraan Cesa David yang sebelumnya dikenal sebagai editor dan pernah meraih Piala Citra FFI.
Selain Ari Irham, film ini juga dibintangi Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo dan Alfie Alfandy.
Film Seni Merayu Tuhan dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026.
Bagi warga Surabaya yang mendapat kesempatan menonton lebih awal, film ini menawarkan cerita yang dekat dengan fase kehidupan ketika seseorang mulai meninggalkan masa remaja dan berhadapan dengan tuntutan menjadi dewasa.
Pada akhirnya, Seni Merayu Tuhan ingin membawa penonton melihat kembali bagaimana seseorang menjalani proses tersebut, mencari pegangan, menerima keadaan dan terus berjalan menghadapi hidup.
![]() |
| Habib Jafar mengajak warga Surabaya menyaksikan lebih awal film Seni Merayu Tuhan. |
Menurutnya, menjadi dewasa bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada persoalan cinta, hubungan dengan orang tua, persahabatan, pekerjaan hingga pencarian jati diri yang ikut membentuk seseorang.
“Karena menjadi dewasa itu tidak mudah, menjadi dewasa itu melelahkan, sehingga kita butuh kehadiran sesuatu yang kuat untuk menemani kita,” katanya.
Film Seni Merayu Tuhan membawa kisah Hikmah yang diperankan Ari Irham. Ia merupakan pemuda yang kehilangan ibunya dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan agar bisa mendoakan mendiang sang ibu.
Perjalanan tersebut justru membawa Hikmah menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya ikut terseret dalam proses pencarian tersebut.
Bagi Habib Jafar, cerita itu kemudian berkembang menjadi perjalanan spiritual seseorang dalam proses pendewasaan. Ada kisah cinta, persahabatan serta hubungan anak dan ibu yang menjadi bagian penting dalam film.
“Sebagai seorang muslim, saya punya Allah. Sebagai seorang orang beragama, agama itu punya Tuhan. Dan siapapun pasti ingin memiliki sandaran dalam perjalanan kedewasaannya. Entah ibu, entah sahabat, entah Tuhan, atau yang lainnya,” ucap Habib Jafar.
Pengalaman menonton film tersebut juga terasa berbeda bagi Habib Jafar. Ia mengaku sudah tiga kali menyaksikan film itu, mulai dari proses editing, gala premiere hingga menontonnya bersama keluarga.
Pada saat melihat film dalam proses editing, muncul perasaan tentang hubungan dengan orang tua. Ia mengingat keinginannya dahulu untuk sukses agar memiliki lebih banyak waktu bersama orang tua.
Namun, kehidupan justru membawa situasi berbeda. Kesibukan yang datang ketika seseorang semakin sukses bisa membuat waktu bersama orang tua semakin sedikit.
Habib Jafar juga menyinggung hubungan jarak jauh antara anak dan orang tua. Menurutnya, jarak tersebut tidak selalu berkaitan dengan pasangan. Hubungan anak dan ibu yang terpisah jarak juga bisa terasa berat.
“LDR itu kan gak mesti dengan kekasih ya, LDR dengan orang tua itu menurut saya juga sangat berat atau bahkan lebih berat dari LDR dengan kekasih,” ujarnya.
Di titik itu, Seni Merayu Tuhan mencoba menyentuh pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Anak yang harus pergi jauh dari ibunya bisa merasakan beratnya jarak. Begitu pula seorang ibu yang harus menjalani hari-hari jauh dari anaknya.
Film ini juga membawa premis tentang mimpi seorang anak yang ibunya telah meninggal. Bagi Habib Jafar, mimpi tidak selalu hadir ketika seseorang sedang tidur. Mimpi juga bisa berarti harapan tentang masa depan maupun ketakutan terhadap masa lalu.
“Setiap orang itu punya mimpi. Mimpi tidak mesti saat tidur, bisa saat terbangun kita mimpi. Mimpi tentang masa depan yang lebih baik, mimpi tentang ketakutan akan masa lalu dan lain sebagainya,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap penonton bisa mengambil hikmah dari perjalanan para karakter di film tersebut. Perjalanan itu diarahkan pada usaha seseorang untuk menghadapi masa depan sekaligus berdamai dengan pengalaman yang telah dilalui.
Habib Jafar juga mengatakan dirinya merasa pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut sudah tersampaikan. Baginya, film menjadi salah satu medium dakwah yang bisa membawa pesan tentang toleransi, spiritualitas dan kehidupan anak muda.
“Saya pribadi sudah puas dan saya merasa saya sudah selesai karena saya seorang pendakwah saya bikin film untuk dakwah,” kata Habib Jafar.
Seni Merayu Tuhan diproduksi Wahana Kreator bersama PK Films, Emtek Media, Starvision, Magma Entertainment, Virtuelines Entertainment dan Suraya Filem. Film ini menjadi debut penyutradaraan Cesa David yang sebelumnya dikenal sebagai editor dan pernah meraih Piala Citra FFI.
Selain Ari Irham, film ini juga dibintangi Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo dan Alfie Alfandy.
Film Seni Merayu Tuhan dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026.
Bagi warga Surabaya yang mendapat kesempatan menonton lebih awal, film ini menawarkan cerita yang dekat dengan fase kehidupan ketika seseorang mulai meninggalkan masa remaja dan berhadapan dengan tuntutan menjadi dewasa.
Pada akhirnya, Seni Merayu Tuhan ingin membawa penonton melihat kembali bagaimana seseorang menjalani proses tersebut, mencari pegangan, menerima keadaan dan terus berjalan menghadapi hidup.

