Film Laut Bercerita Ajak Generasi Muda Memahami Sejarah Kelam 1998

SUARAJATIM – Kisah penghilangan paksa aktivis mahasiswa pada era 1990-an kembali diangkat melalui film layar lebar Laut Bercerita. Diadaptasi dari novel terlaris karya Leila S. Chudori, film ini mengajak generasi muda memahami sejarah melalui cerita tentang persahabatan, kehilangan, dan keluarga yang terus menanti kepastian.
Sutradara dan pemain Film Laut Bercerita dalam rangkaian promosi di XXI Tunjungan Plaza Surabaya
Sutradara Yosep Anggi Noen mengungkapkan, proses mengadaptasi novel setebal sekitar 400 halaman tersebut menjadi film membutuhkan waktu panjang. Tim produksi harus memilah bagian cerita yang dapat divisualisasikan tanpa menghilangkan esensi karya aslinya.

Anggi mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menggarap skenario sebelum film memasuki tahap produksi. Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan cerita yang telah memiliki tempat kuat di hati pembaca ke dalam bahasa gambar.

Film Laut Bercerita diputar dalam rangkaian promosi di XXI Tunjungan Plaza Surabaya, Sabtu (24/10/2026), sebelum penayangan serentak di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.

Meski berdurasi lebih dari dua jam, penonton di Surabaya mengikuti jalannya cerita hingga akhir. Ketegangan dalam kisah pencarian para aktivis menjadi salah satu bagian yang mengikat perhatian penonton.

“Dalam karya film kali ini, yang kami pilih berbicara tentang masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya masih belum memiliki kejelasan hingga sekarang, seperti kasus orang hilang, pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya,” ujar Yosep Anggi Noen.

Menurut dia, film ini diharapkan menjadi jendela bagi masyarakat untuk memahami sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Pemahaman terhadap masa lalu dinilai penting agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

“Caranya adalah dengan membuat film yang kemudian bisa menjadi jendela bagi kita untuk melihat sejarah kita yang masih belum terselesaikan dan masih gelap. Sebab, menyongsong masa depan yang lebih baik adalah ketika kita memiliki kejelasan tentang sejarah kita,” tuturnya.

Adaptasi Novel Terlaris Jadi Tantangan
Novel Laut Bercerita terbit pada 2017 dan telah mengalami 125 kali cetak ulang, dengan penjualan lebih dari satu juta eksemplar berdasarkan keterangan dalam konferensi pers.

Popularitas tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim produksi. Pembaca telah memiliki gambaran tentang karakter, suasana, dan perjalanan emosional para tokoh. Sementara itu, film memiliki keterbatasan durasi sehingga sejumlah bagian cerita harus diseleksi.

Skenario film ditulis melalui kolaborasi Leila S. Chudori dan Yosep Anggi Noen. Materi novel kemudian dipadatkan menjadi film berdurasi sekitar 2 jam 10 menit dengan mempertahankan inti cerita.

Tim produksi juga melakukan penyesuaian dalam pemilihan lokasi, aktor, kostum, dan pemeran pendukung untuk menghadirkan suasana mahasiswa pada akhir 1990-an. Detail visual tersebut menjadi bagian penting dalam membangun latar sejarah cerita.

Film ini dibintangi Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, dan sejumlah aktor lainnya.

Kisah Fiksi yang Bersinggungan dengan Sejarah
Berlatar Yogyakarta pada akhir 1990-an, Laut Bercerita mengikuti perjalanan Biru Laut, mahasiswa yang gemar membaca dan menulis. Ia bergabung dengan kelompok studi Winatra bersama sejumlah rekannya di tengah situasi politik yang penuh tekanan.

Pergerakan mereka berujung pada peristiwa hilangnya Laut dan beberapa kawannya. Keluarga, termasuk kedua orang tua dan adiknya, Asmara Jati, kemudian menjalani penantian panjang untuk mendapatkan kabar tentang keberadaan mereka.

Walaupun tokoh dan alur ceritanya berbentuk fiksi, film ini bersinggungan dengan sejarah penghilangan paksa aktivis serta persoalan hak asasi manusia di Indonesia.

Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) turut memberikan pendampingan dalam proses penggarapan film. Keterlibatan tersebut dimaksudkan untuk membantu menghadirkan gambaran yang selaras dengan konteks sejarah dan pengalaman keluarga korban.

Ketua IKOHI, Dandik Adhisura, berharap film ini mendorong anak muda mencari tahu lebih jauh tentang peristiwa 1998.

“Oleh karena itu, kami merasa bahwa meskipun Laut Bercerita merupakan cerita fiksi, novel dan film. Ini bisa menjadi pemantik bagi anak-anak muda untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa tahun 1998,” ujar Dandik.

Melalui kisah Laut dan keluarganya, film ini membawa penonton melihat dampak kehilangan dari sudut pandang orang-orang yang ditinggalkan. Penantian keluarga menjadi bagian penting dalam cerita, sekaligus menggambarkan bahwa persoalan orang hilang tidak berhenti pada peristiwa penculikan, tetapi juga menyisakan luka dan pertanyaan bagi orang-orang terdekatnya.

Laut Bercerita diproduksi Palet Pictures, bagian dari Tempo Grup, dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Film ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, memahami nilai kemanusiaan, serta menjaga ingatan terhadap peristiwa masa lalu.
LihatTutupKomentar