10 Tahun Ngamen, Noviana Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik di Unair

pengamen unair
Noviana Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik di Unair

Suarajatim.com - Keterbatasan ekonomi ternyata sama sekali tak menyurutkan tekad Noviana untuk menuntaskan pendidikannya. Tak hanya menyelesaikan dengan cara biasa-biasa saja, ia bisa meraih gelar sebagai wisudawan terbaik di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Ia meraih IPK 3,94 dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Gadis kelahiran Surabaya 1995 ini harus merasakan kerasnya kehidupan di jalanan Surabaya untuk membantu orangtua mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ayahnya, Sutrisno hanyalah seorang tukang becak dengan penghasilan tak menentu.

"Selama 10 tahun mengamen di jalan. Dari TK hingga SMP," ujar Noviana.

Baca juga: Kompetisi Debat Bahasa Inggris untuk Pengembangan Diri 

Ia menuturkan, kalau orangtuanya tidak setuju anaknya untuk turun ke jalan mencari nafkah. Namun, karena keinginan Noviana dan saudaranya yang ingin bantu orangtua sehingga akhirnya diperbolehkan mengamen di jalan.

Namun, orangtua Noviana selalu mengingatkan kalau jangan jadikan jalanan sebagai sumber utama untuk mencari kehidupan. Orangtua Noviana juga tetap memperhatikan kondisi anak-anaknya.

"Penghasilan mengamen juga dikembalikan ke anak-anaknya untuk makan, beli vitamin dan buku," tutur Noviana.

Baca juga: Jelang Ujian Akhir, Siswa SD di Eks Lokalisasi Kremil Gelar Istighosah dan Basuh Kaki Orang Tua 

Noviana juga diajarkan berdisiplin oleh orangtuanya. Ia hanya diperbolehkan mengamen saat sore. Saat siang sepulang sekolah, ia diwajibkan untuk tidur siang.

Hal ini juga yang membantu dirinya dan saudaranya tidak terpengaruh kehidupan keras jalanan. Noviana mengatakan, orangtuanya selalu melindungi anak-anaknya agar tidak terpengaruh kehidupan jalanan.

"Orangtua selalu bisa bawa suasana tidak tertekan, tetap bahagia,” ujar Noviana.

Noviana mengatakan, di sela-sela mengamen tersebut, ia juga menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Hal itu juga menuntut dia tetap untuk konsentrasi. Selain itu, ayahnya juga seperti ikut belajar bersama dia.

"Bapak selalu antar jemput sekolah. Dalam perjalanan itu, bapak selalu nanya, jadi ikut belajar,” tutur Noviana.

Ia mengingat ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), pernah menemui soal pelajaran biologi yang belum ketemu jawabannya. Ia pun mencurahkan kekesalan kepada bapaknya kalau tidak menemukan jawaban dari soal pelajaran biologi itu.

Bapaknya menuturkan, kepada dirinya kalau tidak ada pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Bapak Noviana meminta anaknya untuk kembali benar-benar membaca buku lagi, dan akhirnya menemukan jawaban. Sejak itu, ia pun selalu mengingat pesan bapaknya untuk jangan menyerah dalam menemukan jawaban.

Bertemu Walikota

Karena mengamen di jalanan, Noviana beberapa kali harus berhadapan dengan kejaran aparat keamanan. Ia juga pernah ditahan di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos), karena aktifitasnya itu. "Sering dikejar-kejar aparat, mungkin orangnya sampai bosan. Saya dan kakak pernah ditangkap,” tuturnya.

Suatu kali, saat ditahan di Liponsos, ia bertemu dengan Walikota Surabaya yang kala itu masih dijabat oleh Bambang DH. Kepada Bambang DH, ia meminta diberi pekerjaan sampingan agar bisa sekolah dengan lancar.

Oleh Bambang DH, dua hal tersebut disanggupi. Singkat cerita, Noviana pun meninggalkan mengamen di jalan sekitar kelas 2 SMP.

Noviana pun menjalani hari-harinya dengan kesibukan sekolah. Ia tekun belajar dan berusaha untuk masuk IPA. Ini lantaran dirinya ingin menjadi guru matematika dan melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Akan tetapi, jalan Tuhan berbeda. Noviana  mendapatkan jalur undangan untuk masuk ke Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

"Saya bertemu seseorang yang menilai kalau saya cocoknya di Fakultas Hukum. Kalau mau mengabdi ke masyarakat tidak harus jadi guru, bisa lewat bidang hukum. Karena orang itu tahu karakter saya jadi seperti menepati untuk masuk ke fakultas hukum. Memang semakin kita menghindari malah itu yang didapat. Jadi saya dapat jalur undangan untuk masuk fakultas hukum,” ujar dia.

Mandiri Selama Kuliah

Selama kuliah, Noviana berusaha untuk tidak merepotkan orangtuanya. Ia berusaha untuk mencari uang sendiri mulai dari membantu fotokopi materi kuliah teman-temannya, berdagang aksesoris, menjadi atlet panahan.

Panahan ia tekuni dengan serius. Ia pun dikirim mengikuti pekan olahraga panahan (Porprov) untuk kontigen Surabaya. Ia berhasil mendapatkan medali emas dan perak dari ajang tersebut. Hasil dari itu juga membantu untuk biaya kuliahnya.

Sejak memasuki semester lima, ia juga mendapatkan beasiswa. Praktis sejak itu, soal biaya kuliah sudah mendapatkan jalan keluar.

"Saya juga ikut di Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum FH Universitas Airlangga, untuk membantu menambah ilmu," katanya.

Rencananya, ia akan melanjutkan kuliah ke jenjang S2, sebagai jalan pembuka bagi cita-citanya untuuk menjadi seorang hakim.

Kepada rekan-rekan sebayannya yang kebetulan juga berada dalam kondisi yang kurang mampu seperti dirinya, ia berbagi semangat, “Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi tetapi bagaimana usaha yang bisa kita maksimalkan. Masa depan ada di tangan kita, bukan orang lain. Jangan mengharapkan orang lain. Tuhan pun akan beri rezeki. Kemudian komitmen dengan pilihan kita. Jangan jadikan misalkan pada semester awal kuliah mengambil jurusan kuliah karena pilihan orangtua jadinya malas-malasan. Tetapi komitmen dengan pilihan kita karena kita sudah memasuki pilihan itu. Komitmen dengan pilihan kita hingga dapat kesuksesan," paparnya.

LihatTutupKomentar