Kompetisi Debat Bahasa Inggris untuk Pengembangan Diri

kompetisi debat bahasa inggris
Deja, Rachel dan Yudha - Foto:perspektifbaru

Jakarta, Suarajatim.com - Contoh dari anak muda yang konstruktif yang memberi harapan dan juga punya skill set tertentu di bidang bahasa dan dalam interaksi sosial khususnya debat. Mereka adalah penggiat debating society atau english society yang ada di SMA 70 Jakarta yang saat ini dipimpin oleh Rachelle.

Rachelle memimpin English Community 70 pada tahun ini. Dia mempunyai 2 rekan dalam tinya yaitu Yudha dan Deja. Mereka berdua adalah speaker yang saling membantu satu sama lain dalam kompetisi dan pelatihan di debat.

Baca juga: Jelang Ujian Akhir, Siswa SD di Eks Lokalisasi Kremil Gelar Istighosah dan Basuh Kaki Orang Tua 

Rachelle dan kawan-kawan sangat rajin berlatih.”We spend approximately 48 hours per week for practice. Untuk latihan sendiri saja kita tidak berhenti satu hari pun. Hari Sabtu dan Minggu pun kita juga latihan dari pukul 09.00 sampai sekitar 16.00. Itu pun sudah seperti sekolah biasa. Hari biasa sepulang sekolah pun kita juga latihan dari pukul 15.00 – 18.00. Sebisa mungkin kita aktif untuk latihan,” ungkapnya.

Waktu bermain pun hanya sempat ketika di sekolah saja.

Ini sangat mengesankan sekali, mengingat kaum muda seperti mereka berpikiran luas sehingga memilih bidang ini untuk menghabiskan waktu.  Robert Kennedy pernah mengatakan, “It matters not if you spend time away from school but what matters is what you spended for.” Kalau kita menghabiskan waktu untuk duduk di cafe maka bagus saja, tapi lebih bagus lagi kalau ada kegiatan yang konstruktif.

“Saya pikir English Debate sangat berat pada saat itu, tapi setelah saya turun langsung dan mencoba ternyata English Debate sangat mudah karena di situ kita diberikan ruang untuk betul-betul latihan dari dasar. Jadi tidak langsung diberi latihan yang berat.  Dari situ saya belajar dan lama-kelamaan pikiran saya lebih berat lagi. Ini mungkin karena pengetahuan saya jauh lebih luas, dan concern saya makin terbuka,” imbuh Rachel.

“Pada saat ini pejabat, pegawai, dan pengusaha adalah orang-orang yang lahir pada 1900-an, sedangkan English Debate muncul pada tahun 2000-an. Jadi pemikiran dan gagasan yang sistematik yang ada di sekolah-sekolah baru muncul pada tahun itu. Saya pikir mungkin dengan  bergabung dengan English Debate, maka saya bisa membantu angkatan saya ketika nanti kami semua ada yang akan menjadi pengusaha, orang pemerintahan, pejabat, dan sebagainya. Ini akan menjadi kesempatan kita untuk bisa belajar diplomasi dan negosiasi yang mungkin pada tahun itu sangat minim aksesnya.”

Bicara masalah politik, Deja membandingkan dengan tahun 1998, maka ruang untuk membuka opini setelah 1998 jauh lebih terbuka. “Misalnya kita mau mengekspresikan opini kita maka bisa saja itu membuat kita dalam bahaya. Setelah 1998 sudah lebih terbuka peluang untuk membuka opini,” katanya.

“Mungkin ini merupakan salah satu alasan English Debate mulai ramai pada 2000-an. Dengan adanya ruang yang sangat besar untuk membuka opini maka ini tidak bisa disia-siakan karena kita sudah mendapat dukungan dengan ruang sebesar ini. Jadi kita harus dengan cara se-kreatif mungkin untuk mengekspresikan opini kita kepada orang banyak, misalnya dengan debat ini.”

“Debat ini beda dengan komunikasi lain seperti pidato karena interaksi dalam dua pihak yang terlibat sangat berbeda. Dalam debat kita tidak hanya berbicara satu sama lain, tetapi juga menjaga gagasan, ide, argumen atau analisis kita. Jadinya bagi saya lebih kompetitif untuk  dibandingkan dengan pidato,” kata Deja yang bercita-cita jadi pengusaha ini.

Yudha yang bercita-cita menjadi dokter mempunyai hobi membaca berita tentang hubungan internasional, ekonomi, dan politik. “Mengenai cita-cita saya sebagai dokter, sebenarnya saya ingin bertanggung jawab kepada lingkungan dan bangsa saya. Ketika saya mau mengamalkan skill  untuk keselamatan orang lain, setidaknya saya bisa memberi sesuatu untuk bangsa saya. Seperti yang John F Kennedy katakan “Jangan pernah menanyakan apa yang bangsa kamu berikan kepada kamu, tetapi kamu tanyakan diri kamu apa yang kamu telah berikan untuk bangsa kamu,” ungkap Yudha.

Lantas bagaimana tentang topik debat yang dibawakan Rachel dan kawan-kawan? Untuk topik sejauh ini sudah ditentukan oleh coach atau juri kami yang sudah tersertifikasi. Jadi semua pembahasan itu sudah sempat dikaji sendiri oleh pelatih. Sertifikasinya pun juga ketat karena kalau skornya tidak sesuai batas, maka dia tidak bisa menjadi coach atau tidak bisa menilai kita saat debat.

Salah satu topik Internasional yang menarik menurut Yudha adalah Belt and Road Initiative yang dibuat oleh Republik Rakyat Tiongkok. Mereka memberikan suatu dana pinjaman infrastruktur yang sangat besar kepada negara-negara berkembang untuk menjalin kerjasama hubungan dagang dengan Republik Rakyat Cina. Itu sangat menarik untuk melihat dari perspektif beberapa negara, dari negara Republik Rakyat Cina maupun dari negara yang dipinjamkan oleh debitur, juga dari negara seperti Amerika Serikat yang hegemoninya sedang tersaingi oleh China.

Menurut Deja, salah satu yang pasti diperdebatkan adalah pengaruh Cina dalam negara yang diberikan inisiatif tersebut. Kita bisa mengambil contoh Sri Lanka, yang memberikan salah satu pelabuhannya sebagai leasing selama 99 tahun. Itu karena terkadang negara-negara yang dipinjamkan  cenderung ada potensi tidak bisa membayar. Jadinya mereka menggunakan salah satu exit mechanism dengan leasing.

Ini bisa menjadi concern atau menjadi salah satu yang diperdebatkan. Tapi kita juga bisa melihat benefit yang bisa diambil dalam inisiatif itu karena selain ini adalah pembangunan infrastruktur yang membuat hampir seluruh jalur yang terkena silkroad atau jalur sutera di zaman Medieval (abad pertengahan) itu terkoneksi satu sama lain. Juga membangun koneksi soft power ke Cina yang bisa menyaingi Amerika. Perspektif baik atau buruknya itu tergantung saat berdebat dimana.

Sumber: www.perspektifbaru.com
LihatTutupKomentar