iklan jual beli mobil

Guru Silat LDII Kembangkan Mobil Listrik Otonom, Dikukuhkan Jadi Guru Besar PENS

  • Passion Mobil Listrik Prof. Dedid Cahya Happyanto Sejak SD 

mobil otonom indonesia


Surabaya, Suarajatim.com - Prof. Dr. Ir. Dedid Cahya Happyanto, MT bersama LPPM UPN Veteran Jawa Timur berhasil menciptakan prototipe mobil listrik otonom (autonomous electric vehicle).

Atas penelitiannya ini, Prof. Dr. Ir. Dedid Cahya Happyanto, MT dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Intelligent Control dan Electric Vehicle di Departemen Teknik Elektro Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Pengukuhan di Ruang Auditorium, Gedung Pascasarjana PENS, Surabaya, Selasa (21/3), dipimpin oleh Direktur PENS.

Penelitian ini dilakukan di tengah-tengah kesibukan Prof. Dedid sebagai seorang dosen dan Ketua Persinas ASAD Jawa Timur, perguruan silat LDII.

Inovasi Mobil Listrik Otonom Berbasis IoT, Prof. Dedid Cahya

Prof. Dedid mengatakan bahwa pemerintah sedang fokus untuk menerapkan mobil listrik di Indonesia mengingat polusi udara dan air semakin meningkat. Beberapa pihak swasta sudah mulai membangun sistemnya, termasuk pabrikan otomotif dari Jepang yang sudah riset dan membangun sistemnya.

“Insya Allah dalam waktu dekat sudah bisa diaplikasikan. Hanya pemerintah yang mempersiapkan infratrukturnya, itu yang belum,” kata Prof. Dedid.

Perpres No 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan menjadi rencana pemerintah untuk mengarah ke sana.

“Ini semua pabrikan sedang berlomba-lomba. Beberapa pabrikan dari Korea, dari Jepang, sudah berlomba-lomba. Dari Eropa pun sudah berlomba-lomba untuk menyiapkan mobil listrik ini. Mengapa? 2030 pemerintah Indonesia sudah mencanangkan itulah saatnya menggunakan mobil listrik. Sekarang tinggal tujuh tahun lagi menyiapkan itu,” tambah Dedid.

Menurut Dedid, orasi ilmiah yang ia sampaikan merupakan konsep dan ide yang akan ditawarkan kepada pemerintah, karena pemerintah masih fokus pada electric vehicle saja.

“Nanti akan kami tawarkan pada pemerintah konsepnya seperti ini. Karena apa? Kota-kota besar sudah bersiap-siap kesana. Contohnya. Ada di Dubai. Meskipun bukan kota besar tetapi merupakan kota modern. Semua transportasinya juga sudah modern di sana,” kata Dedid.

Mobil listrik merupakan passion pribadinya sejak kelas 5 SD, dan ia berharap konsep dan ide yang ia sampaikan dapat membantu pemerintah untuk mempersiapkan infrastruktur yang terkait dengan penggunaan mobil listrik di Indonesia.

Dalam menjawab kebutuhan transportasi di Indonesia, Prof. Dr. Ir. Dedid Cahya Happyanto, MT menambahkan bahwa transportasi massal dan personal sebenarnya sama saja. Hanya saja, jika semua orang menggunakan transportasi pribadi, maka deretan kemacetan di jalan semakin tinggi.

Oleh karena itu, yang harus diutamakan adalah transportasi massal yang berbasis elektrik. Baik itu di darat, udara, menggunakan rel, atau yang lainnya. Yang penting adalah mengatasi kemacetan agar tidak terjadi di jalan.

“Maka dari itu, pemerintah harus segera menghitung dan tidak hanya meluncurkan mobil-mobil baru,” ujar Dedid.

Salah satu jenis mobil listrik yang sedang dikembangkan adalah mobil listrik yang berbasis kecerdasan buatan. Menurut Dedid, manusia saat ini semakin ingin menikmati kenyamanan saat berkendara dengan mobil listrik.

“Nanti setelah mobil listrik ini sudah jadi, kita akan lengkapi dengan sensor. Yang penting adalah kenyamanan pengguna ketika duduk atau tiduran di dalam mobil. Misalnya, ketika seseorang berangkat dari rumah ke kampus, mobil sudah sampai di depan pintu. Harapannya adalah seperti itu,” jelas Dedid.

Dedid juga mengingatkan bahwa keberhasilan mobil listrik membutuhkan dukungan dari masyarakat.

“Semua masyarakat harus patuh pada semua peraturan lalu lintas. Tanpa itu, akan sulit untuk mengimplementasikan mobil listrik di Indonesia. Karena jika tidak, akan terjadi kecelakaan, terutama pada pengendara sepeda motor. Sepeda motor yang melaju terlalu dekat dengan mobil, dapat mengganggu dan berpotensi menimbulkan kecelakaan. Oleh karena itu, baik pemerintah maupun masyarakat harus bekerja sama untuk mewujudkan transportasi yang lebih aman dan nyaman di Indonesia,” tutup Dedid.

LihatTutupKomentar