DBD Naik Terus, Wolbachia Solusi atau Bahaya Tersembunyi? Mantan Menteri Kesehatan Buka Suara

  • Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, memberikan peringatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap melonjaknya kasus DBD. Pasalnya, gejala DBD saat ini berbeda dan lebih mematikan dibanding sebelumnya.


Suarajatim.com - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia sedang tinggi. Berdasarkan data Kemenkes, p
er 1 Maret 2024 ada hampir 16.000 kasus DBD terjadi di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan 124 kematian. Angka ini diperkirakan akan terus naik hingga bulan April seiring dengan musim hujan setelah El Nino. 

Memang, DBD dapat diobati. Namun apa yang terjadi saat ini nampaknya mengharuskan masyarakat lebih waspada. Pasalnya, DBD yang kini merebak memiliki gejala yang tidak biasa dibanding sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan di era SBY, melalui laman Instagramnya @siti_fadilah_supari.

Pada video tersebut, Siti Fadilah menceritakan apa yang dialami oleh keponakan dan tetangganya yang meninggal dalam waktu singkat setelah divonis DBD.

"Saya baru saja kehilangan ponakan saya yang berusia 37 tahun. Dia meninggal setelah sakit selama 4 hari dengan gejala panas, muntah-muntah, dan didiagnosa mengalami demam berdarah. Ternyata tetangga saya, seorang ibu lansia juga mengalami hal yang sama, yakni demam, muntah, lalu dalam waktu singkat meninggal dunia. Ini demam berdarah dengan tipe dengue shock syndrome," katanya dikutip Selasa (16/4).

Dengue shock syndrome sendiri merupakan komplikasi dari DBD yang umumnya terjadi pada hari ke 3 dan 4 sejak hari pertama sakit. Jika tidak ditangani dengan baik, pasien akan mengalami syok dan beresiko meninggal dunia.

"Dengue shock syndrome bisa disebut juga sebagai demam berdarah yang complicated karena virusnya berbeda. Di mana dia membuat pasiennya shock sehingga berapapun diberikan trombosit tetap tidak akan membaik dan angka kematian naik hingga 30 persen, dan biasanya tidak tertolong," kata Siti Supari.

Gejala utama yang menunjukkan DBD beralih menuju DSS adalah jumlah trombosit yang terus merosot hingga di bawah 100.000 per mililiter dan hematokrit meningkat. Ini dapat menimbulkan kebocoran plasma yang mengakibatkan syok hipovolemik.

Pada kondisi ini pasien biasanya mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, kaki dan tangan pucat, dingin dan lembab, nadi melemah, lesu, gelisah, pendarahan, hingga jumlah urin menurun. Gejala ini disertai dengan demam lebih dari 3 hari disertai nyeri otot, nyeri di belakang telinga, dan sakit kepala.

Melihat fenomena ini, Siti Supari mengaitkannya dengan gerakan pemerintah yang sebelumnya menyebarkan nyamuk Wolbachia di beberapa daerah di Indonesia sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1341 Tahun 2022. Di antaranya Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang. Metode Wolbachia ini merupakan hasil inovasi dari World Mosquito Program (WMP), yang telah diterapkan di 14 negara, termasuk Indonesia.

"Demam berdarah tengah melanda Jakarta, dan lucunya, menurut Dinkes, Jakarta Barat memiliki angka DBD tertinggi (data 8 Maret 2024). Sedangkan dari seluruh wilayah di Jakarta, hanya Jakarta Barat ini yang mendapat penyebaran Wolbachia. Nampaknya pemberian Wolbachia tidak berefek baik, justru malah memberi dampak yang lebih dahsyat. Apakah ini ada hubungannya atau tidak, mestinya diteliti. Tapi kayaknya sih tidak ada yang meneliti tuh," ungkap Siti Supari.

Secara sederhana, Wolbachia adalah bakteri yang mampu menonaktifkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Melalui mekanisme perkawinan silang, nyamuk jantan yang mengandung Wolbachia dapat menghentikan penularan virus dengue pada nyamuk betina, dan sebaliknya.

Dengan menyebarkan bibit nyamuk yang mengandung Wolbachia ke populasi alami, diharapkan keturunan nyamuk setempat juga membawa Wolbachia, sehingga terbentuk perlindungan yang berkelanjutan.

Siti Supari melanjutkan, berdasarkan keterangan Dinkes Bandung yang dirilis di berbagai media, DBD sekarang ini karakternya berbeda dengan dulu.

"Bandung juga termasuk daerah yang disebarkan Wolbachia, yakni di Ujung Berung. Apakah ini gak ada hubungannya? Ini harusnya ada yang benar-benar mempelajari dengan baik. Kalau mau bicara pengaruh musim, kan musim di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, semuanya sama, tapi kenapa hanya Jakarta Barat yang DBD-nya melonjak? Begitu juga dengan Bandung," kata Siti.

Ia juga mengkhawatirkan rencana pemerintah menambah sebaran Wolbachia lagi.

"Malah Menteri Kesehatan mau menambah Wolbachia lagi karena kasus DBD naik. Oh no, menurut saya jangan Pak Menteri, jangan lagi menambah Wolbachia. Saya jadi ingat, di Brazilia mau disebarkan 5 milyar nyamuk. Ternyata bukannya menurunkan angka penderita demam berdarah, malah menaikkan hingga 400 persen," kata Siti Supari,

"Sekarang demam berdarah ini banyak menimpa dewasa hingga lansia. Lalu apakah perlu vaksin? Justru mungkin vaksin ada gunanya di saat-saat seperti sekarang ini. Tapi masalahnya, belum ada izin dari WHO. Sedangkan katanya dengan fogging sudah tidak mempan. Apakah dengan abatisasi masih mempan? Saya juga belum tahu," lanjutnya.

Ia berharap masyarakat jangan panik, namun harus terus meningkatkan kewaspadaan. Utamanya dengan menjalani gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M yakni Menguras, Menutup, dan Mengubur. Lakukan secara rutin seminggu sekali agar Anda dan keluarga terhindar dari penyakit DBD.
LihatTutupKomentar