SUARAJATIM - Air mata jatuh di tengah keramaian mal. Bukan adegan film, melainkan curahan hati penonton yang merasa hidupnya tersentuh langsung. Meet & Greet film Tuhan Benarkah Kau Mendengarku? di Atrium Ciputra World Surabaya, Jumat (30/1/2026), menjelma ruang aman untuk berbagi luka.
“Film ini relate dengan kehidupan saya. Bedanya, ayah saya nggak meninggal,” ucap Dias dengan suara bergetar.
Kalimat itu langsung mengubah suasana. Dias mengaku pernah berada di fase kehilangan arah. Ia bingung harus pulang ke mana dan merasa sendirian, seperti yang dialami Laila di film tersebut.
“Saya juga mengalami hal yang sama persis dengan Kak Laila, setelah bingung mau ke mana nggak ada tempat pulang. Alhamdulilah nggak sampai dugem. Tetapi, nggak apa-apa itu semua bisa terlewat,” katanya.
Cerita lain datang dari Heri. Pengalamannya tumbuh di keluarga yang terpecah meninggalkan bekas panjang.
“Ayah saya bahkan sampai nikah tiga kali,” ungkap Heri tanpa ragu.
Situasi itu membuatnya hidup berpindah-pindah sejak kecil.
“Pulang sekolah biasanya saya ke rumah ayah. Setelah pulang dari les, baru pulang ke rumah ibu,” tuturnya.
Curhatan itu disambut empati para pemain.
Megan Domani, pemeran Laila, menegaskan bahwa ujian hidup bukan akhir segalanya.
“Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya,” kata Megan.
Ia juga menyampaikan bahwa latar keluarga tidak menentukan arah hidup seseorang.
“Meskipun kita dari keluarga broken home, outputnya belum tentu buruk, kadang kita menjadi lebih strong,” lanjutnya.
Revalina S Temat yang memerankan Sarah ikut memberi penguatan. Menurutnya, luka adalah bagian dari proses bertumbuh.
“Ujian pasti ada, bagaimana cara kita menyikapinya. Keluarga harmonis sebenarnya nggak ada, nggak ada keluarga yang sempurna, tetapi yang ada kita harus bersyukur,” tegas Revalina.
Ia menutup dengan pesan yang membuat penonton terdiam.
“Ujian itu bukti Allah cinta sama Kak Dias. Tetap kuat ya. Semangat terus. Jangan pernah berhenti berdoa. Karena Allah pasti mendengar doa-doa kita.”
Potret Luka Ibu Tunggal
Film religi drama produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini berangkat dari realitas yang dekat dengan banyak keluarga. Sarah, seorang ibu tunggal, harus membesarkan anak remajanya seorang diri setelah perceraian.
Tekanan hidup makin berat ketika Sarah dipaksa menerima kembali mantan suaminya, Satrio, yang terserang stroke. Situasi makin rumit karena Satrio datang bersama istri barunya untuk tinggal di rumah yang sama.
Konflik itu menghadirkan gambaran ujian emosional seorang ibu tunggal. Ia dihadapkan pada masa lalu, luka lama, dan pilihan sulit yang menguras batin.
“Sarah berada di titik terendah hidupnya dan harus memilih apakah ia mau bangkit atau tenggelam,” papar Revalina.
Produser Robert Ronny menyebut cerita ini lahir dari pergulatan batin perempuan di kehidupan nyata.
“Film ini adalah refleksi tentang perempuan yang mempertaruhkan harga diri, anaknya, dan masa depannya. Sarah diuji dari segala arah, oleh keluarga, lingkungan, bahkan dirinya sendiri,” katanya.
Tuhan Benarkah Kau Mendengarku? tayang serentak di bioskop Indonesia sejak Kamis (29/1/2026). Film ini hadir sebagai cermin bagi penonton yang tumbuh dari keluarga retak dan belajar kuat lewat luka yang sama.
![]() |
| Penonton menyampaikan pengalaman hidup usai menyaksikan film Tuhan Benarkah Kau Mendengarku? di Surabaya |
Kalimat itu langsung mengubah suasana. Dias mengaku pernah berada di fase kehilangan arah. Ia bingung harus pulang ke mana dan merasa sendirian, seperti yang dialami Laila di film tersebut.
“Saya juga mengalami hal yang sama persis dengan Kak Laila, setelah bingung mau ke mana nggak ada tempat pulang. Alhamdulilah nggak sampai dugem. Tetapi, nggak apa-apa itu semua bisa terlewat,” katanya.
Cerita lain datang dari Heri. Pengalamannya tumbuh di keluarga yang terpecah meninggalkan bekas panjang.
“Ayah saya bahkan sampai nikah tiga kali,” ungkap Heri tanpa ragu.
Situasi itu membuatnya hidup berpindah-pindah sejak kecil.
“Pulang sekolah biasanya saya ke rumah ayah. Setelah pulang dari les, baru pulang ke rumah ibu,” tuturnya.
Curhatan itu disambut empati para pemain.
Megan Domani, pemeran Laila, menegaskan bahwa ujian hidup bukan akhir segalanya.
“Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya,” kata Megan.
Ia juga menyampaikan bahwa latar keluarga tidak menentukan arah hidup seseorang.
“Meskipun kita dari keluarga broken home, outputnya belum tentu buruk, kadang kita menjadi lebih strong,” lanjutnya.
Revalina S Temat yang memerankan Sarah ikut memberi penguatan. Menurutnya, luka adalah bagian dari proses bertumbuh.
“Ujian pasti ada, bagaimana cara kita menyikapinya. Keluarga harmonis sebenarnya nggak ada, nggak ada keluarga yang sempurna, tetapi yang ada kita harus bersyukur,” tegas Revalina.
Ia menutup dengan pesan yang membuat penonton terdiam.
“Ujian itu bukti Allah cinta sama Kak Dias. Tetap kuat ya. Semangat terus. Jangan pernah berhenti berdoa. Karena Allah pasti mendengar doa-doa kita.”
Potret Luka Ibu Tunggal
Film religi drama produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini berangkat dari realitas yang dekat dengan banyak keluarga. Sarah, seorang ibu tunggal, harus membesarkan anak remajanya seorang diri setelah perceraian.
Tekanan hidup makin berat ketika Sarah dipaksa menerima kembali mantan suaminya, Satrio, yang terserang stroke. Situasi makin rumit karena Satrio datang bersama istri barunya untuk tinggal di rumah yang sama.
Konflik itu menghadirkan gambaran ujian emosional seorang ibu tunggal. Ia dihadapkan pada masa lalu, luka lama, dan pilihan sulit yang menguras batin.
“Sarah berada di titik terendah hidupnya dan harus memilih apakah ia mau bangkit atau tenggelam,” papar Revalina.
Produser Robert Ronny menyebut cerita ini lahir dari pergulatan batin perempuan di kehidupan nyata.
“Film ini adalah refleksi tentang perempuan yang mempertaruhkan harga diri, anaknya, dan masa depannya. Sarah diuji dari segala arah, oleh keluarga, lingkungan, bahkan dirinya sendiri,” katanya.
Tuhan Benarkah Kau Mendengarku? tayang serentak di bioskop Indonesia sejak Kamis (29/1/2026). Film ini hadir sebagai cermin bagi penonton yang tumbuh dari keluarga retak dan belajar kuat lewat luka yang sama.

