![]() |
| Siap Mengajar: Santri Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengikuti pembekalan kebangsaan oleh jajaran Intelijen Kejati Jawa Timur di Ponpes Al Ubaidah Kertosono. |
Pembekalan tersebut disampaikan oleh jajaran Bidang Intelijen Kejati Jatim. Kasi II Intelijen Dwi Setyadi hadir bersama Analis Data dan Informasi Abdullah. Materi menitikberatkan pada moderasi beragama sebagai fondasi utama dakwah di tengah masyarakat yang beragam latar belakang keyakinan dan budaya.
Di hadapan 1.066 santri, Abdullah mengingatkan bahwa nilai keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sosial. Dakwah, menurutnya, harus memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai inilah yang harus dipegang santri ketika terjun dan mengabdi di tengah masyarakat,” ujar Abdullah.
![]() |
| Intelijen Kejaksaan Jawa Timur memberikan pembekalan kebangsaan kepada calon juru dakwah LDII di Ponpes Al Ubaidah |
Ia menekankan, penyampaian syiar Islam perlu dilakukan secara bijak tanpa menanggalkan kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan akidah dan norma yang berlaku. Sikap saling menghargai dinilai menjadi penyangga utama kerukunan sosial.
Dalam kesempatan itu, Abdullah juga menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang dibangun oleh seluruh elemen bangsa. Pemahaman ini dinilai penting untuk mencegah tumbuhnya sikap eksklusif.
“Indonesia ini negara beragama, bukan hanya milik umat Islam, tetapi negara bersama yang diperjuangkan oleh semua elemen sejak sebelum kemerdekaan,” ujarnya.
Menurut Abdullah, radikalisme kerap berangkat dari pandangan sempit yang menganggap diri paling benar. Karena itu, calon juru dakwah diharapkan mampu hadir sebagai perekat persatuan di tengah perbedaan yang ada di masyarakat.
Dari sisi organisasi, LDII Jawa Timur menempatkan penguatan nilai kebangsaan sebagai agenda utama pembinaan. Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menyebut kebangsaan berada di urutan pertama dalam delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa.
“Kebangsaan menjadi yang pertama dan utama. Kita hidup di negara yang sangat majemuk, sehingga nilai-nilai kebangsaan harus terus dijaga,” ujarnya.

Amrodji menjelaskan, edukasi kebangsaan tidak hanya dilakukan di pesantren. LDII Jawa Timur mendorong penguatan wawasan tersebut hingga ke tingkat kabupaten dan kota, termasuk melalui masjid dan musala. Generasi muda menjadi perhatian utama karena berada di pusat dinamika sosial.
“Pemuda adalah agent of change. Kita berharap mereka mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, pembinaan tersebut melibatkan berbagai pihak. Selain Kejati Jawa Timur, LDII Jatim juga bekerja sama dengan MUI, Kementerian Agama, TNI, dan Polri.
“Ini bagian dari ikhtiar kami agar para santri dan warga LDII memiliki pemahaman yang utuh tentang kebangsaan dan toleransi,” jelasnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyampaikan bahwa pesantrennya merupakan pusat pelatihan dai dan daiyah sebelum diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia.
“Para santri yang dididik di sini nantinya akan disebar ke berbagai wilayah dan harus siap menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia menilai tantangan tersebut mencakup munculnya pandangan yang ingin mengubah dasar kehidupan berbangsa yang telah disepakati para pendiri bangsa. Karena itu, nilai kebersamaan dan persatuan terus ditekankan sebagai bekal utama bagi para calon juru dakwah.
Melalui pendekatan ini, intelijen kejaksaan menempatkan pendidikan kebangsaan sebagai langkah pencegahan. Calon juru dakwah LDII diposisikan sebagai mitra penting dalam merawat harmoni sosial dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.


