SUARAJATIM - Lonjakan perjalanan saat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kembali menguji kesiapan layanan publik di jalan raya. Mobilitas tinggi yang berlangsung sejak 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026 membawa konsekuensi nyata, termasuk risiko kecelakaan lalu lintas yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
![]() |
| Petugas Jasa Raharja bersiaga dalam pelayanan santunan kecelakaan lalu lintas pada periode Natal dan Tahun Baru 2025–2026. |
Dalam konteks tersebut, Jasa Raharja menyalurkan santunan kecelakaan lalu lintas senilai Rp39,18 miliar. Santunan bagi ahli waris korban meninggal dunia mencapai Rp24,77 miliar, sedangkan santunan korban luka-luka tercatat sebesar Rp14,41 juta. Secara keseluruhan, nilai santunan menurun dibandingkan periode Nataru sebelumnya, dengan santunan korban meninggal dunia turun 8 persen dan santunan korban luka-luka turun signifikan.
Penyaluran santunan pada masa libur panjang menjadi indikator langsung kecepatan pelayanan publik. Bagi korban dan keluarga, kepastian waktu dan prosedur yang sederhana memiliki arti besar di tengah situasi darurat. Karena itu, proses pendataan dan verifikasi menjadi fase krusial yang menentukan efektivitas layanan di lapangan.
Sekretaris Perusahaan PT Jasa Raharja, Dodi Apriansyah, menyampaikan bahwa kesiapan operasional menjadi perhatian utama selama periode Nataru.
“Pada masa dengan pergerakan masyarakat yang tinggi seperti Nataru, kami memastikan seluruh proses pelayanan santunan berjalan cepat, transparan, dan akuntabel. Kehadiran petugas Jasa Raharja di lapangan merupakan bentuk komitmen kami untuk melayani sepenuh hati bagi masyarakat yang terdampak kecelakaan.”
Untuk mempercepat proses tersebut, Jasa Raharja melakukan koordinasi aktif dengan Korlantas Polri, rumah sakit, serta instansi terkait. Pendataan korban dilakukan sejak awal agar hak santunan dapat segera disalurkan tanpa prosedur berbelit. Petugas juga disiagakan di pos-pos pelayanan terpadu serta titik rawan kecelakaan selama arus Nataru.
Selain fokus pada penyaluran santunan, kehadiran petugas di lapangan memungkinkan pemantauan kondisi lalu lintas secara langsung. Langkah ini membantu memastikan respons awal berjalan konsisten di tengah padatnya pergerakan masyarakat.
Pengalaman pelayanan selama Nataru 2025–2026 menjadi rujukan penting dalam menjaga kualitas layanan ke depan. Dalam situasi dengan mobilitas tinggi, kecepatan dan ketepatan menjadi ukuran utama yang dirasakan langsung oleh publik.
“Pelayanan pada masa Nataru menegaskan bahwa santunan harus hadir cepat di saat masyarakat paling membutuhkan. Ke depan, fokus kami adalah menjaga kualitas layanan agar tetap relevan dan benar-benar dirasakan, dengan memastikan kecepatan, ketepatan, dan empati menjadi standar pelayanan santunan Jasa Raharja,” ujar Dodi.
Dengan dukungan sistem digital, kesiapan sumber daya manusia, serta koordinasi lintas instansi, pelayanan santunan selama Nataru menjadi gambaran konkret kesiapan layanan asuransi sosial di tengah dinamika perjalanan masyarakat.

