SUARAJATIM - Seekor tupai berlari cepat di taman kota, memanjat batang pohon, lalu berhenti sambil menggigit biji-bijian di kedua tangannya. Banyak orang spontan tersenyum melihatnya. Hewan kecil itu dianggap lucu, lincah, bahkan sering muncul sebagai karakter menggemaskan dalam film animasi.

Namun suasana bisa berubah total ketika seekor tikus tiba-tiba melintas di dapur atau keluar dari selokan. Reaksi manusia hampir seragam: terkejut, jijik, bahkan panik. Padahal jika dilihat secara biologis, tupai dan tikus sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat.
Keduanya masuk dalam ordo Rodentia, kelompok hewan pengerat yang memiliki ciri khas gigi depan terus tumbuh sepanjang hidup. Bentuk tubuh mereka juga tidak terlalu berbeda. Sama-sama kecil, cepat, berekor panjang, dan pandai memanjat. Tetapi otak manusia memperlakukan keduanya secara sangat berbeda.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal “hewan lucu” dan “hewan kotor”. Di balik rasa jijik terhadap tikus, ilmuwan menemukan jejak panjang evolusi manusia yang berkaitan dengan wabah penyakit, insting bertahan hidup, hingga sistem pertahanan biologis yang bekerja diam-diam di dalam otak.
Dalam dunia psikologi evolusioner, terdapat konsep bernama Behavioral Immune System. Sistem ini sering disebut sebagai “sistem imun perilaku”, yaitu mekanisme alami otak manusia untuk mendeteksi potensi ancaman penyakit sebelum tubuh benar-benar terinfeksi.
Jika sistem imun biologis bekerja ketika virus atau bakteri sudah masuk ke tubuh, behavioral immune system justru bekerja lebih awal. Otak mencoba mengenali tanda-tanda yang dianggap berbahaya, lalu memunculkan rasa jijik agar manusia menjauh dari sumber ancaman tersebut.
Karena itulah manusia secara alami cenderung tidak nyaman terhadap bau busuk, makanan basi, bangkai, luka bernanah, hingga hewan yang diasosiasikan dengan lingkungan kotor.
Tikus berada tepat di tengah daftar itu.
Selama ribuan tahun, tikus hidup sangat dekat dengan peradaban manusia. Mereka masuk ke gudang makanan, tinggal di saluran pembuangan, memakan sisa limbah, dan berkembang biak di area yang lembap serta kumuh. Dalam sejarah dunia, nama tikus bahkan sangat lekat dengan berbagai wabah penyakit besar.
Salah satu kisah paling terkenal adalah Black Death atau wabah pes hitam yang melanda Eropa pada abad ke-14. Wabah tersebut menewaskan jutaan orang dan mengubah sejarah dunia. Selama ratusan tahun, tikus dianggap sebagai simbol kematian karena dikaitkan dengan penyebaran penyakit melalui kutu yang hidup di tubuh mereka.
Meski penelitian modern menunjukkan penyebaran wabah pes sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar “tikus membawa penyakit”, citra buruk itu telanjur tertanam sangat dalam di benak manusia.
Bayangkan manusia purba yang hidup di permukiman padat tanpa sanitasi modern. Mereka yang lebih sensitif terhadap bau busuk, limbah, atau hewan pembawa penyakit kemungkinan memiliki peluang bertahan hidup lebih besar dibanding mereka yang cuek terhadap lingkungan kotor. Dari generasi ke generasi, kecenderungan itu perlahan menjadi bagian dari respons biologis manusia.
Penelitian dalam jurnal Scientific Reports tahun 2021 menjelaskan bahwa rasa jijik merupakan bagian penting dari mekanisme evolusi untuk mengurangi risiko infeksi penyakit. Sistem ini bekerja cepat, emosional, dan sering kali tidak rasional. Otak memilih bereaksi berlebihan demi keselamatan. Dalam istilah sederhana, lebih baik salah curiga daripada terlambat sakit.
Itulah sebabnya banyak orang merasa jijik pada tikus bahkan sebelum melihat bukti nyata bahwa hewan tersebut membawa penyakit.
Respons itu sering muncul hanya dari gerakannya yang tiba-tiba, ekornya yang licin, atau kemunculannya dari tempat gelap. Otak langsung menghubungkan semua itu dengan potensi ancaman biologis.
Menariknya, tupai tidak memicu respons yang sama.
Seekor tupai biasanya terlihat di atas pohon, taman hijau, atau kawasan hutan terbuka. Otak manusia tidak menghubungkannya dengan limbah atau wabah penyakit. Sebaliknya, tupai lebih sering diasosiasikan dengan alam, kebebasan, dan lingkungan bersih.
Faktor visual juga memainkan peran besar.
Tupai memiliki mata besar, bulu tebal, wajah bulat, dan ekor mengembang seperti kapas. Dalam psikologi, ciri-ciri tersebut masuk kategori baby schema, yaitu pola visual yang secara alami memicu rasa sayang dan proteksi pada manusia. Respons yang sama juga muncul ketika manusia melihat bayi, anak kucing, atau hewan kecil berbulu lainnya.
Sementara tikus kota justru memiliki karakter visual yang sering diasosiasikan dengan ancaman: tubuh licin, ekor tanpa bulu, gerakan cepat mendadak, serta habitat tersembunyi.
Otak manusia ternyata sangat sensitif terhadap detail-detail kecil seperti ini.
Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa manusia bisa merasa jijik hanya karena melihat bentuk tertentu yang diasosiasikan dengan penyakit, meskipun objek tersebut sebenarnya tidak berbahaya.
Lalu muncul pertanyaan menarik: apakah rasa jijik terhadap tikus merupakan “memori nenek moyang” yang tersimpan di DNA?
Secara ilmiah, jawabannya tidak sesederhana itu.
DNA tidak menyimpan kenangan spesifik seperti rekaman video kehidupan masa lalu. Manusia tidak mewarisi memori detail tentang wabah atau pengalaman leluhur. Namun yang bisa diwariskan adalah kecenderungan biologis terhadap respons tertentu.
Contohnya adalah rasa takut terhadap ular atau laba-laba yang muncul bahkan pada anak kecil yang belum pernah disentuh hewan tersebut. Otak manusia memiliki kemampuan belajar sangat cepat terhadap ancaman yang selama ribuan tahun dianggap berbahaya bagi kelangsungan hidup.
Rasa jijik terhadap tikus diduga bekerja melalui mekanisme serupa.
Beberapa ilmuwan juga menemukan bahwa respons jijik ternyata tidak sepenuhnya hasil budaya modern. Studi lintas negara menunjukkan manusia dari berbagai budaya tetap memiliki pola yang hampir sama dalam memandang sumber penyakit.
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed menjelaskan bahwa disgust atau rasa jijik merupakan salah satu emosi dasar manusia yang berkaitan erat dengan perlindungan terhadap infeksi. Respons ini bahkan muncul secara otomatis sebelum seseorang sempat berpikir logis.
Menariknya lagi, mekanisme seperti ini ternyata bukan hanya dimiliki manusia.
Penelitian pada hewan pengerat menemukan bahwa tikus dan mencit juga mampu menghindari sesamanya yang sedang sakit hanya melalui aroma tubuh. Dengan kata lain, naluri menghindari penyakit kemungkinan merupakan sistem biologis yang sangat kuno dan sudah ada jauh sebelum manusia modern berkembang.
Meski begitu, budaya tetap memiliki pengaruh besar terhadap persepsi manusia.
Di beberapa negara Barat, tikus putih justru dipelihara dan dianggap cerdas serta bersih. Banyak laboratorium menggunakan tikus karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Sebaliknya, di wilayah pertanian tertentu, tupai malah dianggap hama yang merusak tanaman dan mengganggu ekosistem.
Artinya, rasa jijik manusia bukan murni “program bawaan”, melainkan gabungan kompleks antara evolusi, pengalaman sosial, lingkungan, dan sejarah budaya.
Namun satu hal yang menarik tetap bertahan hingga hari ini: otak manusia tampaknya masih membawa warisan kuno dari masa ketika bertahan hidup sangat bergantung pada kemampuan mengenali ancaman sekecil apa pun di sekitar tempat tinggal.
Dan mungkin itu sebabnya seekor tupai di taman terasa menggemaskan, sementara seekor tikus di dapur langsung membuat manusia refleks mencari sapu.
Referensi ilmiah:
- The evolution of disgust for pathogen detection and avoidance
- A behavioural immune system perspective on disgust and social prejudice
- Evidence that disgust evolved to protect from risk of disease
- Pathogens, odors, and disgust in rodents
- Pathogens, odors, and disgust in rodents
- Immune activation attenuates memory acquisition and consolidation of conditioned disgust (anticipatory nausea) in rats
