SUARAJATIM - Halaman Rumah Sanggar Ilalang di Desa Karangnongko, Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, mendadak berubah jadi panggung yang hidup, Sabtu malam (25/4). Pentas Ludruk Besutan garapan Meimura atau Meijono mengalir hangat. Anak-anak berlarian masuk arena, lalu bergantian tampil. Ada yang membaca puisi dengan suara lantang, ada yang tampil bertiga, bahkan ada yang berani monoplay sendirian.
“Ini yang paling kecil, masih digendong ibunya, malah sudah pernah diajak main ketika masih dalam kandungan," tutur Agus R. Soebagyo yang akrab disapa Kang Rego saat memperkenalkan salah satu peserta.
Komunitas Rumah Ilalang yang ia dirikan menjadi ruang tumbuh ratusan anak. Mulai dari usia TK hingga SMA, bahkan ada yang belum sekolah. Di tempat ini, mereka dilatih membaca puisi, monolog, hingga bermain teater. Hasilnya terlihat jelas di panggung. Anak-anak tampil percaya diri dan tanpa ragu.
Dalam pentas itu, Meimura hadir sebagai tokoh Besut dengan pendekatan berbeda. Ia tampil sebagai sosok kakek yang dekat dengan anak-anak. Tema “Besut Sambang Putu” terasa kuat. Saat memasuki arena dari jalan desa sambil membawa obor kecil, anak-anak langsung menyambut dan mengiringi langkahnya menuju panggung.
Interaksi pun mengalir. Anak-anak bertanya dengan polos, Besut menjawab dengan jenaka. Puisi dibacakan, lalu disambung guyonan ringan. Tanpa jarak, suasana berubah jadi lingkaran keluarga. Bahkan Meimura sempat memperagakan tari Remo hanya dengan iringan musik dari mulutnya sendiri.
Panggung malam itu diisi karya-karya penyair besar. Anak-anak membawakan puisi karya Taufik Ismail, Hartoyo Andangdjaja, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Sapardi Djoko Damono. Salah satu penampil, Sabrina, tampil menonjol. Ia membaca puisi sekaligus memerankan tokoh Rusmini dalam dialog spontan bersama Besut.
Kang Rego menceritakan perjalanan sanggar yang ia bangun. Awalnya ia membina sekitar 300 anak jalanan di Malang. Pada 2007 ia kembali ke Nganjuk, sempat mengalami masa sulit, lalu bangkit pada 2009 dengan mendirikan Komunitas Rumah Ilalang. Tempat ini menjadi wadah bagi anak-anak yang memiliki bakat seni namun belum tersalurkan di sekolah.
Berbagai kegiatan sudah digelar. Mulai Festival Teater Pelajar, Nyadran Puisi yang sudah enam kali berjalan, Pagelaran Musim Tandur hingga 11 kali, Festival Sastra Anak dua kali, hingga Pentas Ngeluruk Dulur yang sudah berlangsung 69 kali sejak 2022. Jika dihitung sejak awal, pentas ini sudah digelar sekitar 500 kali di berbagai lokasi.
“Sponsor kami adalah emak-emak yang dengan senang hati memercayakan anak-anak mereka belajar di sanggar ini,” kata Rego.
Autar Abdillah yang hadir sebagai narasumber turut memberi pandangan. Ia melihat kegiatan ini sebagai ruang temu yang penting bagi anak-anak di tengah kebiasaan bermain gawai.
“Supaya anak-anak, dan bahkan kita sendiri, jangan hanya sibuk srawung melalui WA,” tegas doktor ludruk alumnus ISI Yogyakarta dan Unair itu.
Menurutnya, ludruk menjadi media untuk menyampaikan persoalan masyarakat dengan cara menghibur. Tradisi ini juga memuat sejarah lokal yang kadang berbeda dari buku. Dalam praktiknya, ludruk tetap fleksibel dan improvisatif, meski memiliki elemen seperti tari Remo, kidungan, lawak, dan lakon utama.
Program “Jajah Deso Milangkori” yang digagas Meimura menjadi bagian dari rangkaian di 10 kota di Jawa Timur. Setelah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, agenda berikutnya akan digelar di Mojokerto pada 7 Mei, lalu berlanjut ke Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember.
Malam itu, panggung ludruk terasa hidup. Tawa pecah, puisi mengalun, dan anak-anak tampil tanpa canggung. Dari halaman sederhana, lahir energi baru yang menjaga cerita tetap berdenyut.
![]() |
| Anak-anak tampil percaya diri membaca puisi dan monoplay dalam pentas Ludruk Besutan di Rumah Ilalang Nganjuk |
Komunitas Rumah Ilalang yang ia dirikan menjadi ruang tumbuh ratusan anak. Mulai dari usia TK hingga SMA, bahkan ada yang belum sekolah. Di tempat ini, mereka dilatih membaca puisi, monolog, hingga bermain teater. Hasilnya terlihat jelas di panggung. Anak-anak tampil percaya diri dan tanpa ragu.
Dalam pentas itu, Meimura hadir sebagai tokoh Besut dengan pendekatan berbeda. Ia tampil sebagai sosok kakek yang dekat dengan anak-anak. Tema “Besut Sambang Putu” terasa kuat. Saat memasuki arena dari jalan desa sambil membawa obor kecil, anak-anak langsung menyambut dan mengiringi langkahnya menuju panggung.
Interaksi pun mengalir. Anak-anak bertanya dengan polos, Besut menjawab dengan jenaka. Puisi dibacakan, lalu disambung guyonan ringan. Tanpa jarak, suasana berubah jadi lingkaran keluarga. Bahkan Meimura sempat memperagakan tari Remo hanya dengan iringan musik dari mulutnya sendiri.
Panggung malam itu diisi karya-karya penyair besar. Anak-anak membawakan puisi karya Taufik Ismail, Hartoyo Andangdjaja, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Sapardi Djoko Damono. Salah satu penampil, Sabrina, tampil menonjol. Ia membaca puisi sekaligus memerankan tokoh Rusmini dalam dialog spontan bersama Besut.
![]() |
| Sebagai apresiasi, anak-anak yang tampil mendapatkan buku karya Henri Nurcahyo yang diserahkan langsung oleh penulisnya. |
Berbagai kegiatan sudah digelar. Mulai Festival Teater Pelajar, Nyadran Puisi yang sudah enam kali berjalan, Pagelaran Musim Tandur hingga 11 kali, Festival Sastra Anak dua kali, hingga Pentas Ngeluruk Dulur yang sudah berlangsung 69 kali sejak 2022. Jika dihitung sejak awal, pentas ini sudah digelar sekitar 500 kali di berbagai lokasi.
“Sponsor kami adalah emak-emak yang dengan senang hati memercayakan anak-anak mereka belajar di sanggar ini,” kata Rego.
Autar Abdillah yang hadir sebagai narasumber turut memberi pandangan. Ia melihat kegiatan ini sebagai ruang temu yang penting bagi anak-anak di tengah kebiasaan bermain gawai.

“Supaya anak-anak, dan bahkan kita sendiri, jangan hanya sibuk srawung melalui WA,” tegas doktor ludruk alumnus ISI Yogyakarta dan Unair itu.
Menurutnya, ludruk menjadi media untuk menyampaikan persoalan masyarakat dengan cara menghibur. Tradisi ini juga memuat sejarah lokal yang kadang berbeda dari buku. Dalam praktiknya, ludruk tetap fleksibel dan improvisatif, meski memiliki elemen seperti tari Remo, kidungan, lawak, dan lakon utama.
Program “Jajah Deso Milangkori” yang digagas Meimura menjadi bagian dari rangkaian di 10 kota di Jawa Timur. Setelah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, agenda berikutnya akan digelar di Mojokerto pada 7 Mei, lalu berlanjut ke Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember.
Malam itu, panggung ludruk terasa hidup. Tawa pecah, puisi mengalun, dan anak-anak tampil tanpa canggung. Dari halaman sederhana, lahir energi baru yang menjaga cerita tetap berdenyut.


