Jatim Bidik Talenta AI Kelas Dunia, Kerja Sama dengan HGI Shanghai Buka Jalan Baru untuk Siswa Vokasi

SUARAJATIM – Dunia kerja berubah cepat sejak kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masuk ke berbagai sektor industri. Kebutuhan tenaga kerja pun ikut bergeser. Perusahaan kini mencari sumber daya manusia yang mampu bekerja dengan teknologi digital, memahami proses industri, dan memiliki wawasan global.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai dan perwakilan HGI Research Centre menandatangani LoI pendidikan vokasi dan talenta digital di Shanghai.
"Pendidikan vokasi bukan sekadar mengajarkan penggunaan alat, tetapi membantu siswa memahami cara industri bekerja dan proyek dijalankan. Di era AI, perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang bisa menggunakan AI, tetapi yang mampu memanfaatkannya secara efektif. Karena itu, HGI Research Centre berkomitmen membawa proyek, proses, dan standar industri ke dalam ruang kelas di Indonesia," ujar Wang Chen, Wakil Presiden HGI Research Centre.

Peluang tersebut menjadi salah satu topik utama dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan HGI Research Centre di Shanghai, Tiongkok. Kesepakatan ini membuka ruang pengembangan pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri digital internasional.

Delegasi Jawa Timur yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai melakukan kunjungan resmi ke Shanghai pada 8-12 Juni 2026. Selama agenda tersebut, berbagai pembahasan dilakukan, mulai dari pengembangan talenta digital, integrasi pendidikan dengan industri, hingga peluang kerja sama internasional.
Simposium di HGI Research Centre membahas proyek “Chinese + Class Skill”
"Melalui kolaborasi dengan HGI Research Center dan sejumlah kampus vokasi terkemuka di Shanghai, Jawa Timur berharap dapat mencetak talenta muda yang tidak hanya menguasai keterampilan digital mutakhir, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi serta berwawasan internasional demi mendukung peningkatan skala industri regional," kata Aries Agung Paewai.

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah program "Chinese + Class Skill". Program ini menggabungkan pembelajaran bahasa Mandarin dengan keterampilan profesional yang dibutuhkan industri.

Konsep tersebut diterapkan pada berbagai bidang seperti desain gim, media digital, produksi konten, hingga industri kreatif. Model pembelajaran ini memberi pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi digital.
Kunjungan delegasi ke sekolah kejuruan dan teknik di Shanghai

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas peluang penyusunan kurikulum bersama, sertifikasi keterampilan vokasi internasional, penguatan kemitraan sekolah dengan dunia usaha, serta pengembangan sumber daya manusia untuk sektor ekonomi digital.

Rangkaian kunjungan tidak berhenti di ruang diskusi. Delegasi Jawa Timur juga mendatangi sejumlah institusi pendidikan vokasi di Shanghai, di antaranya Shanghai Qunxing Vocational and Technical School, Shanghai Caoyang Vocational and Technical School, serta Shanghai Arts and Crafts Vocational College.

Di lokasi tersebut, rombongan melihat langsung bagaimana sekolah vokasi terhubung dengan dunia industri. Berbagai program pembelajaran ditampilkan, mulai dari animasi, pengembangan gim, media digital, pemanfaatan AI, hingga penggunaan teknologi untuk pengembangan budaya.
Informasi yang diperoleh selama kunjungan menjadi gambaran mengenai arah pendidikan vokasi modern yang semakin dekat dengan kebutuhan pasar kerja global.

Pemerintah Shanghai sendiri telah mengembangkan pendidikan berbasis AI sejak 2020. Putuo District, salah satu kawasan pendidikan yang dikunjungi delegasi Jawa Timur, tercatat memiliki sekitar 160 institusi pendidikan dengan lebih dari 100 ribu siswa serta sekitar 12 ribu tenaga pendidik dan kependidikan.

Kerja sama ini diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda Jawa Timur untuk memperoleh keterampilan digital, pengalaman internasional, dan kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri masa depan.

LihatTutupKomentar