SUARAJATIM - Antusiasme penonton terhadap film FOUFO terus mengalir. Setelah lebih dari 200 ribu orang menyaksikan film komedi sci-fi garapan Skak Studios dan Sinemart itu, sutradara Bayu Skak menggelar nonton bareng di Bioskop XXI Delta Plaza Surabaya, Rabu (15/7/2026). Kali ini, rombongan dipimpin pengusaha Madura yang akrab disapa Haji Her atau Abah Her. Kehadiran tokoh asal Madura tersebut menjadi bagian dari promosi agar semakin banyak masyarakat Jawa Timur mengenal film yang menggunakan sekitar 80 persen dialog berbahasa Madura.
"Ya, jadi harapannya dengan hari ini seperti ini bersama Abah Her juga adalah untuk kita menggerakkan massa. Dalam artian ini ada Abah yang juga punya pengikut yang juga nonton banyak. Agar juga semakin tervalidasi filmnya," ujar Bayu Skak usai nonton bareng di Delta Plaza Surabaya.
Menurut Bayu, FOUFO masih membutuhkan dorongan dari penonton karena persaingan film di bioskop berlangsung sangat ketat. Ia mengatakan, sebuah film bisa kehilangan layar dalam hitungan hari apabila jumlah penontonnya rendah.
"Karena mungkin pada awalnya ini masih baru ya, ini baru pertama kali ada film yang menggunakan bahasa Madura. Bahkan sekitar 80 persen bahasa Madura. Orang-orang mungkin masih ragu mau nonton, tapi ketika sudah nonton baru bilang, ternyata bagus. Momentum seperti ini yang kami kejar. Kalau hari pertama sampai hari ketiga sepi, hari keempat film bisa langsung turun dari bioskop," jelasnya.
Bayu mengungkapkan, hingga pertengahan Juli FOUFO telah menembus lebih dari 200 ribu penonton. Target satu juta penonton masih terus dikejar bersama seluruh tim produksi.
"Kalau kami akan tetap berusaha. Seperti di filmnya, Muslim yang sudah di ujung seperti itu saja tetap berusaha, jadi kami juga akan tetap berusaha. Bismillahirrahmanirrahim," kata Bayu saat ditanya peluang menembus satu juta penonton.
Ia bahkan membuka peluang menghadirkan sekuel apabila sambutan masyarakat terus meningkat.
"Kalau Foufo ini sukses, ada Foufo 2? Bisa. Amin," ujarnya sambil tersenyum.
Film yang mengangkat kehidupan keluarga Madura di Surabaya itu mendapat apresiasi langsung dari Abah Her. Menurutnya, cerita FOUFO dekat dengan karakter masyarakat Madura yang menjunjung kejujuran, ibadah, dan semangat membantu sesama.
"Filmnya bagus sekali menurut saya. Lucu, ada kisah menarik bagaimana seorang anak mau memberangkatkan haji ibunya. Itu Madura banget menurut saya. Di samping itu juga keadaan apa pun mereka tetap berkata jujur, tetap salat, dan tetap mau membantu orang lain. Itu Madura banget menurut saya. Rugi kalau enggak nonton, seru banget ceritanya," ujar Abah Her.
Abah Her juga memuji keberanian Bayu Skak yang banyak menggunakan pemain lokal. Menurutnya, para pemeran berhasil menunjukkan kemampuan akting yang layak bersaing.
"Pemeran-pemerannya kan dari lokal semua. Bagus sih menurut saya, punya bakat. Saya harap berkarya lagi. Intinya rugi kalau enggak nonton filmnya," katanya.
Saat ditanya mengenai dominasi talenta lokal Madura, Abah Her mengaku siap memberi dukungan apabila Bayu kembali membuka kesempatan kolaborasi pada produksi berikutnya.
"Sangat mendukung. Kalau ke depannya ada kesempatan, ayo bisa kita. Boleh lah, siap kita kolaborasi. Siap kita mensponsorin lah. Tapi jangan sampai rugi," ucapnya sambil tertawa.
Dalam kesempatan itu, Abah Her juga berharap jumlah bioskop di Pulau Madura bertambah. Saat ini, menurutnya, bioskop masih sangat terbatas sehingga masyarakat memiliki pilihan yang sedikit untuk menikmati film di daerah sendiri.
Bayu menambahkan, FOUFO juga menjadi bukti bahwa kualitas pemain tidak selalu ditentukan oleh popularitas di media sosial. Ia memilih membuka kesempatan kepada talenta daerah yang memiliki kemampuan akting.
"Nggak perlu selalu punya pikiran yang main harus punya lima juta follower atau artis Jakarta. Kalau kita bisa memanfaatkan yang ada di daerah, kenapa tidak? Kita memberikan peluang ke pemain-pemain baru," ujar Bayu.
Ia mencontohkan salah satu pemain asal Bangkalan yang berhasil mencuri perhatian lewat aktingnya di FOUFO. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin talenta dari daerah mampu bersaing apabila diberi ruang tampil di layar lebar.
Nonton bareng di Delta Plaza Surabaya pun dipenuhi penggemar yang berebut berfoto bersama Bayu Skak dan Abah Her. Suasana hangat itu menjadi penutup rangkaian promosi FOUFO, sekaligus menjadi penyemangat bagi seluruh tim untuk mengejar target satu juta penonton di bioskop Indonesia.
![]() |
| Bayu Skak bersama Abah Her menyapa penonton usai nonton bareng Film FOUFO di Bioskop XXI Delta Plaza Surabaya, Rabu (15/7/2026). |
Menurut Bayu, FOUFO masih membutuhkan dorongan dari penonton karena persaingan film di bioskop berlangsung sangat ketat. Ia mengatakan, sebuah film bisa kehilangan layar dalam hitungan hari apabila jumlah penontonnya rendah.
"Karena mungkin pada awalnya ini masih baru ya, ini baru pertama kali ada film yang menggunakan bahasa Madura. Bahkan sekitar 80 persen bahasa Madura. Orang-orang mungkin masih ragu mau nonton, tapi ketika sudah nonton baru bilang, ternyata bagus. Momentum seperti ini yang kami kejar. Kalau hari pertama sampai hari ketiga sepi, hari keempat film bisa langsung turun dari bioskop," jelasnya.
Bayu mengungkapkan, hingga pertengahan Juli FOUFO telah menembus lebih dari 200 ribu penonton. Target satu juta penonton masih terus dikejar bersama seluruh tim produksi.
"Kalau kami akan tetap berusaha. Seperti di filmnya, Muslim yang sudah di ujung seperti itu saja tetap berusaha, jadi kami juga akan tetap berusaha. Bismillahirrahmanirrahim," kata Bayu saat ditanya peluang menembus satu juta penonton.
Ia bahkan membuka peluang menghadirkan sekuel apabila sambutan masyarakat terus meningkat.
"Kalau Foufo ini sukses, ada Foufo 2? Bisa. Amin," ujarnya sambil tersenyum.
Film yang mengangkat kehidupan keluarga Madura di Surabaya itu mendapat apresiasi langsung dari Abah Her. Menurutnya, cerita FOUFO dekat dengan karakter masyarakat Madura yang menjunjung kejujuran, ibadah, dan semangat membantu sesama.
"Filmnya bagus sekali menurut saya. Lucu, ada kisah menarik bagaimana seorang anak mau memberangkatkan haji ibunya. Itu Madura banget menurut saya. Di samping itu juga keadaan apa pun mereka tetap berkata jujur, tetap salat, dan tetap mau membantu orang lain. Itu Madura banget menurut saya. Rugi kalau enggak nonton, seru banget ceritanya," ujar Abah Her.
![]() |
| Abah Her melayani permintaan foto bersama penggemar setelah nonton bareng Film FOUFO di Delta Plaza Surabaya. |
"Pemeran-pemerannya kan dari lokal semua. Bagus sih menurut saya, punya bakat. Saya harap berkarya lagi. Intinya rugi kalau enggak nonton filmnya," katanya.
Saat ditanya mengenai dominasi talenta lokal Madura, Abah Her mengaku siap memberi dukungan apabila Bayu kembali membuka kesempatan kolaborasi pada produksi berikutnya.
"Sangat mendukung. Kalau ke depannya ada kesempatan, ayo bisa kita. Boleh lah, siap kita kolaborasi. Siap kita mensponsorin lah. Tapi jangan sampai rugi," ucapnya sambil tertawa.
Dalam kesempatan itu, Abah Her juga berharap jumlah bioskop di Pulau Madura bertambah. Saat ini, menurutnya, bioskop masih sangat terbatas sehingga masyarakat memiliki pilihan yang sedikit untuk menikmati film di daerah sendiri.
Bayu menambahkan, FOUFO juga menjadi bukti bahwa kualitas pemain tidak selalu ditentukan oleh popularitas di media sosial. Ia memilih membuka kesempatan kepada talenta daerah yang memiliki kemampuan akting.
"Nggak perlu selalu punya pikiran yang main harus punya lima juta follower atau artis Jakarta. Kalau kita bisa memanfaatkan yang ada di daerah, kenapa tidak? Kita memberikan peluang ke pemain-pemain baru," ujar Bayu.
Ia mencontohkan salah satu pemain asal Bangkalan yang berhasil mencuri perhatian lewat aktingnya di FOUFO. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin talenta dari daerah mampu bersaing apabila diberi ruang tampil di layar lebar.
Nonton bareng di Delta Plaza Surabaya pun dipenuhi penggemar yang berebut berfoto bersama Bayu Skak dan Abah Her. Suasana hangat itu menjadi penutup rangkaian promosi FOUFO, sekaligus menjadi penyemangat bagi seluruh tim untuk mengejar target satu juta penonton di bioskop Indonesia.


