MANGOS dan Aroma Bubble AI, Apakah Sejarah Dotcom Akan Terulang?

SUARAJATIM – Wall Street sedang mengalami demam kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Di tengah derasnya aliran dana ke sektor teknologi, muncul istilah baru yang mulai ramai diperbincangkan investor global, yakni MANGOS.
MANGOS menjadi akronim baru yang menggambarkan dominasi perusahaan AI dan teknologi frontier di Wall Street pada 2026.
Akronim tersebut merujuk pada Meta, Anthropic, Nvidia, Google, OpenAI, dan SpaceX. Keenam perusahaan itu dinilai berada di garis depan perlombaan AI dan teknologi masa depan, mulai dari pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, pencarian digital, hingga teknologi luar angkasa.

Bagi sebagian investor, kemunculan MANGOS dianggap sebagai simbol lahirnya era teknologi baru. Namun bagi sebagian lainnya, fenomena ini justru memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah pasar sedang menyaksikan revolusi teknologi atau awal terbentuknya gelembung investasi (bubble)?

Perdebatan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, valuasi perusahaan-perusahaan AI melonjak tajam seiring meningkatnya optimisme terhadap potensi teknologi tersebut.

Nvidia misalnya menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan nilai pasar tercepat dalam sejarah modern berkat dominasi chip AI yang digunakan pusat data di seluruh dunia. OpenAI dan Anthropic juga berhasil menarik investasi puluhan miliar dolar karena dianggap memimpin pengembangan model AI generatif.

Sementara itu, Meta dan Google terus mempercepat integrasi AI ke dalam berbagai produk mereka. Di sisi lain, SpaceX dinilai memiliki posisi strategis melalui jaringan satelit Starlink dan pengembangan infrastruktur teknologi masa depan.

Fenomena tersebut mengingatkan sebagian pelaku pasar pada akhir 1990-an ketika internet mulai mengubah dunia. Saat itu, investor berbondong-bondong membeli saham perusahaan teknologi karena yakin internet akan menjadi masa depan ekonomi global.

Keyakinan tersebut terbukti benar. Internet memang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Namun banyak perusahaan yang menjadi bintang pasar saat itu akhirnya tumbang setelah gelembung dotcom pecah pada awal 2000-an.

Penggiat investasi sekaligus Founder Cuan Lovers Community, Rita Efendy, CTA, menilai MANGOS pada dasarnya merupakan narasi pasar yang menggambarkan dominasi AI dan teknologi frontier pada 2026.

"Hal yang menarik di sini, MANGOS adalah narasi pasar 2026 yang menggambarkan dominasi AI dan teknologi frontier. Jika Magnificent Seven berfokus pada perusahaan teknologi terbesar di pasar saham Amerika Serikat, maka MANGOS lebih spesifik pada perusahaan yang dianggap memimpin revolusi AI dan teknologi masa depan," ujarnya.

Meski demikian, Rita mengingatkan investor agar tidak langsung menganggap seluruh saham yang terkait AI akan terus naik tanpa batas.

Menurutnya, investor harus mampu membedakan antara perusahaan yang memiliki prospek bisnis sangat baik dengan harga saham yang sudah terlalu mahal akibat tingginya ekspektasi pasar.

"Namun bagi investor, penting membedakan antara perusahaan yang bagus prospeknya berkembang dan harga saham yang sudah terlalu mahal," katanya.

Ia menambahkan bahwa sejarah pasar modal menunjukkan hampir semua gelembung investasi diawali oleh keyakinan bahwa kondisi kali ini berbeda dibanding sebelumnya.

"Karena dalam sejarah pasar modal, bubble biasanya dimulai ketika investor mulai percaya bahwa 'kali ini berbeda'. Eh, ternyata bubblenya akhirnya meletus," tegas Rita.

Meski demikian, kondisi saat ini juga memiliki perbedaan penting dibanding era dotcom. Teknologi AI sudah digunakan secara nyata oleh perusahaan, pemerintah, institusi pendidikan, hingga masyarakat umum.

Berbeda dengan banyak perusahaan internet pada akhir 1990-an yang belum memiliki model bisnis jelas, sejumlah perusahaan AI saat ini telah menghasilkan pendapatan miliaran dolar dan memiliki basis pengguna yang besar.

Karena itu, sejumlah analis menilai yang sedang terjadi bukanlah gelembung kosong, melainkan fase euforia yang lazim muncul dalam setiap revolusi teknologi besar.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia, melainkan apakah harga yang dibayar investor saat ini sudah terlalu mahal dibanding potensi keuntungan yang bisa dihasilkan perusahaan-perusahaan tersebut di masa depan.

Jawaban atas pertanyaan itulah yang kemungkinan akan menentukan apakah MANGOS akan dikenang sebagai simbol revolusi teknologi berikutnya atau sekadar babak baru dari euforia pasar yang berlebihan.
LihatTutupKomentar