SUARAJATIM – Film horor-misteri Hasut menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton bioskop. Karya penulis sekaligus sutradara Ilya Sigma ini mengandalkan teror psikologis, paranoia, dan konflik antarmanusia tanpa mengandalkan penampakan hantu maupun jumpscare.
Film yang diproduksi Tuta Films tersebut mengisahkan empat sahabat yang pergi ke hutan untuk menjalani perjalanan penyembuhan atau healing. Namun, harapan menemukan ketenangan justru berubah menjadi pengalaman mencekam ketika suara-suara misterius dari radio komunikasi atau HT mulai memunculkan kecurigaan di antara mereka.
Luka masa lalu, trauma, dan ketidakpercayaan perlahan mengubah perjalanan tersebut menjadi situasi berbahaya. Mereka pun menghadapi pertanyaan tentang siapa yang masih bisa dipercaya dan apakah ancaman yang muncul benar-benar nyata.
Ilya Sigma mengatakan, Hasut dibuat sebagai medium refleksi mengenai sisi gelap interaksi sosial, termasuk bagaimana perkataan dan kepentingan pribadi dapat melukai orang-orang terdekat.
“Film Hasut ingin mengajak penonton untuk bercermin. Terkadang, kita tidak sadar apakah kata-kata kita menyakiti orang lain? Apakah tujuan egois yang ingin kita capai justru menyebabkan orang terdekat kita terluka? Aku harap film ini memantik empati kita kembali,” ujar Ilya.
Manipulasi yang Berawal dari Kepedulian
Salah satu persoalan yang diangkat film ini adalah batas tipis antara kepedulian dan keinginan mengendalikan orang lain. Tema tersebut tercermin melalui karakter Vira yang diperankan Karina Salim.
Vira digambarkan sebagai fasilitator healing yang merasa mengetahui hal terbaik bagi adik dan sahabatnya. Keyakinan tersebut membuatnya berpotensi melampaui batas antara membantu dan mengatur kehidupan orang lain.
Karina menilai, sikap merasa paling tahu kebutuhan orang lain dapat berkembang menjadi perilaku manipulatif.
“Kita cenderung selalu merasa tahu yang terbaik buat orang lain, dan menyuruh mereka melakukan apa yang kita mau. Padahal itu tipis banget batasnya sama sikap mengontrol. Yang bahaya, setelah mengontrol itu ujungnya jadi manipulatif. Ego manusia itu selalu begitu,” kata Karina.
Melalui konflik para tokohnya, Hasut mengajak penonton mempertanyakan kembali niat di balik tindakan yang dianggap sebagai bentuk kepedulian. Film ini juga memperlihatkan bagaimana kata-kata dan hasutan dapat memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap orang lain.
Dibintangi Karina Salim hingga Kevin Ardilova
Hasut diproduksi Tuta Films dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser, serta Nick Musa sebagai ko-produser.
Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Dengan latar hutan yang terisolasi dan suara-suara misterius sebagai pemicu konflik, Hasut menempatkan trauma, ketakutan, dan ego manusia sebagai sumber teror utama.
Film ini mengajak penonton melihat bahwa ancaman dalam sebuah hubungan terkadang muncul dari orang yang dipercaya, sementara niat baik yang tidak disertai empati dapat berubah menjadi bentuk pengendalian.
Film Hasut saat ini dapat ditonton di bioskop.
![]() |
| Salah satu adegan film Hasut yang menghadirkan teror psikologis. |
Luka masa lalu, trauma, dan ketidakpercayaan perlahan mengubah perjalanan tersebut menjadi situasi berbahaya. Mereka pun menghadapi pertanyaan tentang siapa yang masih bisa dipercaya dan apakah ancaman yang muncul benar-benar nyata.
Ilya Sigma mengatakan, Hasut dibuat sebagai medium refleksi mengenai sisi gelap interaksi sosial, termasuk bagaimana perkataan dan kepentingan pribadi dapat melukai orang-orang terdekat.
“Film Hasut ingin mengajak penonton untuk bercermin. Terkadang, kita tidak sadar apakah kata-kata kita menyakiti orang lain? Apakah tujuan egois yang ingin kita capai justru menyebabkan orang terdekat kita terluka? Aku harap film ini memantik empati kita kembali,” ujar Ilya.
Manipulasi yang Berawal dari Kepedulian
Salah satu persoalan yang diangkat film ini adalah batas tipis antara kepedulian dan keinginan mengendalikan orang lain. Tema tersebut tercermin melalui karakter Vira yang diperankan Karina Salim.
Vira digambarkan sebagai fasilitator healing yang merasa mengetahui hal terbaik bagi adik dan sahabatnya. Keyakinan tersebut membuatnya berpotensi melampaui batas antara membantu dan mengatur kehidupan orang lain.
![]() |
| Hutan menjadi latar perjalanan empat sahabat dalam film horor-misteri Hasut. |
“Kita cenderung selalu merasa tahu yang terbaik buat orang lain, dan menyuruh mereka melakukan apa yang kita mau. Padahal itu tipis banget batasnya sama sikap mengontrol. Yang bahaya, setelah mengontrol itu ujungnya jadi manipulatif. Ego manusia itu selalu begitu,” kata Karina.
Melalui konflik para tokohnya, Hasut mengajak penonton mempertanyakan kembali niat di balik tindakan yang dianggap sebagai bentuk kepedulian. Film ini juga memperlihatkan bagaimana kata-kata dan hasutan dapat memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap orang lain.
Dibintangi Karina Salim hingga Kevin Ardilova
Hasut diproduksi Tuta Films dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser, serta Nick Musa sebagai ko-produser.
Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Dengan latar hutan yang terisolasi dan suara-suara misterius sebagai pemicu konflik, Hasut menempatkan trauma, ketakutan, dan ego manusia sebagai sumber teror utama.
Film ini mengajak penonton melihat bahwa ancaman dalam sebuah hubungan terkadang muncul dari orang yang dipercaya, sementara niat baik yang tidak disertai empati dapat berubah menjadi bentuk pengendalian.
Film Hasut saat ini dapat ditonton di bioskop.


