Turis Bule Buka Rental Motor Sampai Jadi Tukang Pijat di Bali, SPSI: Ini Penjajahan

  • Tengah viral di media sosial bagaimana para wisatawan asing yang seharusnya berlibur di Bali, malah bekerja menjajakan berbagai jasa mulai dari tour guide, fotografer, sewa motor, pijat, bahkan jualan sayur. Hal ini tentu melanggar hukum sekaligus menjadi ancaman bagi warga lokal.

Suarajatim.com - Viral di media sosial, banyak turis bule kerja di Bali. Ini berawal dari akun Instagram @moscow_cabang_bali yang rutin membagikan laporan warga Bali tentang kelakuan negatif wisatawan asing. Alih-alih berlibur, para bule malah kepergok buka jasa tour guide, fotografer, sewa motor, pijat, bahkan jualan sayur.


Dikutip dari detik.com, admin akun @moscow_cabang_bali yang tak ingin disebutkan namanya itu, mengatakan bahwa sejak akun tersebut pertama kali dibuat, sudah banyak warga Bali yang mengirimkan bukti-bukti adanya WNA yang bekerja secara ilegal di Bali. Mereka melaporkan hal tersebut lewat pesan langsung di Instagram.


"Mereka (warganet) mengeluhkan ada bule di lapangan kerja mereka. Paling banyak di bidang fotografi, tato, hingga rental motor," ujarnya.

Fenomena ini memancing kecaman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bali. I Wayan Madra selaku Ketua DPD Konfederasi SPSI Bali menyebutkan bahwa ini adalah sebuah penjajahan.


"Pada dasarnya saya tidak sepakat karena kesempatan kerja kita akan diambil semena-mena oleh turis-turis ini. Kami mengharapkan pemerintah bisa tegas dan melakukan pengawasan ketat. Ini penjajahan yang berperang tanpa senjata namanya," kata Madra.


Menurut Madra, jika pemerintah tidak mengambil tindakan tegas, akan semakin banyak turis memanfaatkan visanya untuk bekerja di Bali. Apalagi mereka kerap merusak pasaran dengan menawarkan harga murah. Tentunya ini akan mengancam para pekerja lokal.

Madra juga menuturkan bahwa turis yang bekerja di Bali secara ilegal sebenarnya bukanlah hal baru. Sebelum pandemi COVID-19, SPSI Bali sebenarnya telah mendengar ada guide China yang bekerja di Bali. Ada juga turis yang membuka usaha di Bali namun, menggunakan nama masyarakat lokal hanya demi mendapat perizinan.


"Harapan saya pemerintah bisa meningkatkan pengawasan kepada orang asing yang datang ke Bali. Jangan sampai mereka datang dengan visa turis, dan ternyata mereka bekerja di sini. Di Australia, turis yang bekerja ilegal diburu oleh petugas karena di sana peraturannya ketat. Sama seperti di Jepang," pungkasnya.


Sebelumnya, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Putra, atau yang akrab disapa Cok Ace, dengan tegas menolak turis bule yang bekerja di Bali. Hal tersebut masuk kedalam tindakan ilegal karena menyalahgunakan visa liburan.


Menurut Cok Ace, turis asing asal Rusia dan Ukraina-lah yang banyak melakukan kerja ilegal semacam itu. Awalnya terjadi karena kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu, dan Bali dipilih jadi tempat turis berbisnis karena dianggap aman, nyaman, dan biaya hidupnya murah.

"Kalau fotografi terkait dengan wedding ini sulit sekali. Karena pasangan asing yang melakukan resepsi pernikahannya di Bali, biasanya mengajak fotografer (dari negaranya). Karena mereka pikir hanya fotografer itu yang bisa mengerti kultur mereka," kata Cok Ace.


"Selama memenuhi syarat perizinan, itu kan ada perizinannya membawa alat-alat masuk dan kemudian dia bekerja di Indonesia dan tentu berkoordinasi dengan imigrasi," tambahnya.


Cok Ace juga menyoroti turis yang sampai berjualan sayur dengan cara membeli dari pasar dan menjualnya kepada teman-teman. 


"Kita harus bergerak. Saya dengar dari laporan di bawah juga banyak mereka bahkan dagang ikut, jual sayur-sayuran ikut, menjual ke teman-temannya, dia mengambil di pasar dia jual ke teman-temannya, ini belum kita tindak," tambahnya.


Semoga pemerintah bisa segera bersikap tegas memberikan sanksi seperti deportasi hingga blacklist permanen kepada turis asing yang bekerja secara ilegal di Bali. Dengan demikian wisata Bali bisa dikelola murni oleh warga dan untuk kesejateraan warganya juga. 

LihatTutupKomentar