Anak Pendek Belum Tentu Stunting, Ini Cara Membedakannya

  • Orang tua millenial pasti sudah tak asing dengan istilah stunting. Banyak yang mengidentikkannya dengan tubuh pendek dan kurus pada anak. Namun sebenarnya, seperti apa stunting itu? Berikut ulasannya.

Suarajatim.com - Melihat postur buah hati lebih kurus atau pendek dibanding anak seusianya, sedikit banyak mengusik kekhawatiran orang tua. Meski satu sisi meyakini anak dalam keadaan baik-baik saja, namun di sisi lain ada rasa takut kalau-kalau terdapat masalah medis yang mengintai. Terlebih dengan banyaknya informasi mengenai stunting yang beredar di media sosial.


Padahal anak bertubuh kurus atau pendek belum tentu stunting lho. Ada perbedaan antara kurus atau pendek yang sehat dan kurus atau pendek yang mengalami stunting. Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa ada perbedaan mendasar antara keduanya dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi kesehatan si kecil.


Pertama, kita harus mengenal dulu apa definisi stunting. Menurut WHO, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang mengalami asupan nutrisi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat.


Menurut website resmi Kementerian Kesehatan, anak yang menderita stunting belum tentu kurus. Ada juga yang tubuhnya gemuk, namun tinggi badannya tidak mencapai batas normal sesuai usianya. Baik perawakan kurus maupun pendek, keduanya tetap tidak boleh disepelekan. Orang tua harus peka, kritis, dan proaktif kepada tumbuh kembang anak-anaknya.

Upaya Pemerintah dan Peran Generasi Muda dalam Menekan Angka Stunting di Indonesia

"Perawakan pendek merupakan salah satu keluhan gangguan pertumbuhan yang sering menjadi alasan seorang anak untuk dibawa ke dokter spesialis anak. Orang tua cemas, mengira anaknya menderita stunting," kata Prof. dr. Madarina Julia, MPH., Ph.D, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi Anak dalam sebuah Konferensi Pers Virtual yang diadakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).


“Semua anak stunting pasti pendek," ungkap Prof. Madarina. Menurutnya, jika tinggi anak berada di bawah garis normal kurva, maka perlu dikonsultasikan ke dokter.

Namun, tinggi badan bukan satu-satunya indikator. Lingkar kepala juga harus dilihat untuk mendeteksi stunting, sebab keduanya berhubungan. “Otak letaknya di dalam kepala, maka pertumbuhan otak ditentukan oleh lingkar kepala,” kata Prof. Madarina.


Lebih lanjut Prof. dr. Madarina menjelaskan bahwa secara singkat, indikator stunting dapat dilihat melalui 4 poin berikut:

  1. Pendek + kurus = Mungkin stunting
  2. Pendek + kurus + gangguan perkembangan = Tampaknya stunting
  3. Pendek + tidak kurus = Tampaknya bukan stunting
  4. Pendek + tidak kurus + tanpa gangguan perkembangan = Jelas bukan stunting


“Jadi kalau seseorang tidak tinggi tetapi pintar dan mempunyai prestasi yang menonjol, jelas bukan stunting,” cetusnya.


Postur tubuh anak bisa dihasilkan karena gaya hidup ataupun faktor genetik. Biasanya seorang ibu memiliki insting tajam atas kondisi anak-anaknya. Apabila merasa ada yang berbeda pada tumbuh kembang si kecil, tak ada salahnya langsung menemui dokter spesialis anak, alih-alih hanya menebak-nebak dan mendengarkan banyak pendapat yang belum pasti kebenarannya.

LihatTutupKomentar