SUARAJATIM - Doa bersama di Command Center KM 29 Cikarang menjadi jeda reflektif di tengah padatnya pengamanan Natal dan Tahun Baru 2025–2026. Dari ruang kendali arus lalu lintas itu, evaluasi keselamatan jalan raya dibaca tidak hanya melalui angka kendaraan, tetapi juga melalui data korban kecelakaan.
![]() |
| Jasa Raharja bersama Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, dan Jasa Marga menggelar doa bersama usai evaluasi Operasi Nataru 2025–2026 di KM 29 Cikarang. |
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa sekitar 201 ribu kendaraan telah keluar dari Jakarta, atau hampir setengah dari total pergerakan awal libur. Arus mudik Natal dinyatakan telah terlewati, meski kewaspadaan tetap dijaga pada fase liburan dan arus balik.
“Dari sore hingga malam ini kami melakukan analisa dan koordinasi untuk mengevaluasi pelaksanaan Operasi Nataru,” ujar Agus.
Hasil evaluasi menunjukkan perkembangan penting. Angka fatalitas kecelakaan lalu lintas turun sebesar 23,23 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini terjadi meski jumlah peristiwa kecelakaan tercatat mengalami kenaikan kecil.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut koordinasi lintas instansi terus dilakukan selama masa pengamanan. Analisis dan evaluasi rutin menjadi dasar pengambilan keputusan di lapangan, termasuk pengaturan kendaraan berat sesuai Surat Keputusan Bersama.
“Alhamdulillah, kami juga melaksanakan doa bersama dengan harapan agar operasi pengamanan Nataru dapat berjalan aman, selamat, dan lancar,” kata Dudy.
Dari sisi perlindungan korban, Jasa Raharja mencatat dampak langsung dari tren tersebut. Plt Direktur Utama Jasa Raharja Dewi Aryani Suzana menyampaikan bahwa santunan korban meninggal dunia yang telah disalurkan hingga periode ini mencapai Rp8,2 miliar, turun sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sebagai penyelenggara asuransi kecelakaan Jasa Raharja, kami terus memastikan korban kecelakaan lalu lintas memperoleh haknya secara cepat dan tepat,” ujar Dewi.
Penurunan nilai santunan menjadi indikator penting dalam membaca kondisi keselamatan jalan raya selama Nataru. Data tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan pengaturan lalu lintas, kesiapan petugas, serta respons layanan ketika kecelakaan terjadi.
Di tengah padatnya pergerakan akhir tahun, doa bersama di KM 29 menjadi simbol kehati-hatian. Evaluasi tidak berhenti pada kelancaran arus, tetapi juga pada sejauh mana perjalanan masyarakat dapat berlangsung tanpa kehilangan nyawa.

