Kapten Deva Membuat Penonton Murka Jerome Kurnia Kena Semprot Langsung

SUARAJATIM – Film belum lama selesai, lampu studio baru menyala, amarah sudah lebih dulu meledak. Studio 1 CGV BG Junction langsung bergemuruh. Bukan tepuk tangan. Bukan pujian. Teriakan penonton menghantam satu nama. Jerome Kurnia.

“Jerome jahat!”
“Kok kamu tega banget sih?”

Jerome Kurnia menghadapi reaksi emosional penonton usai nobar Penerbangan Terakhir
Jerome Kurnia disemprot emosi penonton saat hadir di acara nobar Penerbangan Terakhir di CGV BG Junction Surabaya.
Jerome berdiri di depan layar. Tersenyum. Tidak kabur. Tidak membela diri. Ia membiarkan emosi itu menghantam lurus ke karakter yang ia mainkan. Sosok Kapten Deva di film Penerbangan Terakhir sukses membuat penonton Surabaya naik pitam pada Kamis (15/1/2026).

“Kalau kesal, kalau marah, kalau gemes, marahnya ke Capten Deva saja ya.”

Reaksi itu bukan drama tambahan. Itu respons jujur. Kapten Deva hadir bukan untuk disukai. Ia datang untuk mengusik, memancing emosi, membuat penonton tidak nyaman bahkan setelah keluar studio. Dan Jerome sadar betul, peran seperti ini punya risiko besar.

“Saya mau ambil peran sebagai Capten Deva, karena jarang sekali sebagai aktor, terutama di Indonesia, dapat kesempatan memainkan peran sebagai pilot.”

Namun yang membuat karakter ini berbahaya bukan seragam atau kokpit pesawat. Masalahnya ada di sikap. Kapten Deva digambarkan karismatik, meyakinkan, lalu perlahan menunjukkan sisi manipulatif yang bikin penonton geram. Jerome menyebut peran ini sebagai ujian mental.
“Apalagi karakter (Capten Deva) naik turun, jadi ini perjuangan buat aku.”

Ia mengaku harus berkali-kali berdiskusi dengan sutradara Benni Setiawan untuk membangun Deva secara utuh. Bukan tokoh hitam-putih. Bukan pula antagonis instan.

“Menurut aku, Deva itu orang yang jahat, sebagai teman maupun pasangan harus hati-hati dengan orang seperti (Capten Deva) ini.”
Jerome tidak menutup mata. Karakter seperti Deva bukan hal asing di dunia nyata.
“Dan kami sebagai orang film, mau menceritakan segala sisi yang ada di sekitar kita.”

Ketegangan cerita makin terasa lewat kehadiran Aghniny Haque sebagai Nadia. Ini menjadi kerja sama keduanya yang kedua bersama Benni Setiawan. Bagi Aghniny, setiap proyek selalu membawa tantangan baru.
“Saya selalu mendapat banyak pelajaran di setiap film arahannya.”

Peran Nadia menuntut Aghniny masuk ke wilayah emosi yang tidak nyaman. Karakter ini tidak hadir untuk disukai, tapi untuk dipahami.
“Ini pengalaman baru buatku, dan tentu baik untuk perkembangan karierku (sebagai aktris).”
Nadia digambarkan manipulatif, namun bukan tanpa alasan.

“Karena dia harus bertahan di laki-laki yang menyeretnya di sebuah hubungan yang toksik.”

Sementara Nadya Arina sebagai Tiara membawa sisi korban yang tidak pasif. Ia menyebut film ini memberinya sudut pandang baru, bukan hanya soal relasi, tetapi juga dunia penerbangan.
“Saya jadi belajar banyak, khususnya yang berkaitan dengan dunia aviasi, di luar isu skandalnya sendiri.”

Tiara tidak digambarkan sebagai sosok lemah. Ia berani menghadapi akibat dari pilihannya.
“Ketika kita salah ya harus mengakui. Dan tentu ada konsekuensi. Itu nggak apa-apa, karena kita harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kita pilih.”

Baginya, cerita Tiara adalah tentang keberanian menerima kenyataan lalu melangkah.
“Saya beruntung bisa gabung di film ini, karena mendapat peran dengan karakter berbeda.”

Penerbangan Terakhir mengupas sisi gelap dunia penerbangan. Ceritanya mengikuti Kapten Deva yang mendekati Tiara dengan pesona manis. Semakin dekat, semakin terlihat lapisan manipulasi yang membuat batas antara tulus dan palsu menjadi kabur. Situasi kian panas saat Nadia muncul sebagai masa lalu yang belum selesai.

Film ini diproduseri oleh Tony Ramesh dan Shalu TM, sekaligus menjadi pembuka langkah VMS Studio di bioskop sepanjang 2026.
“’Penerbangan Terakhir’ menjadi film pertama VMS Studio yang akan tayang di bioskop pada tahun 2026. Kami selalu menghadirkan cerita-cerita yang beragam, dan yang terbaru adalah ‘Penerbangan Terakhir’.”

Tony menyebut kisah ini berangkat dari realitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sempat ramai diperbincangkan.
“Untuk itu kami mempertimbangkan merilis film ini di awal tahun, untuk memberikan sesuatu ke penonton tentang cerita yang sering kita dengar tapi tidak pernah dilihat oleh masyarakat.”

Reaksi keras penonton Surabaya menjadi sinyal kuat. Film ini tidak dibuat untuk ditonton sambil lalu. Ia memancing emosi, memicu perdebatan, dan meninggalkan rasa kesal yang terus terbawa. Kapten Deva bukan sekadar karakter fiksi. Ia cermin yang bikin banyak orang refleks marah karena terasa terlalu dekat dengan kenyataan.

LihatTutupKomentar