Kebaya Suntiang Jadi Bintang, Tren Wedding 2026 Gen Z Menghangat di Surabaya

SUARAJATIM — Grand Fullerton Ballroom mendadak jadi panggung besar dunia pernikahan. The Great Show of Everlast, Wedding Experience, tak sekadar menghadirkan pameran, tapi memotret arah baru wedding 2026. Di tengah arus minimalis Gen Z, kebaya justru kembali mencuri perhatian. Tradisional, tapi dipoles modern. Berani, tapi tetap anggun. Dari busana, warna, dekorasi hingga musik, semuanya diracik untuk menjawab selera generasi baru yang makin selektif.
Suasana The Great Show of Everlast Wedding Experience di Grand Fullerton Ballroom, Surabaya, menampilkan tren wedding 2026.
“Trend busana Wedding 2026, kembali ke kebaya. Tetapi, untuk kebayanya tradisional modern, salah satunya adalah suntiang. Jadi look-nya masih kebaya, ada sentuhan tradisional. Meskipun ada sentuhan modern, busana tradisional masih diminati oleh Gen Z,” tutur Owner Whulyan Attire, Ayu Wulan, Minggu (08/02/2026).

Tak hanya soal bentuk, warna pun ikut bergeser. Ayu Wulan menyebut 2026 sebagai tahunnya warna bold. Fuchsia dan biru denim menguat, putih tetap tak tergantikan, disusul brown burgundy yang memberi kesan hangat dan dewasa. Material juga kembali ke pakem premium. Satin dan songket masih jadi favorit, dipadukan batik tulis hingga payet dengan kilau halus yang elegan.

“Ada lima warna 2026 yang jadi tren sepanjang tahun ini. Untuk kebaya pasti prestige karena paling diminati dan terasa paling pas. Bahannya tetap satin dan songket, lalu dipadu batik tulis serta payet dengan blink yang elegan,” ungkapnya.
Pameran The Great Show of Everlast Wedding Experience di Surabaya
Dari sisi penyelenggaraan acara, Visesa Wedding Organizer melihat Gen Z tak bisa lagi didekati dengan konsep satu arah. Mereka ingin merasakan langsung, bukan hanya melihat. Itulah yang dihadirkan Everlasting Wedding Experience.

“Ada edukasi buat Gen Z yang suka minimalis. Mereka bisa memegang gaun, melihat dekorasi, mencoba makeup, bahkan belajar dari fashion show yang melibatkan 20 MUA. Konsep Everlasting ini mengajak pengunjung menelusuri dimensi waktu pernikahan, dari adat Jawa klasik sampai modern minimalis. Banyak yang akhirnya justru tertarik dengan konsep tradisional,” kata Lita Visesa.

Namun, geliat kreatif ini juga lahir dari situasi industri yang tak selalu mulus. Founder Mitra Flower & Decorations, Sumitro, mengungkapkan fakta penurunan jumlah pernikahan dalam beberapa tahun terakhir, seiring perubahan gaya hidup generasi muda.

“Di 2025 penurunan pernikahan paling parah. Tahun 2023 sekitar 1,5 juta, 2024 turun jadi 1,4 juta. Padahal 2013 masih 2,2 juta pernikahan. Sekarang yang penting foto bagus. Bunga artificial makin dominan, bunga asli makin jarang dipakai, padahal keindahannya beda,” ujarnya.

Di tengah dinamika itu, Surabaya masih memegang posisi penting. Founder Malik Entertainment, Malik Atmadja, menyebut kota ini tetap jadi rujukan banyak daerah.
“Jawa Timur, khususnya Surabaya, masih jadi kiblat wedding. Mulai dekorasi, musik, sampai konsep acara, banyak yang ditiru daerah lain,” ucapnya.

Pandangan senada datang dari Melodia Production. Riski menilai perubahan selera tak bisa dihindari, tetapi esensi pernikahan harus tetap dijaga agar tak kehilangan makna.
“Pergeseran pasti ada dan harus diikuti edukasi. Modernisasi dan teknologi seharusnya memperkuat nilai pernikahan, bukan menghilangkannya. Lewat orkestra dan seni musik, pernikahan bisa tetap hidup,” tuturnya.

Sementara dari balik kamera, Ruang Foto Work melihat esensi yang sering terlupa. Bayu menegaskan, keindahan pernikahan tak selalu soal kemewahan.
“Pernikahan itu simpel. Apa pun jenis pestanya, dekorasinya, yang paling penting ekspresi saat pemotretan. Dari situ keindahan pernikahan terlihat,” pungkasnya.

Everlasting Wedding Experience sendiri menampilkan lebih dari 50 koleksi gaun pengantin, dari klasik hingga modern. Didukung 32 vendor, acara ini juga dikemas dengan fashion show dan orkestra musik yang dekat dengan selera Gen Z, serta digencarkan lewat media sosial. Di Surabaya, denyut wedding 2026 terasa mulai menghangat—dan kebaya kembali berdiri di panggung utama.
LihatTutupKomentar