![]() |
| Prosesi pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihāra Dhamma Jaya, Surabaya, menjadi bagian peringatan setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia. |
![]() |
| Ki-ka: Romo Widya Kusuma (Romo Vihara Dhammajaya Surabaya), Bhante Atthadhīro Thera (Ketua Umum Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara) dan Supriyadi (Direktur Jemderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama RI) |
Prosesi di Surabaya menjadi pengecoran kelima dalam rangkaian Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia yang mengangkat tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”. Sebelumnya, pengecoran telah digelar di Medan, Samarinda, Denpasar, dan Palu. Tahap terakhir dijadwalkan berlangsung di Daerah Khusus Jakarta.
Sejak pagi, umat Buddha memenuhi area vihara dengan pakaian serba putih. Bendera Buddhis berkibar pelan di antara pepohonan. Sekitar 40 bhikkhu dari Saṅgha Theravāda Indonesia duduk berjajar melantunkan doa-doa suci, menciptakan suasana hening sekaligus sakral.
Di sisi lain halaman, petugas mulai menyiapkan logam-logam donasi umat. Semua bahan pengecoran berasal dari persembahan masyarakat Buddhis yang ikut terlibat dalam proses pembuatan rupang tersebut. Logam itu kemudian dilebur sebelum dituangkan ke cetakan Rupang Buddha Nusantara.
“Meski kita berbuat baik tidak ada yang melihat dan tidak ada yang mencatat, bumi itulah yang menjadi saksi dari kebaikan,” kata Bhante Atthadhīro.
Rupang Buddha Nusantara memakai mudrā Bhūmisparsa, yakni posisi tangan kanan Buddha menyentuh bumi sebagai simbol bumi menjadi saksi kebajikan manusia. Bentuk rupang tersebut terinspirasi dari temuan arkeologis di kompleks Candi Sewu pada Mei 2025.
Temuan rupang Buddha di reruntuhan Candi Sewu itu kemudian dijadikan prototipe untuk karya yang kini dicor di berbagai wilayah Indonesia. Panitia memilih konsep Nusantara karena setiap bagian rupang dibuat di pulau berbeda sebelum nantinya disatukan menjadi satu karya utuh.
Proses artistik rupang ini dipercayakan kepada seniman Amertha Art Studio, Sugito Sutarmin. Seluruh tahapan dilakukan dengan pendekatan ritual sekaligus pelestarian nilai sejarah Buddhisme di Indonesia.
![]() |
| Prosesi pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihāra Dhamma Jaya Surabaya |
Prosesi pengecoran berlangsung perlahan. Bara api terus menyala ketika logam cair dituangkan ke dalam cetakan. Di tengah kepulan panas tungku, doa-doa para bhikkhu tetap menggema mengiringi jalannya ritual.
Bagi umat yang hadir, pengecoran itu bukan hanya proses teknis pembuatan arca. Ada tekad bersama yang ikut dilebur dalam logam panas tersebut. Setiap donasi logam dianggap sebagai simbol kebajikan dan partisipasi dalam perjalanan sejarah Saṅgha Theravāda Indonesia.
Wakil Kepala Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera menyebut Rupang Buddha Nusantara menjadi penanda penting dalam usia setengah abad organisasi tersebut.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, ikut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, rangkaian pengecoran rupang ini menjadi pengingat kuat tentang jejak panjang agama Buddha dalam peradaban Indonesia.
“Kegiatan ini bagian dari upaya mencintai Indonesia sekaligus mengingat bahwa agama Buddha pernah memberikan kontribusi besar terhadap peradaban bangsa,” ujar Supriyadi.
Rangkaian kegiatan Rupang Buddha Nusantara dijadwalkan mencapai puncaknya pada 13 Desember 2026 di BSD, Tangerang Selatan. Sebelum itu, prosesi pengecoran bagian puncak atau mustaka akan dilaksanakan pada 21 Juni mendatang di Jakarta.
Setelah seluruh bagian selesai dirangkai, Rupang Buddha Nusantara direncanakan ditempatkan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan. Dari bara api, doa, dan logam persembahan umat itulah lahir simbol baru yang akan menjadi penanda perjalanan panjang Saṅgha Theravāda Indonesia di usia setengah abad.



