SUARAJATIM – PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) menatap prospek bisnis 2026 dengan optimisme tinggi. Produsen kemasan plastik yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025 tersebut memproyeksikan pertumbuhan kinerja sebesar 20 hingga 30 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor air minum dalam kemasan (AMDK).
Direktur Utama PT Asia Pramulia Tbk, Ricky Winoto, mengatakan segmen AMDK saat ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perusahaan. Tren konsumsi masyarakat yang semakin mengandalkan air minum kemasan serta munculnya berbagai merek baru di pasar dinilai membuka peluang besar bagi industri kemasan.
"Untuk saat ini AMDK menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Kami melihat banyak brand baru maupun brand besar yang meluncurkan produk air minum kemasan. Ini menjadi opportunity bagi kami sebagai manufaktur kemasan untuk memasok kebutuhan mereka," ujar Ricky dalam Public Expose usai RUPST 2025.
Optimisme tersebut tercermin dari komposisi penjualan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Kontribusi segmen kemasan minuman terus meningkat dari 29,09 persen pada 2023 menjadi 40,9 persen pada 2024 dan kembali naik menjadi 43,79 persen pada 2025.
Pertumbuhan permintaan tersebut mendorong perseroan mengubah strategi investasi. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham menyetujui perubahan penggunaan sebagian dana IPO yang sebelumnya dialokasikan untuk pengembangan kemasan berukuran kecil menjadi investasi mesin produksi kemasan galon ukuran 15 liter dan 19 liter.
Menurut Ricky, hampir seluruh fasilitas produksi yang saat ini dimiliki perusahaan telah beroperasi pada tingkat utilisasi maksimal sehingga tambahan kapasitas menjadi kebutuhan mendesak untuk menangkap peluang pasar.
"Mesin yang ada saat ini sudah terutilisasi 100 persen. Karena itu kami akan melakukan investasi untuk penambahan mesin produksi dan meningkatkan kapasitas, terutama untuk kemasan ukuran besar," katanya.
Dari sisi kinerja, ASPR mencatat pertumbuhan yang cukup solid pada kuartal pertama 2026. Pendapatan perusahaan meningkat 27,43 persen menjadi Rp78,29 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,44 miliar. Sementara laba tahun berjalan naik menjadi Rp3,03 miliar.
Direktur Keuangan PT Asia Pramulia Tbk, Arif, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas produksi dan permintaan pasar.
Namun demikian, perusahaan juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku yang berdampak pada margin keuntungan. Profitabilitas perusahaan tercatat turun dari 4,85 persen menjadi 3,87 persen, sementara margin laba kotor juga mengalami penurunan dari sekitar 25 persen menjadi 21,92 persen.
Menurut manajemen, tekanan tersebut berasal dari kenaikan harga resin plastik yang dipengaruhi gejolak harga minyak dunia.
"Kondisi global saat ini menyebabkan harga minyak mentah mengalami kenaikan sehingga berdampak pada beban pokok penjualan perseroan," jelas Arif.
Meski demikian, manajemen menilai risiko pasokan bahan baku masih terkendali. ASPR mengandalkan bahan baku utama berupa PET yang sebagian besar dipasok dari Indonesia dan negara-negara Asia, sehingga dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap ketersediaan bahan baku dinilai relatif terbatas.
Selain memperkuat kapasitas produksi, perseroan juga tetap menjaga komitmen kepada pemegang saham. Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp1,75 miliar atau sekitar 20 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Nilai tersebut setara Rp0,64 per saham.
Dengan pertumbuhan permintaan AMDK yang masih tinggi, ekspansi kapasitas produksi yang segera dijalankan, serta pasar kemasan nasional yang terus berkembang, ASPR meyakini target pertumbuhan hingga 30 persen pada tahun ini masih berada dalam jangkauan.
![]() |
| Manajemen PT Asia Pramulia Tbk memaparkan prospek bisnis dan target pertumbuhan perusahaan dalam Public Expose usai RUPST 2025. |
"Untuk saat ini AMDK menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Kami melihat banyak brand baru maupun brand besar yang meluncurkan produk air minum kemasan. Ini menjadi opportunity bagi kami sebagai manufaktur kemasan untuk memasok kebutuhan mereka," ujar Ricky dalam Public Expose usai RUPST 2025.
Optimisme tersebut tercermin dari komposisi penjualan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Kontribusi segmen kemasan minuman terus meningkat dari 29,09 persen pada 2023 menjadi 40,9 persen pada 2024 dan kembali naik menjadi 43,79 persen pada 2025.
Pertumbuhan permintaan tersebut mendorong perseroan mengubah strategi investasi. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham menyetujui perubahan penggunaan sebagian dana IPO yang sebelumnya dialokasikan untuk pengembangan kemasan berukuran kecil menjadi investasi mesin produksi kemasan galon ukuran 15 liter dan 19 liter.
Menurut Ricky, hampir seluruh fasilitas produksi yang saat ini dimiliki perusahaan telah beroperasi pada tingkat utilisasi maksimal sehingga tambahan kapasitas menjadi kebutuhan mendesak untuk menangkap peluang pasar.
"Mesin yang ada saat ini sudah terutilisasi 100 persen. Karena itu kami akan melakukan investasi untuk penambahan mesin produksi dan meningkatkan kapasitas, terutama untuk kemasan ukuran besar," katanya.
Dari sisi kinerja, ASPR mencatat pertumbuhan yang cukup solid pada kuartal pertama 2026. Pendapatan perusahaan meningkat 27,43 persen menjadi Rp78,29 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,44 miliar. Sementara laba tahun berjalan naik menjadi Rp3,03 miliar.
Direktur Keuangan PT Asia Pramulia Tbk, Arif, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas produksi dan permintaan pasar.
Namun demikian, perusahaan juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku yang berdampak pada margin keuntungan. Profitabilitas perusahaan tercatat turun dari 4,85 persen menjadi 3,87 persen, sementara margin laba kotor juga mengalami penurunan dari sekitar 25 persen menjadi 21,92 persen.
Menurut manajemen, tekanan tersebut berasal dari kenaikan harga resin plastik yang dipengaruhi gejolak harga minyak dunia.
"Kondisi global saat ini menyebabkan harga minyak mentah mengalami kenaikan sehingga berdampak pada beban pokok penjualan perseroan," jelas Arif.
Meski demikian, manajemen menilai risiko pasokan bahan baku masih terkendali. ASPR mengandalkan bahan baku utama berupa PET yang sebagian besar dipasok dari Indonesia dan negara-negara Asia, sehingga dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap ketersediaan bahan baku dinilai relatif terbatas.
Selain memperkuat kapasitas produksi, perseroan juga tetap menjaga komitmen kepada pemegang saham. Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp1,75 miliar atau sekitar 20 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Nilai tersebut setara Rp0,64 per saham.
Dengan pertumbuhan permintaan AMDK yang masih tinggi, ekspansi kapasitas produksi yang segera dijalankan, serta pasar kemasan nasional yang terus berkembang, ASPR meyakini target pertumbuhan hingga 30 persen pada tahun ini masih berada dalam jangkauan.

