Nestlé Ungkap Cara Sapi Impor Tetap Maksimal Produksi Susu Meski Cuaca Panas

SUARAJATIM - Nestlé Indonesia menunjukkan bahwa sapi perah impor tetap mampu menghasilkan susu secara optimal meski dipelihara di kawasan dataran rendah yang bercuaca panas. Caranya bukan dengan memindahkan peternakan ke wilayah pegunungan, melainkan melalui penerapan sistem kandang semi tertutup atau closed-barn yang mulai diterapkan di sejumlah sentra sapi perah di Jawa Timur.
Sapi perah Holstein dipelihara di kandang closed-barn milik KUD Dadi Jaya Purwodadi, Pasuruan.
"Closed-Barn dirancang untuk menciptakan lingkungan kandang yang lebih nyaman melalui pengaturan suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara yang optimal. Dengan dukungan cooling pad dan exhaust fan, sistem ini membantu mengurangi heat stress serta menjaga kualitas udara di dalam kandang sehingga sapi memiliki pola makan, konsumsi air, dan waktu istirahat yang lebih baik," ujar Sustainable Agri Advisor Nestlé Indonesia Syahrudi.

Teknologi tersebut diperkenalkan Nestlé Indonesia bersama KUD Dadi Jaya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Pada saat yang sama, perusahaan juga menyerahkan 90 ekor sapi perah impor kepada KUD Dadi Jaya Purwodadi, Koperasi SAE Pujon Malang, dan KUD Sumber Makmur Ngantang sebagai bagian dari penguatan produksi susu segar nasional.

Menurut Syahrudi, kondisi kandang yang lebih stabil membuat sapi lebih nyaman. Dampaknya terlihat pada kesehatan ternak, performa reproduksi, hingga produksi susu yang meningkat. Sistem tersebut juga membantu mengoptimalkan potensi genetik sapi melalui pengelolaan peternakan yang lebih baik.

Nestlé Indonesia mulai memperkenalkan closed-barn sejak 2023. Hingga kini sudah lebih dari 50 kandang dibangun di enam wilayah Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Jombang, dan Blitar. Berdasarkan penerapan di lapangan, produktivitas susu mampu meningkat lebih dari 20 persen.

Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia Fajar Dewantara mengatakan pengembangan peternakan modern terus dilakukan mengikuti kebutuhan peternak yang semakin berkembang.
Sistem closed-barn membantu menjaga suhu dan sirkulasi udara sehingga produktivitas sapi perah meningkat.
"Hari ini, komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan Closed-Barn dan penyerahan sapi perah impor. Kedua inisiatif ini merupakan bagian dari upaya kami untuk mendukung modernisasi peternakan, meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar, serta memperkuat daya saing sektor persusuan Indonesia di masa depan," kata Fajar.

Selain membangun kandang modern, Nestlé Indonesia juga menyerahkan 90 ekor sapi perah impor. Penempatan ternak dilakukan secara bertahap di koperasi yang telah memiliki kesiapan infrastruktur dan manajemen. Program tersebut juga disertai penyerahan imported straw atau semen beku sapi Friesian Holstein unggul untuk mendukung inseminasi buatan sehingga kualitas genetik ternak dapat terus meningkat.

Ketua KUD Dadi Jaya Purwodadi, Nurianto, mengaku teknologi tersebut memberi dampak langsung bagi peternak.

"Penerapan Closed-Barn membantu menciptakan lingkungan kandang yang lebih nyaman sehingga kesehatan sapi terjaga dan produktivitas susu meningkat. Penyerahan sapi perah impor juga menjadi peluang bagi kami untuk meningkatkan kualitas genetik ternak dan memperkuat usaha peternakan rakyat ke depan," ujarnya.

Selama lebih dari lima dekade, Nestlé Indonesia menjalin kemitraan dengan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Saat ini perusahaan bekerja sama dengan 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak. Setiap tahun, Nestlé Indonesia menyerap susu segar senilai lebih dari US$60 juta dari peternak di Jawa Timur. Kemitraan tersebut diperluas ke Jawa Tengah sejak 2022 melalui Central Java Milk District Program sebagai bagian dari pengembangan sektor persusuan nasional.
LihatTutupKomentar