SUARAJATIM – Jawa Timur ternyata menjadi salah satu wilayah penting bagi industri kayu Indonesia. Bukan hanya memiliki banyak pelaku usaha, Jawa Timur juga disebut mempunyai basis industri pengolahan kayu yang lebih besar dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia.
Ketua Presidium Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA), Jimmy Chandra, mengatakan Jawa Timur bersama Jawa Tengah menjadi dua wilayah dengan aktivitas industri kayu yang sangat besar. Menurut perkiraannya, kontribusi kedua wilayah tersebut berada di kisaran 60–70 persen dari industri kayu nasional.
“Jawa Timur sama Jawa Tengah. Saya rasa kontribusinya lebih kurang itu 60–70 persen,” kata Jimmy saat ditemui dalam Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya, Kamis (13/8/2026).
Jimmy menjelaskan, Jawa Timur bahkan dinilainya memiliki industri yang lebih besar, sementara Jawa Tengah juga mempunyai jumlah pemain yang banyak. Salah satu faktor yang membuat Jawa Tengah berkembang adalah keberadaan Pelabuhan Semarang yang memudahkan pasokan kayu dari berbagai wilayah, termasuk Kalimantan.
“Kalau di Jawa Tengah itu banyak, karena dekat pelabuhan. Semarang itu banyak pelabuhan, dari seluruh Kalimantan bisa kayunya ke sana. Jadi kayunya banyak, otomatis industrinya banyak,” ujarnya.
Sementara Jawa Timur memiliki latar belakang berbeda. Menurut Jimmy, provinsi ini sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah dengan banyak pengusaha besar. Kondisi tersebut ikut membentuk ekosistem industri pengolahan kayu di Jawa Timur.
“Jawa Timur memang dari dulu tempatnya pengusaha besar,” katanya.
Sebaliknya, pengiriman bahan baku kayu ke wilayah yang lebih jauh seperti Jakarta dinilai memiliki konsekuensi biaya lebih tinggi. Jarak distribusi membuat biaya pengiriman kayu menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pelaku industri.
Di tengah posisi Jawa Timur sebagai salah satu basis industri kayu, sektor ini kini menghadapi tekanan dari pasar global yang sedang melemah. Jimmy mengatakan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan industri kayu di berbagai negara.
“Industri kayu itu memang pada seluruh dunia agak turun. Di dunia itu turun, bukan hanya di kita saja, nasional saja. Seluruh dunia lagi turun,” ujarnya.
Kondisi pasar tersebut membuat persoalan daya saing menjadi semakin penting. Jimmy menilai industri kayu Indonesia harus mampu menghasilkan produk yang lebih baik sekaligus meningkatkan kemampuan produksinya melalui teknologi.
Salah satu persoalan yang disinggungnya adalah biaya yang harus ditanggung industri. Jimmy menyebut pungutan atau pajak kayu di Indonesia saat ini lebih tinggi dibanding Malaysia. Ia memberi gambaran bahwa apabila Indonesia mengenakan pungutan sekitar 30 persen, Malaysia bisa berada di kisaran 20 persen, meski ia mengaku tidak mengetahui angka persisnya.
“Jadi persaingan kita kalah saingan. Saya tahu bahwa Indonesia lebih mahal daripada Malaysia,” kata Jimmy.
Karena itu, investasi mesin menjadi salah satu pilihan yang dinilai penting agar industri tetap mampu menghasilkan produk dengan kualitas dan efisiensi yang lebih baik. Namun, persoalan pembiayaan menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Jimmy mengatakan pemerintah telah memiliki skema pengembalian sebagian biaya pembelian mesin bagi industri kecil dan menengah. Ia mencontohkan pembelian mesin senilai Rp100 juta dapat memperoleh pengembalian sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta setelah melalui pemeriksaan dan proses pengajuan.
Selain mesin, ISWA juga mendorong pelaku industri agar tidak tertinggal perkembangan teknologi. Menurut Jimmy, perkembangan teknologi pengolahan kayu harus diikuti agar produk Indonesia tetap mampu bersaing.
“Kalau memang teknologinya sudah sampai ke sana, kalau kita masih itu lagi, kita nanti ketinggalan kereta api,” ujarnya.
Persoalan bahan baku juga menjadi perhatian. Jimmy mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan jenis kayu yang sangat besar. Namun, tidak seluruh jenis kayu tersebut sudah dikenal luas oleh pasar.
Menurutnya, kayu Indonesia dapat dibagi antara well-known species dan less known species. Ia memperkirakan jenis kayu yang benar-benar sudah dikenal hanya sekitar 30 persen dari kayu hutan yang tersedia.
Karena itu, penggunaan kayu tanaman menjadi salah satu pilihan yang terus dikembangkan. Kayu tanaman atau short-rotation wood memiliki keunggulan karena dapat dipanen dalam waktu relatif lebih singkat, tetapi memiliki persoalan berupa usia yang lebih muda dan karakter kayu yang cenderung lunak.
ISWA bersama mitra dari IPB dan Prancis disebut telah mengembangkan teknologi pengolahan untuk meningkatkan daya tahan kayu tanaman tersebut. Jimmy menyebut teknologi itu memungkinkan kayu tanaman digunakan untuk kebutuhan luar ruang dengan masa pakai sekitar 20–25 tahun.
“Jadi kita sudah menciptakan satu kayu yang tahan di luar rumah itu bisa 20–25 tahun,” ujarnya.
Untuk penggunaan di dalam ruangan, Jimmy menyebut daya tahannya bahkan dapat mencapai lebih dari 50 tahun. Menurutnya, pengembangan teknologi semacam ini dapat membuka pilihan baru bagi industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kayu hutan dengan bahan baku yang memiliki siklus pertumbuhan lebih panjang.
Pembahasan mengenai teknologi tersebut menjadi bagian dari Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri furnitur dan pengolahan kayu, asosiasi, akademisi, penyedia teknologi serta pemangku kepentingan industri.
IFMAC & WOODMAC 2026 sendiri akan digelar pada 23–26 September 2026 di Hall B3 dan C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran tersebut menghadirkan mesin, teknologi produksi, material, komponen, aksesori, tools, solusi pemotongan hingga teknologi finishing untuk industri furnitur dan pengolahan kayu.
Bagi industri kayu Jawa Timur, tantangannya kini bukan lagi sekadar memiliki bahan baku dan banyak pelaku usaha. Ketika pasar global melemah dan persaingan dengan negara lain semakin ketat, kemampuan meningkatkan kualitas produksi serta efisiensi melalui teknologi akan ikut menentukan daya saing industri ke depan.
![]() |
| Ketua Presidium ISWA Jimmy Chandra membahas posisi Jawa Timur dalam industri kayu Indonesia dalam Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya. |
“Jawa Timur sama Jawa Tengah. Saya rasa kontribusinya lebih kurang itu 60–70 persen,” kata Jimmy saat ditemui dalam Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya, Kamis (13/8/2026).
Jimmy menjelaskan, Jawa Timur bahkan dinilainya memiliki industri yang lebih besar, sementara Jawa Tengah juga mempunyai jumlah pemain yang banyak. Salah satu faktor yang membuat Jawa Tengah berkembang adalah keberadaan Pelabuhan Semarang yang memudahkan pasokan kayu dari berbagai wilayah, termasuk Kalimantan.
“Kalau di Jawa Tengah itu banyak, karena dekat pelabuhan. Semarang itu banyak pelabuhan, dari seluruh Kalimantan bisa kayunya ke sana. Jadi kayunya banyak, otomatis industrinya banyak,” ujarnya.
Sementara Jawa Timur memiliki latar belakang berbeda. Menurut Jimmy, provinsi ini sejak lama dikenal sebagai salah satu wilayah dengan banyak pengusaha besar. Kondisi tersebut ikut membentuk ekosistem industri pengolahan kayu di Jawa Timur.
“Jawa Timur memang dari dulu tempatnya pengusaha besar,” katanya.
Sebaliknya, pengiriman bahan baku kayu ke wilayah yang lebih jauh seperti Jakarta dinilai memiliki konsekuensi biaya lebih tinggi. Jarak distribusi membuat biaya pengiriman kayu menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pelaku industri.
Di tengah posisi Jawa Timur sebagai salah satu basis industri kayu, sektor ini kini menghadapi tekanan dari pasar global yang sedang melemah. Jimmy mengatakan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan industri kayu di berbagai negara.
“Industri kayu itu memang pada seluruh dunia agak turun. Di dunia itu turun, bukan hanya di kita saja, nasional saja. Seluruh dunia lagi turun,” ujarnya.
Kondisi pasar tersebut membuat persoalan daya saing menjadi semakin penting. Jimmy menilai industri kayu Indonesia harus mampu menghasilkan produk yang lebih baik sekaligus meningkatkan kemampuan produksinya melalui teknologi.
Salah satu persoalan yang disinggungnya adalah biaya yang harus ditanggung industri. Jimmy menyebut pungutan atau pajak kayu di Indonesia saat ini lebih tinggi dibanding Malaysia. Ia memberi gambaran bahwa apabila Indonesia mengenakan pungutan sekitar 30 persen, Malaysia bisa berada di kisaran 20 persen, meski ia mengaku tidak mengetahui angka persisnya.
“Jadi persaingan kita kalah saingan. Saya tahu bahwa Indonesia lebih mahal daripada Malaysia,” kata Jimmy.
![]() |
| ISWA ungkap kekuatan industri kayu Jawa Timur |
Jimmy mengatakan pemerintah telah memiliki skema pengembalian sebagian biaya pembelian mesin bagi industri kecil dan menengah. Ia mencontohkan pembelian mesin senilai Rp100 juta dapat memperoleh pengembalian sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta setelah melalui pemeriksaan dan proses pengajuan.
Selain mesin, ISWA juga mendorong pelaku industri agar tidak tertinggal perkembangan teknologi. Menurut Jimmy, perkembangan teknologi pengolahan kayu harus diikuti agar produk Indonesia tetap mampu bersaing.
“Kalau memang teknologinya sudah sampai ke sana, kalau kita masih itu lagi, kita nanti ketinggalan kereta api,” ujarnya.
Persoalan bahan baku juga menjadi perhatian. Jimmy mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan jenis kayu yang sangat besar. Namun, tidak seluruh jenis kayu tersebut sudah dikenal luas oleh pasar.
Menurutnya, kayu Indonesia dapat dibagi antara well-known species dan less known species. Ia memperkirakan jenis kayu yang benar-benar sudah dikenal hanya sekitar 30 persen dari kayu hutan yang tersedia.
Karena itu, penggunaan kayu tanaman menjadi salah satu pilihan yang terus dikembangkan. Kayu tanaman atau short-rotation wood memiliki keunggulan karena dapat dipanen dalam waktu relatif lebih singkat, tetapi memiliki persoalan berupa usia yang lebih muda dan karakter kayu yang cenderung lunak.
ISWA bersama mitra dari IPB dan Prancis disebut telah mengembangkan teknologi pengolahan untuk meningkatkan daya tahan kayu tanaman tersebut. Jimmy menyebut teknologi itu memungkinkan kayu tanaman digunakan untuk kebutuhan luar ruang dengan masa pakai sekitar 20–25 tahun.
“Jadi kita sudah menciptakan satu kayu yang tahan di luar rumah itu bisa 20–25 tahun,” ujarnya.
Untuk penggunaan di dalam ruangan, Jimmy menyebut daya tahannya bahkan dapat mencapai lebih dari 50 tahun. Menurutnya, pengembangan teknologi semacam ini dapat membuka pilihan baru bagi industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kayu hutan dengan bahan baku yang memiliki siklus pertumbuhan lebih panjang.
Pembahasan mengenai teknologi tersebut menjadi bagian dari Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri furnitur dan pengolahan kayu, asosiasi, akademisi, penyedia teknologi serta pemangku kepentingan industri.
IFMAC & WOODMAC 2026 sendiri akan digelar pada 23–26 September 2026 di Hall B3 dan C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran tersebut menghadirkan mesin, teknologi produksi, material, komponen, aksesori, tools, solusi pemotongan hingga teknologi finishing untuk industri furnitur dan pengolahan kayu.
Bagi industri kayu Jawa Timur, tantangannya kini bukan lagi sekadar memiliki bahan baku dan banyak pelaku usaha. Ketika pasar global melemah dan persaingan dengan negara lain semakin ketat, kemampuan meningkatkan kualitas produksi serta efisiensi melalui teknologi akan ikut menentukan daya saing industri ke depan.


