Dari Rumah, Perempuan Gundih Hidupkan Batik dan Wisata Edukasi Surabaya

Perempuan Gundih Berdaya Lewat Batik, Kampung Ceria Kembangkan Wisata Edukasi di Surabaya
SUARAJATIM – Dari lingkungan kampung di Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, sekelompok perempuan mengembangkan batik sebagai jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga sekaligus menjaga budaya lokal.
Batik Tin Gundih Surabaya
Aktivitas membatik di Batik Tin Gundih, Kelurahan Gundih, Surabaya. UMKM yang dirintis para perempuan ini berkembang menjadi ruang produksi sekaligus wisata edukasi batik.
Semangat itu tumbuh melalui Batik Tin Gundih yang sejak berdiri pada Desember 2021 berkembang sebagai UMKM produksi batik sekaligus ruang wisata edukasi. Pengunjung dapat mengenal proses membatik secara langsung, termasuk belajar membuat batik bersama para pelaku UMKM di kampung tersebut.

Pengembangan Batik Tin Gundih mendapat dukungan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Dukungan tersebut dikemas dalam Srikandi Movement “Women Support Women”.

Program yang dilaksanakan pada Kamis (10/9/2026) itu diwujudkan melalui Pembinaan Kader dan Pengembangan Sarana Prasarana Wisata Edukasi Batik bagi UMKM Kampung Ceria Batik Tin Gundih.

Dukungan PLN mencakup sarana dan prasarana penunjang galeri, perbaikan fasilitas galeri, serta peralatan membatik dan menjahit berbasis elektrik. Fasilitas tersebut akan dikelola dan dimanfaatkan oleh Batik Tin Gundih untuk menunjang kegiatan produksi dan wisata edukasi.

Ketua Batik Tin Gundih, Purwanti, mengatakan perjalanan Batik Tin Gundih berawal dari keinginan para perempuan untuk berdaya dari rumah.

“Batik Tin Gundih dibangun dari mimpi sederhana para perempuan hebat yang ingin membantu ekonomi keluarga, melestarikan budaya, sekaligus membuktikan bahwa perempuan mampu berdaya dari rumah. Melalui tema Women Support Women, kami merasakan bagaimana mimpi tersebut mendapatkan dukungan nyata dari PLN,” ungkap Purwanti.

Bagi para pelaku UMKM, dukungan fasilitas menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan yang sudah berjalan. Peralatan produksi dapat menunjang kapasitas membatik dan menjahit, sementara pembenahan galeri diharapkan membuat aktivitas belajar membatik semakin nyaman bagi pengunjung.

Jadi Ruang Belajar Batik
Batik Tin Gundih kini memiliki peran yang lebih luas dibandingkan tempat produksi. Kampung tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal proses pembuatan batik dan memahami nilai budaya yang ada di balik setiap karya.

Lurah Gundih, Christiono, S.H., mengatakan Batik Tin Gundih juga telah menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan yang ingin mengenal batik Surabaya. Bahkan, wisatawan mancanegara pernah datang untuk belajar membatik secara langsung.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan TJSL PLN UIT JBM. Bantuan ini sangat berarti untuk mengembangkan dan melengkapi berbagai aspek di Batik Tin Gundih, sehingga wisatawan yang datang untuk berkunjung maupun belajar membatik dapat merasa lebih nyaman,” ujar Christiono.

Potensi tersebut menjadi alasan pengembangan sarana wisata edukasi menjadi bagian penting dalam program TJSL PLN UIT JBM. Dengan fasilitas yang lebih memadai, Batik Tin Gundih diharapkan dapat menerima pengunjung dengan lebih baik sekaligus memperluas kegiatan pembelajaran batik bagi masyarakat dan generasi muda.
Batik Tin Gundih di Kelurahan Gundih, Surabaya, berkembang sebagai UMKM sekaligus wisata edukasi batik yang memberdayakan perempuan dan melestarikan budaya lokal.
Senior Manager Perencanaan PLN UIT JBM sekaligus Champion Srikandi, Titi Murdiyati, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong perempuan agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Melalui program Srikandi Movement Women Support Women, PLN ingin mendorong perempuan agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki. Batik Tin Gundih memiliki potensi besar, tidak hanya dalam menghasilkan produk batik, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya bagi generasi muda,” ujarnya.

Menurut Titi, dukungan yang diberikan diharapkan dapat membantu Batik Tin Gundih terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Menjaga Batik Tetap Hidup di Kampung
Bagi Batik Tin Gundih, keberlanjutan usaha berjalan beriringan dengan upaya menjaga pengetahuan membatik tetap hidup di lingkungan masyarakat.

Kegiatan produksi menjadi sumber pengembangan ekonomi kreatif, sedangkan wisata edukasi membuka kesempatan bagi anak-anak, masyarakat, maupun wisatawan untuk melihat langsung proses pembuatan batik.

Model seperti ini membuat aktivitas membatik tidak berhenti pada menghasilkan produk. Pengetahuan mengenai motif, proses produksi, hingga nilai budaya yang terkandung dalam batik dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, mengatakan program TJSL PLN diharapkan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan.

“PLN berharap bantuan TJSL ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal serta berkelanjutan, sehingga semakin banyak masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, yang mendapatkan manfaat,” kata Ika.

Ia juga berharap Batik Tin Gundih dapat berkembang menjadi salah satu pusat edukasi batik di Surabaya.

Bagi Kampung Gundih, perkembangan Batik Tin menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan ekonomi yang tetap berakar pada potensi masyarakat dan budaya setempat. Perempuan mendapatkan ruang untuk berkarya, UMKM memiliki kesempatan berkembang, sementara generasi muda dapat mengenal batik melalui pengalaman secara langsung.

Dukungan PLN UIT JBM menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Ke depan, Batik Tin Gundih diharapkan semakin kuat sebagai tempat produksi sekaligus ruang belajar batik yang tumbuh bersama masyarakat Surabaya.
LihatTutupKomentar