Alamanda Shantika, mantan Vice President Gojek perintis sekolah digital gratisan


Suarajatim.com - Bagi pemerhati digital startup, nama Alamanda Shantika Santoso sudah sangat familiar. Bersama Nadiem Makarim, Alamanda merintis Go-Jek dari nol hingga bisa menjadi salah satu digital startup paling besar di Indonesia.

Saat berhasil mencapai karier tertinggi di Go-Jek sebagai Vice President Gojek, ia memilih meninggalkan dan fokus membangun ekosistem digital startup di nusantara.

“Kita harus mempunyai kesadaran sosial terhadap lingkungan. Kita harus membuka mata lebar-lebar. Lihat persoalan sekitar. Masih banyak juga yang tidak melihat persoalan-persoalan itu. Lalu, mau untuk melakukan perubahan,” tandasnya.

Ala – demikian ia biasa disapa – adalah sosok langka dengan capaian luar biasa di bidang digital startup.

Pendorong kuat dari upayanya mencapai semua itu ternyata bermula dari kondisi saat ayahnya Hary Surjono Santoso terserang stroke di usia 45 tahun. Yang membuat kehidupan keluarganya berubah drastis.

”Dulu sebelum papa sakit, aku mau minta apapun bisa! Tapi sejak itu aku harus mencari uang untuk diriku sendiri. Pokoknya aku kerja keras demi memenuhi kebutuhanku,” kisah Ala.

Ia pendam dalam-dalam mimpi kuliah di luar negeri yang sebelumnya sangat ia idam-idamkan. Karena perhitungan efektifitas waktu,  ia menempuh S1 di Jakarta di dua program studi sekaligus, yaitu Matematika dan Teknologi Informasi. ”Sebenarnya di saat bersamaan aku juga menempuh pendidikan desain tapi nggak sampai lulus,” ceritanya.

Belajar Matematika dan IT, menurut Alamanda, bisa membuatnya belajar lebih dalam tentang problem solving. Ketertarikannya untuk memecahkan masalah juga terlihat dari seringnya dia melakukan bongkar-pasang mobil mainan sewaktu kecil.

Alamanda memang memiliki mata yang jeli untuk mengidentifikasi persoalan dan menawarkan solusi. Sedangkan jiwa artistiknya melahirkan sisi humanis yang kelak sangat membantu dalam memahami karakter orang-orang yang bekerja dengannya.
foto2:twitter.alamanda

Tekad Ala, setelah lulus akan bekerja keras untuk mendapat gaji tinggi. Maka begitu lulus kuliah dengan gelar ganda, Ala langsung mencari kerja. Tempat pertamanya adalah Kartuku, sebuah perusahaan jasa pembayaran elektronik. Di sinilah ia mengenal Nadiem Makarim, bos Gojek yang ketika itu belum mengembangkan usahanya.
----
Suatu ketika Nadiem membujuknya turut serta mengembangkan Gojek. Singkat cerita, Ala yang mulanya hanya bersedia menjadi tenaga lepas, bekerja saat malam, akhirnya memutuskan bergabung secara penuh.

Ibundanya, Mona Gozal Santoso adalah salah satu yang sempat keberatan dengan keputusan Ala ini. ”Kamu yakin meninggalkan Kartuku untuk Gojek? Beneran mau urus tukang ojek” tanya ibundanya waktu itu.

Pilihan Ala ternyata tepat. Dalam waktu relatif singkat Gojek menjadi perusahaan yang berkembang begitu luar biasa.Ia yang berjasa membangun sumber daya tim didalamnya dengan cepat pula melonjak jabatannya, jadi Vice President. Seiring dengan itu materi pun melimpah.
  
”Sampai di satu titik aku bisa punya 2 mercy, bisa punya apapun yang dulu aku inginkan. Tapi setelah 2 minggu mercy masuk rumah kok biasa saja ya, tidak ada perasaan istimewa lagi. Gini doang puasnya,” ungkap Ala.

Setelah merenung, Ala menyadari, ”Ternyata yang harus kukejar bukan materi. Karena aku merasakan bahagia saat dekat dengan Rio, salah satu anak jalanan di perempatan Pondok Indah.”
Tentang kedekatannya dengan anak-anak jalanan Ala mengatakan warisan dari ayahnya. Sejak kecil ia kerap diajak ayahnya berbagi dengan mereka. Begitu dewasa, ia ketagihan melanjutkan aksi serupa. Pada Rio yang kini kelas 2 SMP ia juga membantu biaya pendidikannya.

”Sukses itu ternyata bukan tentang jabatan apa yang kita punya. Melainkan tentang seberapa banyak orang yang kita kasih impact, orang yang merasakan kegunaan kita di hidup mereka,” kata Ala mengajak merenung.

Melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang banyak itu pula yang membuatnya bahagia bekerja di Gojek. Apalagi saat mendengar curhatan penuh syukur dari para driver.
 
”Saat mendengar ada yang bilang, ’Mbak anakku sudah bisa sekolah sekarang.’ Itu rasanya luar biasa. Bahkan saat naik Gojek dan mereka mengenaliku, ada saja yang masih bilang terima kasih. Itu bahagianya melebihi punya mercy dan keliling dunia deh!” seru Ala.

Dengan pola pikir demikian, Ala punya style yang berbeda dengan para eksekutif muda kebanyakan. Ia tampil begitu sederhana.

”Beginilah gayaku. Kalau kamu sering ketemu aku pasti akan menyadari celanaku ini-ini saja, bajuku gini-gini aja. Soalnya pakai baju mahal juga rasanya sama saja. Jadi barang-barangku nggak ada yang lebih dari sejuta rupiah. At some point in my life bisa punya 2 mercy dari yang dulu hidup susah banget saat papaku stroke, itu luar biasa,” lanjutnya.
----
Ala tak menjadikan mimpi sekolah di luar negeri menjadi prioritas lagi sekarang, bahkan soal karier juga tak lagi menjadi obyek yang ingin diraihnya. Sebab dia sedang seru-serunya membangun sekolah gratis untuk kaum muda yang ingin berkarier atau menjadi pengusaha berbasis teknologi.

Diberi nama BINAR yang berarti sinar, sekolah gratis pertama telah dibuka di Yogyakarta awal tahun 2017. ”Tadinya memang pengin banget S2 ke Stanford ambil Neuro Science, itu pas mulai bekerja Gojek. Tapi sampai minta 3 kali tidak diberi izin oleh Nadim. Dia bilang kesempatan yang kamu punya sekarang mungkin tidak datang dua kali. Akhirnya aku baru sadar sekarang, aku pengin sekolah lagi terutama ke luar negeri itu hanya ambisi karena penyesalan terbesar dulu,” terangnya.

”Ternyata benar, kesempatan aku membuat BINAR memang sekarang. Mungkin kalau aku ambil Phd dulu dan 4 tahun di luar negeri, balik ke Indonesia sudah kehilangan momen. Jadi belum ada rencana ke sana lagi,” lanjut Ala panjang lebar.

Ala mencurahkan hampir semua tabungannya untuk BINAR. Selain sekolah gratis Ala menyebut BINAR adalah Social Business. Di dalamnya ada 4 start up, yakni academy, talent management, hacker space (co working) dan advisory.

Melalui advisory, Ala dan timnya menerima pekerjaan dari berbagai perusahaan, salah satunya Indosat. Bayaran dari perusahaan ini disalurkan sebagai beasiswa untuk para siswa di BINAR.

”Kami sepakat dari awal bahwa targetnya bukan hanya revenue saja, tetapi kita berangkat dari sosialnya; yakni berapa orang yang kita bantu. Targetnya tahun ini ada 5 ribu siswa yang lulus gratis dari BINAR. Baru setelah itu kita membicarakan revenue. Syukurnya semua sepakat dengan ini karena memang visinya sama,” tutur Ala yang bercita-cita menjadi Menteri Pendidikan.

Karena tak mau tersandera pihak tertentu, hingga saat ini Ala memutuskan tidak menerima investor. Soal bagaimana ke depannya ia mengaku masih galau.

”Dari awal aku pakai uangku sendiri. Tapi 3 bulan ke depan kita sudah punya revenue yang positif. Semua bisnisku seperti itu, harus segera mungkin profit buku hijau walaupun basicnya adalah sekolah gratis,” tegas wanita 28 tahun ini dan tengah menanti datangnya jodoh ini.//cw-sumber:wi
Share on Google Plus

About Suara Jatim

Suarajatim.com adalah portal berita yang memfokuskan sentra informasi tentang Jawa Timur dengan tidak menghilangkan topik-topik terhangat di lintasan nasional.