Mengenal Salafi dari Kacamata Warga Muhammadiyah, Persamaan dan Perbedaanya

muhammadiyah salafi
Ilustrasi. Foto oleh Pok Rie

Suarajatim.com - Ramai di jagat maya cuitan soal Salafi dan Muhammadiyah. Redaksi suarajatimcom mencoba menelusuri lebih lanjut dan menemukan beberapa pendapat dari warga dan pengurus Muhammadiyah. Sementara itu, tentang salafi, karena bukan sebuah organisasi melainkan kelompok yang mempunyai metode atau aliran cara peribadatan, kami belum mendapatkan narasumber yang bisa dianggap “resmi”.

Dirangkum dari tulisan Muhammad Utama Al Faruqi, Demisioner Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Arab Saudi 2017-2018, tentang wajah salafi:

Kelompok Salafi telah muncul dan berkembang di Indonesia sejak tahun 90-an hingga kini, menekankan pada pemahaman agama yang diyakini lebih murni sesuai dengan cara Salafus Shalih. Nashiruddin al-Albani dianggap sebagai tokoh penting bagi pengikutnya.

Mereka sering menambahkan label seperti as-Salafi atau al-Atsari pada diri mereka. Kelompok ini menggunakan internet dan media sosial secara masif untuk dakwah, sering kali tanpa kompromi dalam menyerang kelompok Islam lain seperti NU dan Muhammadiyah.

Salafi dikenal dengan penampilan khas mereka, termasuk pakaian yang mencerminkan ajaran agama, seperti celana cingkrang dan jenggot panjang bagi pria, serta cadar bagi wanita. Penampilan ini tidak hanya menjadi identitas tetapi juga menjadi dasar untuk interaksi sosial, di mana mereka cenderung selektif dalam berdialog dengan mereka yang dianggap tidak sejalan dengan penampilan mereka. Meskipun kelompok ini tidak terorganisir secara resmi, perilaku mereka sering kali terarah tetapi tidak selalu konsisten di antara anggotanya.

Meskipun kelompok Salafi menekankan aspek ibadah dan kesalehan sosial, sering kali mereka terlibat dalam konflik dengan kelompok lain dan menunjukkan sikap yang kurang inklusif terhadap perbedaan. Perhatian terhadap fenomena ini menjadi penting karena dakwah mereka semakin agresif, terutama dalam menyerang kelompok seperti Muhammadiyah, menandakan bahwa mereka merasa memiliki pengaruh yang kuat.

Sementara itu, dikutip dari cuitan Robby Karman, pemimpin umum dari redaksi kuliahalislam.com, dirinya menyampaikan beberapa persamaan dan perbedaan antara Salafi dan Muhammadiyah. Dalam utasnya, balasan netizen pun beragam:

Persamaan:
  1. Tidak tahlilan, yasinan, mahallul qiyam dan yang sejenisnya.
  2. Tidak tawassul dengan perantara orang saleh yang sudah meninggal.
  3. Tidak mengagungkan keturunan Nabi Muhammad SAW.
  4. Tidak mensunnahkan qunut subuh.
  5. Rakaat tarawih 8 plus 3 witir.
  6. Tidak mewajibkan mengikuti Mazhab fikih tertentu.
  7. Rokok hukumnya haram.


Perbedaan:
  1. Muhammadiyah tidak mengharamkan musik secara mutlak, salafi haram mutlak.
  2. Muhammadiyah tidak melarang isbal, salafi melarang.
  3. Muhammadiyah tidak menganjurkan perempuan mengenakan cadar, salafi menganjurkan.
  4. Muhammadiyah membolehkan peringatan maulid nabi, Isra mikraj, tahun baru Hijriyah. Salafi melarang.
  5. Muhammadiyah melakukan peringatan milad salafi melarang.
  6. Muhammadiyah menganjurkan berorganisasi, salafi melarang (belakangan beberapa asatidzah salafi masuk pengurus organisasi Al Irsyad, mungkin sudah berubah fatwanya).
  7. Muhammadiyah tidak mewajibkan memanjangkan jenggot, salafi mewajibkan.


Terakhir, dirangkum dari penjabaran Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto: Muhammadiyah, meski sering disamakan dengan gerakan Salafi, memiliki perbedaan signifikan dalam pemahaman agama dan sikap terhadap modernisasi serta budaya lokal. Muhammadiyah menerima kemajuan teknologi dan budaya Barat yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, sementara Salafi menolaknya dan cenderung mengacu pada budaya Arab.

Muhammadiyah juga menekankan pentingnya penggunaan akal dalam memahami teks agama dan membangun peradaban, sementara Salafi lebih cenderung pada pemahaman literal terhadap wahyu tanpa melibatkan akal. Perbedaan lainnya termasuk pandangan terhadap peran perempuan, pakaian, serta pendekatan terhadap seni dan hiburan, di mana Muhammadiyah lebih terbuka dan melihatnya sebagai potensi dakwah, sementara Salafi menganggapnya sebagai bid’ah dan haram.

Muhammadiyah menonjolkan keselarasan antara nilai-nilai Islam dengan realitas modernitas, menekankan peran akal dalam interpretasi agama, dan lebih inklusif terhadap perempuan serta beragam ekspresi seni. Sementara itu, Salafi menekankan pemahaman literal wahyu, menolak modernisasi dalam banyak aspek, dan mengadopsi pandangan konservatif terhadap peran perempuan serta seni dan hiburan. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan variasi dalam penafsiran dan praktik Islam yang ada di masyarakat.

Kesimpulan redaksi, kita dapat melihat bahwa meskipun terdapat persamaan dalam beberapa praktik ibadah, seperti penolakan terhadap tahlilan dan tawassul, namun terdapat perbedaan yang signifikan dalam pendekatan terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Salafi, dengan fokus pada pemahaman agama yang diyakini lebih murni, cenderung menunjukkan sikap kurang inklusif terhadap perbedaan dan terlibat dalam konflik dengan kelompok lain, sementara Muhammadiyah lebih terbuka terhadap variasi praktik keagamaan. Namun demikian, penutupan pemisah antara dua kelompok ini dapat memberikan kesempatan untuk penelitian lebih lanjut dan dialog yang lebih mendalam, dengan tujuan memperluas pemahaman dan meningkatkan toleransi antar umat beragama.(*)

Ikuti kami di GoogleNews
LihatTutupKomentar