SUARAJATIM – PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengubah arah penggunaan sebagian dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) guna menangkap lonjakan permintaan kemasan air minum dalam kemasan (AMDK), khususnya untuk ukuran galon 15 liter dan 19 liter.
Langkah tersebut telah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar bersamaan dengan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Surabaya. Sebelumnya, dana IPO direncanakan untuk mendukung produksi kemasan berukuran kecil. Namun perkembangan pasar mendorong perseroan melakukan penyesuaian strategi investasi.
Direktur Utama PT Asia Pramulia Tbk, Ricky Winoto, mengatakan permintaan kemasan AMDK berukuran besar terus menunjukkan peningkatan sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia hingga memasuki kuartal kedua 2026.
"Sesuai dengan RUPS luar biasa tadi, kami mengajukan perubahan penggunaan dana IPO. Yang awalnya fokus untuk botol-botol ukuran kecil, kami melihat kebutuhan packaging untuk AMDK ukuran 15 liter dan 19 liter meningkat cukup tinggi," ujar Ricky.
Menurutnya, perubahan alokasi dana tersebut akan digunakan untuk pembelian mesin produksi baru dan penambahan fasilitas pendukung yang berkaitan dengan produksi kemasan galon berukuran besar.
Perseroan menilai peluang di sektor AMDK masih sangat menjanjikan. Berdasarkan data penjualan perusahaan, kontribusi segmen kemasan minuman terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, segmen ini menyumbang 29,09 persen dari total penjualan, naik menjadi 40,9 persen pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 43,79 persen pada 2025.
Peningkatan tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk memperkuat kapasitas produksi melalui investasi baru.
"Berdasarkan analisa internal, peningkatan permintaan yang cukup signifikan terjadi pada segmen AMDK. Karena itu kami melakukan investasi pada mesin-mesin produksi untuk membuat galon air, terutama ukuran 15 liter dan 19 liter," katanya.
ASPR bahkan telah menyiapkan fasilitas produksi khusus di Pasuruan untuk melayani kebutuhan pelanggan di sektor AMDK yang terus berkembang.
Ricky mengungkapkan hampir seluruh mesin produksi yang saat ini beroperasi telah bekerja pada tingkat utilisasi maksimal.
"Mesin yang lain sekarang sudah 100 persen terutilisasi. Setelah RUPS ini kami akan melakukan investasi-investasi yang mengarah ke sana, termasuk pembelian mesin untuk pembuatan preform dan menambah kapasitas produksi Asia Pramulia," ujarnya.
Optimisme perusahaan terhadap segmen AMDK juga didorong oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat serta bermunculannya berbagai merek baru di industri air minum kemasan.
"Kami melihat banyak brand baru maupun brand besar yang meluncurkan produk air minum kemasan. Ini menjadi peluang bagi kami sebagai produsen kemasan untuk memenuhi kebutuhan mereka," kata Ricky.
Dalam public expose, manajemen juga menyampaikan target pertumbuhan bisnis tahun ini tetap berada pada jalur positif. Perseroan memproyeksikan kinerja dapat tumbuh sekitar 20 hingga 30 persen sepanjang 2026, ditopang peningkatan permintaan dari sektor AMDK.
Hingga kuartal pertama 2026, ASPR membukukan pendapatan sebesar Rp78,29 miliar atau tumbuh 27,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba tahun berjalan tercatat mencapai Rp3,03 miliar.
![]() |
| Direktur Utama PT Asia Pramulia Tbk Ricky Winoto bersama jajaran direksi memaparkan strategi ekspansi kapasitas produksi untuk menangkap pertumbuhan pasar AMDK. |
Direktur Utama PT Asia Pramulia Tbk, Ricky Winoto, mengatakan permintaan kemasan AMDK berukuran besar terus menunjukkan peningkatan sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia hingga memasuki kuartal kedua 2026.
"Sesuai dengan RUPS luar biasa tadi, kami mengajukan perubahan penggunaan dana IPO. Yang awalnya fokus untuk botol-botol ukuran kecil, kami melihat kebutuhan packaging untuk AMDK ukuran 15 liter dan 19 liter meningkat cukup tinggi," ujar Ricky.
Menurutnya, perubahan alokasi dana tersebut akan digunakan untuk pembelian mesin produksi baru dan penambahan fasilitas pendukung yang berkaitan dengan produksi kemasan galon berukuran besar.
Perseroan menilai peluang di sektor AMDK masih sangat menjanjikan. Berdasarkan data penjualan perusahaan, kontribusi segmen kemasan minuman terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, segmen ini menyumbang 29,09 persen dari total penjualan, naik menjadi 40,9 persen pada 2024 dan kembali meningkat menjadi 43,79 persen pada 2025.
Peningkatan tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk memperkuat kapasitas produksi melalui investasi baru.
"Berdasarkan analisa internal, peningkatan permintaan yang cukup signifikan terjadi pada segmen AMDK. Karena itu kami melakukan investasi pada mesin-mesin produksi untuk membuat galon air, terutama ukuran 15 liter dan 19 liter," katanya.
ASPR bahkan telah menyiapkan fasilitas produksi khusus di Pasuruan untuk melayani kebutuhan pelanggan di sektor AMDK yang terus berkembang.
Ricky mengungkapkan hampir seluruh mesin produksi yang saat ini beroperasi telah bekerja pada tingkat utilisasi maksimal.
"Mesin yang lain sekarang sudah 100 persen terutilisasi. Setelah RUPS ini kami akan melakukan investasi-investasi yang mengarah ke sana, termasuk pembelian mesin untuk pembuatan preform dan menambah kapasitas produksi Asia Pramulia," ujarnya.
Optimisme perusahaan terhadap segmen AMDK juga didorong oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat serta bermunculannya berbagai merek baru di industri air minum kemasan.
"Kami melihat banyak brand baru maupun brand besar yang meluncurkan produk air minum kemasan. Ini menjadi peluang bagi kami sebagai produsen kemasan untuk memenuhi kebutuhan mereka," kata Ricky.
Dalam public expose, manajemen juga menyampaikan target pertumbuhan bisnis tahun ini tetap berada pada jalur positif. Perseroan memproyeksikan kinerja dapat tumbuh sekitar 20 hingga 30 persen sepanjang 2026, ditopang peningkatan permintaan dari sektor AMDK.
Hingga kuartal pertama 2026, ASPR membukukan pendapatan sebesar Rp78,29 miliar atau tumbuh 27,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba tahun berjalan tercatat mencapai Rp3,03 miliar.

