Putri Kebaya Jatim 2026 Ajak Gen Z Tak Kehilangan Akar Budaya

Di Tengah Tren Fast Fashion, Putri Kebaya Jatim 2026 Ajak Gen Z Tak Kehilangan Akar Budaya
SUARAJATIM – Tren fast fashion membuat model pakaian berganti semakin cepat. Di tengah perubahan tersebut, busana tradisional menghadapi tantangan untuk tetap relevan, terutama di kalangan generasi muda.
Putri Kebaya Jawa Timur 2026
Putri Kebaya Jawa Timur 2026 Bianglala Merah Kalyanismara mengajak generasi muda tetap mengenal kebaya di tengah tren fast fashion.
Persoalan itu menjadi perhatian Bianglala Merah Kalyanismara (19), yang terpilih sebagai Putri Kebaya Jawa Timur 2026 dalam ajang pemilihan yang digelar 19 September 2026.

Bagi Bianglala, atau yang akrab disapa Kayla, gelar Putri Kebaya Jawa Timur membawa tanggung jawab untuk memperkenalkan kebaya kepada generasi muda dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Menurut Kayla, kebaya tidak sebatas pakaian tradisional. Di dalamnya terdapat identitas budaya, kreativitas, keterampilan, material, serta pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Menjadi Putri Kebaya itu membawa tanggung jawab untuk membawa kebaya lebih dekat dengan generasi muda,” ujar Kayla.

Ia berharap kebaya tidak berhenti sebagai busana yang hanya dikenakan pada acara tertentu. Menurutnya, generasi muda perlu melihat kebaya sebagai salah satu pilihan busana yang dapat hadir dalam keseharian.

“Kebaya jangan sampai hanya dikenal sebagai pakaian yang dipakai ketika ada acara tertentu. Anak muda harus merasa bahwa kebaya juga bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka,” katanya.

Kayla menilai penggunaan kebaya juga tidak harus berhadapan dengan perkembangan dunia mode. Kreativitas generasi muda justru dapat membuka ruang agar kebaya tampil dalam bentuk yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Ia berharap kebaya tidak ditempatkan semata-mata sebagai simbol masa lalu yang harus dipertahankan dalam bentuk kaku. Kebaya, menurutnya, tetap dapat berkembang mengikuti kreativitas generasi baru selama nilai budaya yang melekat di dalamnya tetap dipahami.

“Modern dan mencintai budaya sendiri bukan dua hal yang bertentangan. Kita bisa mengikuti zaman tanpa kehilangan akar,” terangnya.
LihatTutupKomentar