Di Balik Atraksi Mengerikan Tatung, Daya Pikat Utama Pawai Cap Go Meh

Suarajatim.com - Pawai tatung menjadi hal unik yang ditunggu-tunggu pada perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat.

Lebih dari 500 tatung berparade sambil memamerkan kesaktiannya. Menusuk bagian beberapa bagian tubuhnya dengan benda-benda tajam. Kolosal dan benar-benar sangat unik.

Tatung merupakan sosok manusia yang menurut beberapa kepercayaan sedang dirasuki roh dewa. Kata 'tatung' sendiri diberasal dari bahasa Hakka, yang berarti roh dewa, lalu diserap menjadi bahasa masyarakat lokal.

"Tatung memang asalnya dari salah satu kebudayaan Tionghoa, dibawa kesini berbaur dengan budaya lokal. Kalau di Singkawang ada dayak yang jadi tuan rumahnya," ujar Ajung (58) yang merupakan salah satu tetua masyarakat Tionghoa Singkawang.

Ajung, bernama lengkap Bong Khin Jung yang juga merupakan pewaris ‘ilmu’ tatung di Singkawang menjelaskan bagaimana prosesi tatung tersebut bisa terjadi.

Ia menerangkan, prosesi dimulai dengan ritual puasa dari makanan daging alias vegetarian. Puasa daging tersebut dilakukan pada tanggal satu dan 15 setiap bulannya pada penanggalan China.

Konon jika seorang yang memiliki potensi tatung tetap makan daging di tanggal tersebut akan celaka saat memeragakan keahlian. Berdarah misalnya.

"Ya, bisa celaka pas keluar (menjadi tatung). Tapi itu si hanya ajaran yang ditekuni saja, percuma juga kalau jiwa dan hati kitanya tidak suci, tidak bersih," ujarnya.

Setelah rutin puasa tersebut, di pagi hari saat Cap Go Meh mereka akan melakukan ibadah khusus di tempatnya masing-masing. Seperti di pekong untuk konghucu dan tempat ibadah dayak untuk suku dayak sendiri.

Dari sana, mereka dibawa menuju panggung kehormatan Cap Go Meh dengan kondisi sudah ditusuk benda tajam. Selama orang tersebut menjadi tatung harus tetap didampingi mediatornya. Fungsinya untuk berkomunikasi dengan roh yang merasukinya.

"Ada atau tidak ada, ikut atau tidak ikut festival, orang yang punya keahlian tatung pasti terisi pada tanggalan Cap Go Meh. Sebagian besar turunan," ujarnya.

Dewa yang ada di dalam tatung bisa keluar masuk kapanpun ia mau saat perayaan tersebut. Biasanya, seorang tatung sudah mengetahui jika dewanya ingin keluar, jadi mereka harus turun  dari tandu dan melepaskan benda-benda tajam yang menusuki tubuhnya.

"Sebanyak apapun tatungnya, menjelang dzuhur itu pasti sudah keluar dari orangnya lagi. Kalau belum sampai lokasi akhir, mereka akan tetap melaksanakan pawai tapi tak diatas tandunya, melainkan jalan dan sudah menjadi manusia biasa," ujar Ajung.
Proses tahapan tersebut terus berulang dari tahun ke tahun dan generasi ke generasi.

Tatung memang merupakan kebudayaan Tionghoa, tetapi kini sudah menjadi kearifan lokal beberapa etnis masyarakat di Singkawang dan beberapa kota lainnya. Tatung juga telah menjadi aset kekayaan budaya Indonesia.//cw
Share on Google Plus

About Suara Jatim

Suarajatim.com adalah portal berita yang memfokuskan sentra informasi tentang Jawa Timur dengan tidak menghilangkan topik-topik terhangat di lintasan nasional.