Jangan Asal Klik! ASABRI dan OJK Bongkar Modus Penipuan Digital di Malang

SUARAJATIM – Penipuan digital semakin beragam. Pelaku tidak lagi sekadar mengandalkan pesan mencurigakan, tetapi juga dapat menyamar sebagai petugas institusi resmi hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk meyakinkan calon korban.
ASABRI OJK Malang
ASABRI dan OJK menggelar edukasi literasi keuangan bagi peserta ASABRI di Malang
Kondisi tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam Program Pelatihan Pengelolaan Uang dan Dana Investasi (PUNDI) yang digelar PT ASABRI (Persero) Kantor Cabang Malang bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang bagi peserta ASABRI di Kesdam V/Brawijaya.

Kegiatan tersebut membahas pengelolaan keuangan, investasi, keamanan data pribadi, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang berkembang di era digital. 

Materi dari OJK mencakup sejumlah modus yang perlu dikenali masyarakat. Di antaranya impersonation atau penyamaran sebagai pihak maupun institusi terpercaya, phishing, social engineering, fake SMS masking, pengambilalihan akun, penawaran investasi ilegal hingga pemalsuan bukti transfer dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

ASABRI juga mengingatkan peserta mengenai modus penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Salah satunya berupa pihak yang mengaku sebagai petugas ASABRI dan menghubungi peserta dengan alasan pembaruan aplikasi ASABRI STAR, ASABRI Mobile Apps, maupun alasan lainnya.

Modus lain dilakukan dengan mengarahkan peserta mengeklik tautan tertentu, mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi, mengisi data pribadi atau memberikan informasi rahasia seperti kode OTP, PIN, password dan data rekening.

Ada pula modus yang mengatasnamakan petugas pajak. Pelaku dapat mengaku hendak membantu urusan kewajiban pajak, pengembalian dana, pemutakhiran data atau administrasi perpajakan, kemudian mengarahkan korban memberikan data pribadi dan perbankan atau melakukan transaksi tertentu. 

Jangan Berikan OTP dan PIN
Kepala Kantor Cabang PT ASABRI (Persero) Malang, Deni Sondana, meminta peserta lebih cermat ketika menerima informasi melalui pesan maupun telepon, khususnya jika pihak yang menghubungi mengatasnamakan ASABRI atau instansi pemerintah.

“Kami mengimbau seluruh peserta ASABRI agar selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, terutama apabila mengatasnamakan ASABRI maupun instansi pemerintah. Jangan memberikan data pribadi, PIN, password, maupun kode OTP kepada pihak yang tidak dapat dipastikan identitas dan kewenangannya,” ujar Deni.

Menurut dia, informasi mencurigakan sebaiknya segera dikonfirmasi melalui kanal resmi ASABRI, termasuk dengan menghubungi kantor cabang. 

Senior Assistant Manager OJK Malang, Muhammad Azwar Anas, juga mengingatkan peserta agar tidak mudah percaya pada informasi hanya karena terlihat meyakinkan atau disampaikan oleh pihak yang mengaku berasal dari institusi resmi.

“Di era digital, masyarakat perlu semakin waspada karena modus penipuan berkembang semakin beragam. Jangan mudah percaya hanya karena informasi terlihat meyakinkan atau pihak yang menghubungi mengaku berasal dari institusi resmi,” kata Anas.
modus penipuan ASABRI
Peserta ASABRI mengikuti Program PUNDI di Malang
Ia meminta masyarakat memastikan legalitas dan kebenaran informasi melalui kanal resmi sebelum memberikan data, mengikuti instruksi atau melakukan transaksi. 

Kenali Prinsip 2L Sebelum Investasi
Dalam kegiatan tersebut, OJK turut memperkenalkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, yang dapat digunakan sebelum seseorang mengikuti suatu penawaran investasi.

Aspek legal dapat diperiksa dengan memastikan produk atau layanan mempunyai izin dari otoritas yang berwenang. Sementara aspek logis berkaitan dengan kewajaran keuntungan atau imbal hasil yang ditawarkan. 

Bagi peserta, materi tersebut menjadi bekal untuk menghadapi transaksi keuangan yang semakin banyak dilakukan melalui kanal digital.

Nova Rudhian Pradana Yudha, peserta ASABRI dari Kesdam V/Brawijaya, mengatakan kegiatan PUNDI membuatnya lebih memahami pengelolaan uang dan dana investasi sekaligus mengenali modus penipuan yang mengatasnamakan ASABRI maupun petugas pajak.

“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana mengelola uang dan dana investasi dengan lebih baik. Selain itu, kami juga diingatkan mengenai berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan ASABRI maupun petugas pajak,” ujar Nova. 

Nova menyebut informasi tersebut akan disampaikan kembali kepada keluarga dan rekan-rekannya agar kewaspadaan terhadap penipuan digital semakin luas.

Sekretaris Perusahaan PT ASABRI (Persero), Okki Jatnika, mengatakan Program PUNDI diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pengelolaan keuangan sekaligus potensi berbagai bentuk penipuan.

Program tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian financial literacy campaign bulan Dana Pensiun 2026 yang diinisiasi OJK. 

“Kemudahan akses terhadap layanan keuangan dan teknologi digital perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Karena itu, melalui Program PUNDI, ASABRI berupaya menghadirkan ruang edukasi yang membantu peserta memahami pengelolaan keuangan secara lebih bijak, mengenali berbagai risiko yang mungkin dihadapi, serta mengambil keputusan keuangan dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab,” ujar Okki.

Kegiatan PUNDI di Malang pada akhirnya menempatkan literasi keuangan dan keamanan data sebagai dua hal yang saling berkaitan. Peserta tidak hanya mendapat materi mengenai pengelolaan dana dan investasi, tetapi juga dibekali cara mengenali informasi mencurigakan sebelum memberikan data atau melakukan transaksi digital.
LihatTutupKomentar