Stroller Dilarang, Tapi Ada yang Boleh? Aturan Surabaya ISOPLUS Marathon Dipertanyakan

SUARAJATIM – Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 menyisakan persoalan di luar urusan catatan waktu dan jumlah peserta. Aturan penggunaan stroller menjadi bahan perdebatan setelah sejumlah peserta mengaku tidak diperbolehkan membawa stroller, sementara di media sosial beredar foto dan video peserta lain yang terlihat menggunakan stroller di lintasan.
aturan stroller ISOPLUS Marathon
Peserta menggunakan stroller dalam Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, ada yang menggendong anak saat lomba dan Klarifikasi panitia Surabaya ISOPLUS Marathon (Foto:tangkapan instagram)
Persoalan tersebut mencuat setelah penyelenggaraan Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 di kawasan Balai Kota Surabaya, Minggu (4/10/2026). Event yang memasuki tahun ketiga itu diikuti hampir 11.000 pelari dalam kategori Full Marathon, Half Marathon, 10K, 5K dan Kids Dash. 

Salah satu unggahan Instagram yang ramai mendapat respons memperlihatkan seorang perempuan mengenakan jersey ISOPLUS sambil mendorong stroller yang berisi anak dalam sebuah kategori lari.

Visual tersebut kemudian dibandingkan dengan pengalaman peserta lain yang mengaku tidak diperbolehkan membawa stroller.

Sejumlah komentar bahkan mempertanyakan mengapa peserta yang disebut sebagai Brand Ambassador (BA) ISOPLUS terlihat dapat menggunakan stroller, sementara peserta umum harus mengikuti larangan tersebut.

“Kalau nggak boleh dibawa, nggak boleh semua. Kalau ada yang boleh, semua juga harus boleh,” tulis salah satu pengguna Instagram dalam kolom komentar.

Komentar lain mempertanyakan penerapan aturan tersebut kepada peserta biasa.

“Enaknya BA boleh pakai stroller, peserta yang bayar nggak boleh pakai stroller,” tulis pengguna lainnya.

Ada Peserta yang Mengaku Harus Gendong Anak
Persoalan tidak berhenti pada perdebatan di satu unggahan.

Beberapa akun lain ikut mengangkat pengalaman peserta yang mengaku mengalami kendala membawa stroller saat lomba. Salah satu materi yang beredar menyebut seorang peserta telah mengantongi izin sejak pengambilan BIB, tetapi stroller tetap dihentikan ketika berada di lintasan.

Unggahan lain memperlihatkan seorang ibu yang akhirnya harus menggendong anaknya saat mengikuti lomba. Dalam materi tersebut disebutkan bahwa peserta tersebut mengalami kondisi berat pada kilometer terakhir dan harus membawa anak hingga mendekati garis finish.

Ada pula unggahan yang memperlihatkan stroller berada di sekitar area penyelenggaraan setelah kejadian tersebut.

Berbagai materi itu kemudian memperbesar pertanyaan publik: sejauh mana aturan stroller diterapkan secara seragam kepada peserta dan bagaimana mekanisme izin khusus diberlakukan?

Panitia Sebut Stroller Memang Dilarang
Di tengah ramainya perdebatan, akun resmi @isoplus7ion mengeluarkan klarifikasi.

Panitia menyatakan bahwa penggunaan stroller memang tidak diperbolehkan di dalam area perlombaan. Alasannya berkaitan dengan keselamatan seluruh peserta.

Namun, panitia juga menyebut terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan peserta mengajukan permohonan terlebih dahulu.

“Terkait penggunaan stroller bayi, ketentuan lomba tidak memperbolehkan penggunaan stroller di dalam area perlombaan demi menjaga keselamatan seluruh peserta. Untuk kondisi tertentu, permohonan dapat disampaikan melalui surat terlebih dahulu dalam waktu yang cukup, sehingga dapat dipertimbangkan oleh panitia sesuai dengan aspek keselamatan,” demikian keterangan panitia dalam unggahan Instagram.

Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam persoalan ini. Sebab, sejumlah komentar peserta justru mempertanyakan apakah mekanisme permohonan tersebut sudah disampaikan secara jelas kepada seluruh peserta sebelum lomba.

Salah satu pengguna Instagram secara langsung mempertanyakan apakah aturan tersebut memang telah diinformasikan sejak awal atau baru muncul setelah persoalan mengenai stroller ramai dibicarakan.

Pertanyaan Bukan Lagi Sekadar Soal Stroller
Jika mengacu pada klarifikasi panitia, larangan stroller sebenarnya berkaitan dengan aspek keselamatan lomba. Namun, keberadaan visual peserta yang terlihat menggunakan stroller membuat persoalan berkembang menjadi pertanyaan mengenai konsistensi penerapan aturan.

Apalagi terdapat peserta yang mengaku telah meminta izin, tetapi tetap mengalami kendala ketika berada di lintasan.

Di sisi lain, dari materi yang beredar di media sosial belum dapat dipastikan secara independen apakah peserta yang terlihat menggunakan stroller tersebut memperoleh izin khusus dari panitia atau memiliki kondisi lain yang masuk dalam pengecualian aturan.

Karena itu, persoalan yang muncul bukan semata-mata apakah stroller boleh atau tidak boleh digunakan.

Pertanyaan yang kini ramai dibicarakan adalah siapa yang dapat memperoleh pengecualian, bagaimana prosedurnya, kapan izin diberikan, dan apakah ketentuan tersebut berlaku dengan standar yang sama bagi seluruh peserta.

Cuaca Panas Membuat Isu Keselamatan Makin Sensitif
Persoalan stroller juga muncul dalam penyelenggaraan yang pada hari yang sama menghadapi perubahan kondisi cuaca cukup ekstrem.

Penyelenggara menggunakan indikator Wet Bulb Global Temperature (WBGT) untuk memantau kondisi selama lomba. Saat Marathon dimulai pukul 04.00 WIB, suhu tercatat 26,1 derajat Celsius dengan kelembapan 86,6 persen. Ketika kategori Half Marathon, 10K dan 5K dimulai, suhu berada di kisaran 23,1 derajat Celsius. 

Namun menjelang pukul 08.00 WIB, kondisi berubah. Race Director ISOPLUS Run Series 2026 Safrita Aryana menyebut angka WBGT meningkat tajam hingga membuat panitia menghentikan lomba demi keselamatan peserta.

“Kurang dari 10 menit, suhu melonjak ke 42-44 derajat celcius bahkan sampai ke 48 derajat celcius. Sehingga saya berkoordinasi dengan Running Doctors, dan Koordinator Medis, untuk keselamatan semuanya maka lomba kami hentikan,” ujar Safrita. 

Kondisi tersebut membuat alasan keselamatan yang disampaikan panitia terkait penggunaan stroller menjadi semakin relevan untuk diperjelas kepada peserta.

Panitia Minta Maaf
Dalam klarifikasinya, panitia juga meminta maaf kepada warga Surabaya atas dampak penyelenggaraan terhadap mobilitas pada Minggu pagi.

Panitia menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pengaturan rute, lalu lintas dan komunikasi kepada masyarakat untuk penyelenggaraan berikutnya.

“Kami sangat menghargai setiap masukan, dan perhatian yang disampaikan oleh masyarakat Surabaya yang telah memberikan tempat bagi kami. Kami bertanggung jawab untuk belajar agar menjadi lebih baik,” tulis panitia.

Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 sendiri mencatat peningkatan peserta dari sekitar 9.000 orang pada 2025 menjadi hampir 11.000 peserta tahun ini. Sebanyak 61,11 persen peserta berasal dari Surabaya dan 38,89 persen lainnya datang dari luar kota. 

Besarnya jumlah peserta membuat kejelasan regulasi menjadi bagian penting dalam sebuah lomba dengan ribuan pelari. Terlebih ketika terdapat ketentuan yang menyangkut keselamatan dan kondisi khusus peserta.

Untuk saat ini, yang telah disampaikan secara terbuka oleh panitia adalah stroller dilarang di area perlombaan, tetapi kondisi tertentu dapat diajukan melalui permohonan terlebih dahulu.

Sementara pertanyaan mengenai penerapan izin tersebut kepada peserta yang terlihat menggunakan stroller masih menjadi perbincangan di media sosial.
LihatTutupKomentar