Pembatasan Sosial Skala Besar, Dilema Sektor Pertanian dan Warga Pedesaan

Malang, Suarajatim.com - Presiden Jokowi mengumumkan status pembatasan sosial skala besar dan darurat kesehatan bagi seluruh wilayah NKRI (31/3). Fokus pemerintah adalah bagaimana menyelamatkan bangsa Indonesia dari pandemi virus corona yang penyebarannya semakin tinggi.


Seluruh daya dan upaya dikerahkan pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan dan dampak ekonomi yang timbul akibat pandemi corona tersebut. Tidak hanya Indonesia, hampir seluruh dunia pun menghadapi masalah yang sama.

Baca:  Jalan Kriminalisasi Bagi Petani Kecil Kini Makin Terbuka Lebar

Kita sangat prihatin bahwa pandemi virus corona ini adalah masalah hidup dan mati, akan tetapi kebutuhan dasar pangan seharusnya juga menjadi fokus kebijakan pemerintah atas kondisi PSBB ini karena apabila sektor pertanian mengalami penurunan aktivitas maka produksi pun akan turun.

Apalagi di tengah situasi global yang relatif sama bagaimana pemerintah menjamin ketahanan pangan ketika negara-negara langganan kita impor juga produksinya relatif turun.

Pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan, bagaimana wajah desa dan petani menghadapi masalah akibat kebijakan PSBB ini. Interaksi sosial di desa jauh lebih eksklusif dibandingkan kota, intensitas guyub, gotong royong dan musyawarah maupun budaya pertanian yang melekat di desa. Dari kacamata petani kebijakan PSBB ini adalah sesuatu yang sangat ekstrim.
PSBB Pembatasan Sosial Berskala Besar
Maret April adalah musim panen raya Nasional. Musim berikutnya adalah November-Desember yang jumlahnya tidak sebesar Maret-April. Mei-Oktober biasanya cadangan pangan kita diisi impor. Dengan kondisi seperti ini apa kita masih bisa impor mengingat negara lain juga mengalami hal yang sama? Foto:Eko Handoko
Silakan datang ke satu desa setiap orang kenal dengan seluruh penduduk desanya bahkan masih banyak yang bersaudara. Ini menunjukkan bahwa desa memiliki intensitas silaturahmi yang sangat tinggi.

Bagaimana PSBB atau social distancing ini dilakukan bila pertanian membutuhkan gotong-royong dan rapat desa atau rapat kelompok tani untuk saling membantu dalam proses menanam, memelihara sampai memanen?

Bagaimana mengimbau petani untuk memakai masker sedangkan sandal atau sepatu bahkan pakaian pun kadang tidak dipakai? Bagaimana menyembuhkan ketika fasilitas kesehatan di desa juga masih sangat minim?

Ironisnya akibat kesulitan ekonomi di perkotaan arus mudik pun bertambah cepat dari hari ke hari. Peluang penyebaran pandemi virus corona di desa pun akan semakin tinggi akibat aksi mudik ini. Sebagai masukan dan saran bagi pemerintah seyogyanya segera membuat formulasi khusus untuk sektor pertanian ini.

Karena tanpa makanan manusia pasti mati bahkan lebih mematikan dari pandemi virus corona. Petani sebagai ujung tombak produsen pangan harus di fasilitasi dan dijaga agar produksi pertanian tidak mengalami penurunan produktivitas pasca pandemi virus corona ini. Terutama sektor permodalan dan sarana produksi pertanian serta kesehatan petani adalah faktor penting untuk menjadi perhatian pemerintah.

Sektor permodalan selain KUR juga sebaiknya disiapkan pada bantuan langsung bibit, pupuk maupun bantuan langsung tunai agar petani siap untuk bekerja maksimal. Sektor kesehatan desa juga seyogyanya disiapkan dengan peralatan yang lebih lengkap juga ketersediaan tenaga medis di Puskesmas atau klinik kesehatan desa.

Dan yang terpenting adalah akses pemasaran produk pertanian juga terintegrasi dengan industri pengolahan dan distribusi yang menggunakan transportasi, semua bagian dari mata rantai agribisnis harus tetap terjaga ekosistem yang kondusif.

Budaya pertanian yang melekat guyub dan rapat desa ataupun kegiatan warga desa yang melibatkan banyak orang juga penting untuk dijaga, hanya akses masuk orang dari luar desa sebaiknya dijaga ketat sehingga penyebaran virus dapat dihindari.

Sebagai bangsa yang besar kita bersama-sama berdoa dan optimis serta tangguh dalam menghadapi situasi saat ini.Semoga pemerintah mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia sampai bencana pandemi virus corona ini berakhir.

Penulis:
Eko Handoko Hasian
Praktisi Pertanian
Mahasiswa Pascasarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang
LihatTutupKomentar