-->
close

UMKM Bali Terus Berinovasi untuk Datangkan Investor

investor umkm

Suarajatim.com - Proyek NSLIC/NSELRED bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjadi jembatan pertemuan antara para pelaku usaha dari Buleleng, Klungkung, dan Tabanan dengan para investor baik dari dalam maupun luar negeri.

Kegiatan bertajuk “Langkah Awal, Sinergi Besar” ini digelar selama dua hari di Bali merupakan kelanjutan atas tingginya antusiasme para investor dan stakeholder terhadap pertemuan bisnis lada Belitung pada Agustus 2021 lalu.

Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar dalam sambutannya menngatakan bahwa salah satu prioritas Kementerian Desa adalah pemulihan ekonomi pedesaan. Hal ini dilakukan melalui program Dana Desa yang tepat sasaran untuk pemberdayaan masyarakat dan dikelola secara mandiri melalui Padat Karya Tunai Desa (PKTD).

PKTD dilaksanakan dengan melibatkan warga desa terutama bagi yang kehilangan pekerjaan, keluarga miskin, Pekka (Perempuan Kepala Keluarga) serta kelompok marginal lainnya.

Gandeng Barista Tuna Netra, Menjadikan Desa Kekuatan Ekonomi Baru

“Sudah banyak inovasi pengembangan ekonomi desa yang lahir dan menjadi kekuatan desa. Inovasi-inovasi tersebut dijalankan melalui pemberdayaan dan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan perdesaan dari hulu ke hilir serta penguatan kelembagaan ekonomi desa yaitu BUMDesa/BUMDesma”, paparnya lebih lanjut.

Badan usaha milik desa, sebagian besar kepemilikan modalnya berasal dari desa tersebut. Untuk mendukung legalitas kelembagaan BUMDesa dan agar leluasa menjalankan usahanya, maka Pemerintah mengeluarkan UU No. 11/2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja.

UU tersebut akan memberi kemampuan BUMDesa menjalankan usaha operasional dan bertindak sebagai induk dari unit usaha yang berbadan hukum (sebagai Perusahaan Penanaman Modal).

Sehingga, BUMDesa adalah pintu untuk menjaga kemandirian ekonomi dan mengembangkan potensi ekonomi warga menuju Kebangkitan Desa.

Rizki Hamdani, Pemuda Pencetus Pertanian Zero Waste Peraih Astra Award

Pada prinsipnya BUMDesa tidak menekan usaha-usaha masyarakat desa yang sudah ada tetapi mengonsolidasi usaha warga desa. Tak hanya menjalankan peran ekonomi, BUMDesa melakukan peran sebagai penjaga aset warisan budaya desa.

“Melalui Pertemuan Bisnis hari ini, Kementerian Desa memperkuat kerja sama kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi ekonomi dan kelembagaan desa lokal. Dengan demikian, tujuan SDGs Desa dapat tercapai dalam hal Pertumbuhan Ekonomi Desa yang Berkeadilan (SDGs 6) dan Kemitraan Pembangunan Desa (SDGs 17)”, tutup Menteri Desa PDTT.

Pada pertemuan bisnis ini, NSLIC dan Kemendes PDTT turut mengajak Astra Internasional, Elevenia, BNI, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, UKM Mendunia, TaniHub, Tokopedia, SEA Group (Shopee) dan 12 investor lainnya untuk terjun langsung melihat produk-produk yang dihasilkan oleh  500an petani dan pengrajin yang tergabung dalam 25 kelompok usaha di Buleleng, Klungkung, dan Tabanan.

Ketiga daerah tersebut telah menerima dukungan teknis dari NSLIC melalui skema program Responsive Innovation Fund (RIF).

Karimun Tawarkan Kemudahan dan Keuntungan Investasi

Dari skema RIF ini lahr beberapa produk dari Nusa Penida di masa pandemi seperti Coconut Chips yang rasa caramel gula aren dan tepung mocaf (singkong) yang 100% halal dan sehat karena kadar indeks glikemiknya yang rendah, bebas gluten, dan kaya serat, kalsium dan fosfor.

Di Buleleng, pengrajin bambu berinovasi menciptakan produk-produk dengan desain baru yang sesuai dengan permintaan pasar.

Dari Tabanan ada Beras Organik Pertiwi dan Kopi Leak, lalu ada garam ‘Uyah’ Kusamba dan sabun Kella asal Klungkung, juga produk-produk dari Buleleng seperti kopi robusta Kejapa, mangga Amplem Sari, minyak kayu putih Prani, anggur laut Bali, dan buah strawberry beku.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Cameron MacKay mengapresiasi dan mendukung penuh upaya-upaya Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan usaha mikro dan kecil melalui program NSLIC yang didanai Kanada.

Alamanda Shantika, mantan Vice President Gojek perintis sekolah digital gratisan

“Program yang dijalankan telah memberikan hasil nyata untuk masyarakat lokal dan masyarakat lain di Indonesia, khususnya di Bali. Melalui pelatihan dan dukungan konsultasi teknis, petani lokal dan pemilik usaha dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas komoditas, diversifikasi produk, pengelolaan keuangan, keterampilan penjualan, dan bantuan untuk mendapatkan izin dan sertifikat yang diperlukan bahkan dalam menghadapi pandemi COVID-19”, jelasnya.

Duta Besar MacKay lanjut menjelaskan bahwa giat hari ini menandai langkah penting bagi usaha lokal untuk berkembang dan memperluas karena NSLIC telah memfasilitasi kerja sama dengan pengusaha besar yang tidak hanya membeli produk lokal, namun juga terus memberikan dukungan bagi usaha-usaha kecil bagaimana mengembangkan produk-produk dan bisnis mereka.

Ia mendorong para pemangku kepentingan yang hadir pada pertemuan hari ini untuk membantu usaha-usaha lokal ini untuk tidak hanya masuk ke pasar lokal dan domestic, namun dapat masuk ke pasar internasional.

Dalam acara Temu Bisnis tersebut, Pemerintah Kanada melalui Program NSLIC juga meluncurkan Buku Resep Tradisional Masyarakat Bali Aga Buleleng.

Selain bertujuan untuk melestarikan resep tradisional masyarakat Bali Aga yang belum pernah tercatat sebelumnya, buku juga bertujuan untuk mendukung kelompok - kelompok usaha perempuan di Buleleng untuk membangun usaha kulinernya guna meningkatkan pendapatan terutama di masa pandemi COVID19.

Hal ini sangat penting karena pandemi Covid19 sangat memukul sektor informal/sektor lain yang mempekerjakan banyak pekerja perempuan misalnya perdagangan, hotel, restoran dan jasa terutama di Provinsi Bali yang sangat bergantung pada pariwisata dan bisnis jasa terkait lainnya.

Buku ini juga digunakan sebagai alat promosi pangan lokal yang sehat dan terjangkau guna mengurangi angka stunting dan meningkatkan gizi ibu dan anak.

Hasil pertemuan ini, beberapa investor yang telah berkomitmen mengadakan kerja sama dengan pelaku UMKM, seperti Elevania yang akan bekerjasama dalam peningkatan akses pasar, BNI dalam dukungannya pada pendampingan dan pemberdayaan serta penyediaan produk layanan perbankan bagi UMKM, Paxel yang akan memfasilitasi akses distribusi pasar domestik dan internasional, UKM Mendunia pada pelatihan untuk mengekspor produk UMKM, dan PT. Usaha Perdagangan Indonesia yang membuka akses pasar produk hasil pelaku usaha tani secara berkelanjutan.

Astri Purnamasari, Director of Corporate Affairs TaniHub Group mengatakan pihaknya mendukung penuh kerja sama pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan unsur masyarakat dalam Program RIF di Bali ini.

“TaniHub Group melihat pentingnya pertanian dan perekonomian desa di Bali dibangun dengan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, agar petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjangkau pasar nasional dan global. TaniHub Group berharap dapat berperan aktif dalam penciptaan inovasi di kalangan perdesaan karena kami berangkat dari wirausaha sosial yang ingin membawa perubahan di ekosistem pertanian Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan pertemuan ini ditutup dengan kunjungan para investor ke beberapa lokasi UMKM untuk melihat produk dan berdiskusi secara langsung dengan perwakilan kelompok UMKM guna membahas peluang kerja sama berikutnya.(*)
LihatTutupKomentar